PANAS JAKARTA DI AKHIR FEBRUARI

 

Kami tidak mengingatnya lagi secara tepat, tanggal berapa kejadian-kejadian itu berlangsung. Yang hanya kami ingat, kira-kira itu pada akhir bulan Februari 1966, dimana semua mahasiswa yang pulang kampung untuk merayakan Idul Fitri 1385 H yang bertepatan dengan tanggal likuran Januari 1966 G, sudah semuanya kembali ke tempat kuliahnya masing-masing. Dan kegiatan para mahasiswa dalam memperjuangkan TRITURA terus semakin giat. Kemudian terdengar kabar, yang semula samar-samar, tetapi kemudian semakin jelas dan nyata bahwa dalam salah satu demonstrasi yang digelar di depan Istana telah gugur seorang mahasiswa dari Universitas Indonesia akibat tembakan dari aparat keamanan yang mengawal istana pada waktu itu, yaitu dari Resimen Cakrabirawa [kalau tidak salah memang sudah menggunakan huruf “C” dan bukannya “TJ”, walau EYD belum lahir] yang memang setia pada Bung Karno..

Rasa solidaritas dan belasungkawa kalangan mahasiswa Bandung ditunjukkan dengan menggelar pawai berkabung dan appel bersama di Taman Pahlawan Tjikutra, dimana selama berlangsungnya pawai seluruh peserta diam seribu bahasa [walau tak dijahit seperti peserta mogok makan yang menunut ganti rugi SUTET], pada hal biasanya para mahasiswa selalu meneriakkan slogan-slogan atau bernyanyi. Entah malam itu, atau semalam sesudahnya, ketika sudah mulai menyandarkan punggung di tempat tidur tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamar dimana kami tinggal, ternyata tidak lain adalah Nabiel Makarim [TA-ITB yang kemudian menjadi Menteri KLH pada pemerintahan Megawati], dengan membawa pesan “Ada perintah dari Pak Nas [yang dimaksud AH Nasution] untuk berangkat ke Jakarta, dan kita kumpul di SALMAN sekarang juga”.

Di rumah tinggal kami, selain tinggal beberapa mahasiswa ITB, juga banyak dari UNPAD [antara lain Baredwan bersaudara – Ridho Umar Baredwan beserta kakak dan adiknya], dan UNPAR yang kesemuanya berasal dari Surabaya. Dan di rumah sebelah, ada juga mahasiswa yang berasal dari Jakarta dan Cirebon, yang kesemuanya aktif dalam berbagai kegiatan mahasiswa yang berlangsung. Karena gang-gangnya sempit, oleh para senioren kita, kawasan itu di kenal sebagai Kasbah [mengikut pada Kasbah yang ada di Aljazair yang merupakan sarang pejuang kemerdekaan Aljazair]. Maka berangkatlah kami bertiga, saya – Nabiel dan Salim [FI-ITB] menuju ke SALMAN, dengan mampir dulu ke Sulanjana 24 [sebelah rektorat ITB] dimana Nabiel tinggal. Disitu kami teringat, bahwa kami tidak mengetahui apa yang akan terjadi di Jakarta nanti, dan sesungguhnya kita pasrah akan apa yang terjadi. Karena itu, kami sepakat untuk menulis surat ke orang tua masing-masing, untuk mohon pamit dan doa restu. Surat itu akan kami titipkan ke teman-teman yang masih ada di rumah, maka kembalilah kami berjalan ke Kasbah yang terletak di Dago depan Lab Kedokteran UNPAD.

Sesampainya disana, ternyata teman-teman yang dari UNPAD pun sudah tidak ada dirumah. Sudah berangkat menuju ke kampus mereka. Surat kami titipkan kepada paman seseorang teman yang ada di rumah [yang kebetulan sedang berada di Bandung untuk berdagang], dan malah disangoni olehnya, sebagai ujud partisipasinya dalam memperjuangkan TRITURA. [Dimasa tuanya Luthfi Bayasut ini membuka Rumah Makan MADINAH di daerah Ampel, yang sangat terkenal dengan kambing oven-nya, yang sekarang diteruskan oleh anaknya]. Kami tidak ingat lagi, apakah bolak-balik ke rumah itu dengan naik oplet Dago atau jalan kaki. Mungkin sebagian naik oplet, dan sebagian jalan kaki.

Setelah melapor ke SALMAN, kemudian berkumpul di Aula Barat ITB, bergabung dengan mahasiswa yang sudah ada di sana. Disana telah banyak berkumpul teman-teman yang kebanyakan hanya kenal rupa, tetapi tidak mengenal nama secara pasti. Disana, kami dibagi dalam regu-regu yang masing-masing terdiri dari 10 orang dengan seorang kepala regu, dan duduk berbarais ke belakang menghadap ke arah selatan. Terlihat kesibukan luar biasa dari para pengurus Dewan Mahasiswa ITB dan tokoh-tokoh pergerakan lainnya. Yang kami ketahui, bahwa mereka sibuk mengatur pemberangkatan ke Jakarta, dan selalu mengevaluasi perkembangan situasi berdasarkan berita yang masuk. Perkembangan informasi disampaikan kepada seluruh mahasiswa, sehingga kami dapat mengetahui kenapa masih lama belum berangkat juga.

Semula, kami akan diberangkatkan dengan menggunakan bus milik ITB – yang berwarna biru muda itu -, sebagai mahasiswa yang melakukan peninjaun ke proyek CONEFO [yang sekarang jadi Gedung DPR-MPR. Bagi generasi sekarang, kata CONEFO ini mungkin tidak diketahui sebagai singkatan Conference of the New Emerging Forces yang digagas oleh Bung Karno untuk menyaingi PBB]. Surat keterangan dari Rektorat pun konon sudah siap dan bis sudah menunggu di halaman dekat Aula Barat. Dari sini kita bisa merasakan, bagaimana dukungan dari Pimpinan ITB dan segenap dosen atas kegiatan mahasiswa ini. Tetapi, sesaat kemudian. Setelah ada sebuah mobil VW Kodok [entah milik siapa], yang membawa kabar dari Jakarta tentang adanya aturan baru bahwa tidak boleh ada rombongan apapun yang memasuki Jakarta, dan bahwa semua perbatasan masuk ke Jakarta telah dijaga, terutama di Kelapa Dua, yang dijaga oleh pasukan keamanan – yang konon dikabarkan belum bersimpati dengan gerakan mahasiswa, maka situasi menjadi berubah. Kemudian kami akan diberangkatkan dengan menggunakan bus umum, dan akan menggunakan route Padalarang – Purwakarta – Bekasi, serta berpura-pura sebagai penumpang biasa [walau umurnya hampir seragam ya]. Dan tak begitu lama, datanglah beberapa bus umum, entah mengambil dari mana di malam hari begitu, dan pada masa itu hampir belum banyak kendaraan yang berjalan malam hari, terutama dalam situasi yang tak menentu seperti itu.

Setelah matahari terbit, selepas kota Purwakarta/Cikampek bus mengisi bensin, disalah satu pompa bensin. Walau tidak ada apa-apa, pikiran cukup tegang, terbayang kalau terjadi apa-apa dengan rombongan ini, misalnya ada pemeriksaan pihak keamanan dan sebagaimana. Sebagai petugas keamanan, mereka kan hanya mengikuti perintah atasan. Akhirnya sampailah di tepian dalam kota Jakarta, atau sudah mendekati kampus Universitas Indonesia, yang mana hal itu kuketahui karena semua penumpang bus bersorak-sorai dan kemudian diinstruksikan untuk mengibarkan bendera perguruan tinggi yang memang sengaja disiapkan dari Bandung. Selain bendera ITB, bendera perguruan tinggi lain juga dibawa serta. Walau dalam keadaan berkabung, suasana di kampus UI Salemba sudah ramai oleh kerumunan mahasiswa dan masyarakat lainnya. Turut menyambut bis kami, adalah orang yang selama ini hanya kukenal dari nama dan tandatangannya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia [PII] sampai tahun 1964, yaitu Thahir Shahabuddin,  yang dikenal oleh Salim, karena saudara-saudaranya [Ir Hamid Shahab – SI-ITB dan Gasim Shahab – FA-ITB] tinggal bersebelahan rumah di Kasbah.

 S

 Rombongan kami ‘mendapat kavling’ di selasar lantai 2 Gedung Utama Fakultas Kedokteran, pada sayap selatan [tahunya itu sayap selatan ya setelah kemudian tinggal di Jakarta pada tahun 1980-an]. Rombongan mahasiswa Bandung lainnya banyak kemudian yang menyusul dengan menggunakan berbagai sarana angkutan yang ada. Banyak pula yang menggunakan kereta api. Konon ada beberapa yang terkena “razzia” dan dipulangkan balik ke Bandung, dan yang bisa selamat sampai banyak pula. Ada yang dari Setasiun KA [Gambir atau Manggarai kali ya] ke Salemba harus berjalan kaki, karena berbagai alasan. Walau sama-sama dari Bandung, dan bahkan di Bandung nya serumah, tetapi di Kampus ini harus berpisah ‘kavling’ sesuai dengan pembagian regu pasukannya.

Seingatku itu adalah hari Jumat, dan  shalat Jumat akan dilakukan di salah satu bangunan yang berada di sebelah utara ‘kavling’ kami, tetapi masih dalam kompleks UI. Jamaah shalat Jumatnya sangat banyak, dan khotbah yang disampaikan membuat kami lebih bersemangat. Hadir pula pada saat itu, mereka yang tidak ikut shalat, tetapi akan melepas jenazah Arif Rahman Hakim. Tampak mobil berplat nomer putih dengan tulisan hitam CD 12-01, diantara mobil para pelayat yang masuk ke halaman tersebut.

Setiap saat ada teriakan “briefing”, kami berhamburan menuju kavling untuk menerima berbagai informasi dan instruksi mengenai perkembangan situasi dan apa yang harus kami lakukan. Kalau tidak salah, mengingat wajahnya, yang menjadi kepala regu kami adalah mas Sutopo [SI-ITB]. Instruksi yang kami terima, bahwa pada prosesi pemakaman Arif Rahman Hakim yang akan diselenggarakan siang itu, kami tidak turut serta ke Tanah Kusir tetapi tetap berada di Kampus UI. Tetapi kalau teriakannya “ada info”, itu berarti ada pembagian nasi bungkus. Entah dari siapa nasi bungkus itu dikirimkan, dan yang membuat kami semakin terharu [sampai kinipun ketika ingat masa itu, terutama ketika melewati jalan Salemba] adalah adanya sisipan  potongan kertas kecil bertuliskan “DEWI”. Masuknya “info” ini melalui pintu-pintu samping Kampus, bukan dari pintu utama yang selalu ditutup dan dijaga.

Kalau dari pintu depan dan sepanjang pagar, “info” berlainan. Berupa ikatan buah rambutan, yang diberikan oleh mereka yang bersimpati pada perjuangan mahasiswa waktu itu. Sering kami saksikan, seorang ibu beserta anak-anaknya memborong pedagang rambutan [dengan gerobak sepeda] yangsengaja mangkal di situ, dan kemudian ‘melemparkannya’ melewati pagar. Dan hal semacam itu, terus berlangsung hingga minggu berikutnya.

Mematuhi instruksi pimpinan, kami menyaksikan prosesi iring-iringan pemakaman hanya dari halaman dan teras Fakultas Kedokteran di Salemba saja. Kalaupun dibolehkan, barangkali saya pribadi memilih untuk tinggal di Kampus, bukannya tidak mau menghormati dan mengikuti prosesi pemakaman yang juga merupakan fardhu kifayah, tetapi karena tidak tahu medan. Jangankan jalan ke Tanah Kusir, jalan-jalan di sekitar Kampus Salemba pun tak tahu. Maklum orang udik. Dan kesempatan itu adalah ke Jakarta untuk yang kedua kalinya. Yang pertama waktu berlangsungnya Konferensi Islam Asia Afrika [KIAA], ketika diselenggarakan Rapat Akbar di Gelora Senayan, pada tahun 1965.

Sudah menjadi rahasia umum, dan pengetahuan di kalangan mahasiswa bahwa di kalangan Angkatan Bersenjata pada waktu itu, ada pihak yang mendukung dan ada pihak yang kurang atau tidak mendukung gerakan mahasiswa ini. Saat itu, beberapa kelompok pasukan mengadakan patroli di kota dengan menggunakan truk bak terbuka, khususnya melewati jalan Salemba depan Kampus UI ini. Kita bisa mengenali kesatuan mereka dari baret yang dikenakan. Yang banyak melakukan patroli, adalah yang berbaret merah kecoklatan, merah menyala, dan ijo royo-royo. Merah kecoklatan, dari kesatuan Cakrabirawa, merah menyala dari RPKAD [sekarang Kopassus] dan ijo royo-royo adalah pasukan Raiders dari Batalyon 330 Kodam VI SILIWANGI. Jika mereka melintas, kita menyambutnya dengan cara yang berbeda. Kalau yang melintas, warnanya merah-coklat, kita diam dulu sambil melihat ke arah jauh di belakangnya. Kalau tak ada warna merah atau hijau, maka kita biarkan mereka berlalu. Tetapi jika ada merah atau hijau, kita olok-olok mereka, dan ketika mereka memberhentikan truknya kita diam sambil menunggu mendekatnya si merah atau si hijau.  Kita olok-olok lagi, dan yang merah-coklat kemudian berjalan lagi, karena si hijau atau si merah berhenti pas dibelakangnya. Dasar anak-anak ya, tidak bisa diam.

 î

 Malampun tiba, dan kami semua masuk ke dalam gedung. Di tangga tergantung pada sebatang bambu sebuah jaket kuning dengan lambang makara UI yang berlumur darah. Seorang temanku yang tidak seregu [Muhammad Audah – TK-ITB] mengamati jaket kuning itu dengan teliti, dan kemudian menyampaikan kepada kita bahwa tak ada lubang pada jaket tersebut. Jaket kuning yang semula dikira milik Arif Rahman Hakim, rupanya bukan. Mungkin jaket dari yang memberikan pertolongan pertama kepadanya, sehingga bersimbah darah. Siapapun pemilik jaket kuning itu, bukanlah suatu masalah. Jaket itu adalah suatu bukti dari sebuah kesediaan berkorban yang tulus dalam suatu perjuangan. Dan jaket itu telah menggelorakan semangat berkorban bagi yang lain yang melihatnya. Dan juga memberikan inspirasi bagi para penyair untuk merangkum kata dan kalimat.

Disela-sela teriakan “info” ada juga teriakan “briefing”. Berbagai informasi yang kami terima dari pimpinan, bahwa kemungkinan akan ada penyerbuan dari kelompok tertentu ke Kampus UI, dan untuk mengantisipasinya kepada kami diinformasikan tentang jalan penyelamatan diri dan rencana konsolidasi kemudian. Karena saat itu yang berada di Kampus banyak tidak saling mengenal, dan kecil sekali kemungkinan untuk memberikan tanda pengenal yang mudah dilihat, maka kita diharuskan menyingsingkan salah satu kaki celana kita – yang berganti-ganti setiap saat. Kadang yang kiri disingsingkan, beberapa waktu ganti yang kanan. Untungnya tidak ada yang pakai celana pendek. Entah ide siapa, tetapi sangat cemerlang dikala kepepet seperti itu.

Jika pihak lawan tak mungkin dihadapi, maka jalur pelarian diri adalah ke arah Jalan Diponegoro, dan diinstruksikan untuk masuk ke halaman rumah besar yang ada Mushollah atau Masjid nya, yang konon adalah kediaman dinas Bapak LL RE Martadinata. Dan jangan sampai keliru masuk ke rumah yang mana, lupa saya. Ingatnya di sebelah kiri jalan, ada masjidnya. Karena pak LL RE Martadinata kan orang Bandung, dan jelas sikapnya ada dipihak mahasiswa. Jadi insya Allah selamat dan akan dilindungi. Mungkin juga para pimpinan mahasiswa sudah melakukan pendekatan ke beliau.

Di tengah kegalauan situasi, tiba-tiba terdengar berita yang paling menggegerkan, yaitu adanya larangan berkumpul lebih dari 5 orang dari pihak militer serta dibubarkannya Komite Aksi Mahasiswa Indonesia [KAMI] oleh pejabat yang berwenang. Entah siapa yang berada dibalik perintah larangan dan pembubaran tersebut. Tak selang beberapa lama setelah pengumuman itu, suara bergemuruh mulai terdengar. Ternyata jalan Salemba dan pertigaan jalan Diponegoro telah dipenuhi bukan lagi oleh truk, atau truk tangki melainkan  benar-benar oleh tank dengan prajurit yang berbaret hitam atau dari kesatuan kavaleri. Kita yang junior, tidak tahu pasti dipihak mana kesatuan yang telah mengelilingi Kampus UI dengan tank-tank berukuran besar itu [bukan panser atau PC alias personnel carrier]. Tidur atau lebih tepat tidur-tiduran yang beralaskan bantal tangan atau tumpukan pakaian yang dibawa, seringkali terbangunkan oleh berbagai briefing dan info yang terus mengalir. Tengah malam, rupanya komandan dari pasukan yang berada di luar memasuki kampus UI dan berkeliling melihat-lihat kavling kami.

Ternyata salah satu anak buah komandan kavaleri tersebut adalah tetangga kami di Bandung, seorang bintara yang sering bersama-sama ‘jaga malam’ setelah meletusnya peristiwa G30S-PKI beberapa bulan silam. Dan dialah yang mengenali kami lebih dahulu dan menyapa “Koq disini semua, kosong dong Dago”, dan selanjutnya dia menyampaikan bahwa yang diluar adalah pasukan dari Siliwangi yang sengaja diperintahkan oleh pak Ibrahim Ajie [Pangdam SILIWANGI] untuk menjaga anak-anak dari Bandung yang ada di Kampus UI. Dan dia meneruskan pembicaraan dengan “Tenang saja, tidur sampai pagi”. Setidaknya hal itu membuat kita-kita menjadi lebih tenang. Rupanya, para pimpinan mahasiswa yang di Kampus UI kala itu mengantisipasi hal-hal terburuk, mengingat di seberang jalan agak arah ke selatan adalah pusat konsentrasi pemuda yang tergabung dalam Pemuda Marhaen, yang bukan saja letaknya berseberangan tetapi juga pemikirannya berseberangan. Yaitu di daerah yang disebut gang Tegalan.

 R

 Pada malam itu juga kami menerima beberapa butir instruksi dari kepala regu kami, antara lain

  • Mencari tempat berteduh pada keluarga atau kenalan yang dipercaya, maksimum 3 orang dalam satu kelompok [agar tidak mengundang perhatian warga sekitar];
  • Menyerahkan alamat tempat tinggal sementara tersebut, agar dapat dihubungi bila ada sesuatu;
  • Selalu mendengarkan berita tentang perkembangan terakhir;
  • Jika dalam 3 [tiga] hari tidak ada kontak, harap keesokannya berusaha berkumpul kembali di Kampus UI guna konsolidasi.

Untunglah Salim Kuddeh – yang asal Pamekasan ini – memiliki keluarga dekat di Kampung Melayu, yang tidak begitu jauh dari Salemba dan kami bertiga [Salim, Nabiel dan saya], akan tinggal disana untuk beberapa hari mendatang.

Tibalah pagi hari yang sangat mengharukan, sebagai anti-klimaks dari suasana kemarin sore. Pagi itu selepas subuh sebelum matahari bersinar, kami berjalan tertunduk lesu dengan menyembunyikan semua identitas kemahasiswaan, dan ke ITB-an, melewati deretan tank-tank yang masih di parkir di tengah jalan Salemba, menuju ke arah selatan melewati Gang Tegalan menuju ke Kampung Melayu. Alhamdulillah sampai di tempat tujuan selamat, dan disambut dengan hangat oleh keluarga dekatnya Salim. Dan sesuai dengan instruksi, kami hanya tinggal di dalam rumah, sekalian membayar hutang kurang tidur selama dua malam terakhir, sambil mendengarkan berita dari radio yang ada. Keluarga yang ditinggali juga antusias mendengarkan cerita cerita kami seputar kegiatan para mahasiswa ini. Seingatku hanya sesudah maghrib kami pernah keluar untuk melihat sekeliling tempat tumpangan kami, melihat-lihat warung kaki lima di depan sebuah gedung bioskop, yang sudah tidak kuingat namanya.

 P

 Entah menuruti instruksi menunggu sampai tiga hari, atau malah sebelum tiga hari, kami kemudian mencoba untuk mengunjungi kembali Kampus UI. Dari Kampung Melayu, kami berjalan kaki menuju jalan besar ke arah Jatinegara, dan disana mencari kendaraan untuk ke Salemba. Kebetulan ada kendaraan sejenis pick up besar [atau kalau sekarang sekelas dengan truk ¾ istilahnya] milik militer dari kesatuan Kujang, dan kami ijin untuk liften. Diijinkan dan berhenti sampai Salemba. Ternyata disana sudah banyak teman-teman yang lain.

Ada beberapa kejadian berikut ini yang saya tidak ingat betul sekuen atau urutannya. Mungkin nanti ada teman lain yang bisa mengkoreksinya.

Entah siapa yang sudah mempersiapkan sebelumnya, ada acara untuk membawa patung kertas keliling kota dengan truk. Patungnya besar, siapa lagi kalau bukan patung Bung Karno. Patung itu dibawa keliling, walau hanya satu blok saja — , yang baru kuketahui kemudian setelah tinggal di Jakarta – bahwa route yang dilalui adalah Salemba, Raden Saleh, Cikini, Diponegoro dan kembali ke Salemba. Dalam perjalanan diserukan kepada masyarakat untuk mendengarkan radio yang dikelola oleh para mahasiswa pada gelombang tertentu. Beberapa waktu kemudian [setelah di Bandung kembali, ternyata foto dari pawai yang walau singkat ini menjadi cover dari majalah LIFE]. Kemudian patung tersebut diletakkan di halaman kampus UI Salemba. Boleh dikata yang melakukan kegiatan di kampus UI ini mayoritas adalah mahasiswa asal Bandung.

Tidak selang berapa lama, datanglah sepasukan yang dari baretnya dapat diketahui adalah dari kesatuan POLISI MILITER dan karena ada wing penerjun di dadanya, maka mereka adalah kesatuan Yon Para Pomad, suatu kesatuan yang baru dibentuk. Kalau istilah populernya sekarang, mungkin satu SSK. Komandannya, seorang perwira  yang masih muda memesuki halaman kampus dengan sopan diiringi dengan beberapa anak buahnya. Suasana tentu saja menjadi tegang, tetapi kemudian segera mencair setelah jaraknya semakin dekat. Beberapa kawan, terutama mas Choesnan Effendi dan teman-teman anggota Waditra Ganesha segera mengenali bahwa komandan tersebut adalah salah seorang yang pernah melatih drum band Waditra Ganesha [drum band ITB, dimana mas Choesnan manjadi mayoret-nya]. Jadi mereka sudah akrab sekali. Kalau tidak salah dialognya menggunakan bahasa Jawa Timuran. Dari perintah untuk menyita, setelah dinego bisa berubah menjadi dibakar saja, dan nanti akan dilaporkan bahwa patungnya sudah dibakar jadi tidak bisa ada yang disita. Sama-sama puas.

 O

 Briefing dan info sebagaimana yang terjadi pada masa sebelum pengosongan kampus, masih terus berlangsung. Bahkan karena banyak keluarga yang memborong rambutan, maka penjualnya pun bertambah banyak di depan kampus. Ternyata penjual rambutan yang banyak tersebut, tidak semuanya adalah penjual rambutan, tetapi banyak pula ‘penjual rambutan’. Yaitu mereka yang sehari-harinya mengenakan baret sewarna dengan warna rambutan [tapi bukan rambutan rapiah]. Hal itu terungkap dari penjelasan seorang perwira menengah yang berseragam lengkap [yang entah dari mana masuknya], berpangkat kalau tidak mayor ya overste, kan kolonelnya hanya satu di RPKAD, yang sedang mengamati situasi dari teras Fakultas Kedokteran. Dengan tenangnya beliau menyampaikan “Adik-adik tenang saja, yang menjual rambutan di pagar itu, sebagian adalah anak buah saya, yang dikeranjangnya sudah berisi AK-47”.

Suatu hari sesudah itu,  sedang diselenggarakan apel besar Barisan Soekarno [yang oleh kalangan kita disebut BASO] di Gelora Senayan, apalagi kalau bukan untuk mendukung kepemimpinan Bung Karno dan berseberangan dengan aksi para mahasiswa. Selepas dhuhur, ketika sudah bubaran dari Senayan ada beberapa truk yang dipenuhi oleh massa mereka melintasi depan Rumah Sakit Tjipto Mangunkusumo [sekarang RSCM] di Jalan Diponegoro melintasi sisi kanan kampus UI. Mereka meneriakkan yel-yel, yang kita sambut juga dengan yel-yel kita. Tentu saja, yel-yel nya berseberangan, dan entah siapa yang memulai kemudian melayanglah bebatuan menjatuhi sasaran empuk yang tidak bisa mengelak karena padatnya isi truk mereka. Apalagi jalan Diponegoro pada penggalan tersebut, saat itu masih dua arah [tidak seperti sekarang yang hanya searah dari barat ke timur], sehingga mereka berada pada sisi yang dekat dengan pagarnya kampus UI, dan lampu lalu lintas sedang menyala merah.

Merekapun melanjutkan perjalanan dengan berbelok ke kanan menjauh dari kawasan kampus UI. Entah lewatnya mereka di perbatasan kampus UI tersebut karena memang route kepulangan mereka atau memang sengaja memprovokasi kita-kita yang ada di kampus UI. Peristiwa ini, muncul sebagai salah satu pertanyaan dalam persidangan Mahmilub [Mahkamah Militer Luar Biasa] yang mengadili Dr. Soebandrio beberapa waktu kemudian.

Melihat situasi seperti itu, yaitu adanya kontak langsung pertama dengan massa yang berseberangan dari pihak lain, rupanya para pimpinan kita tidak tinggal diam. Sebuah mobil VW Combi masuk dari pintu belakang, dan berisi botol kosong bekas minuman [yang jelas bukan botol coca-cola atau teh botol, yang waktu itu belum lahir] dan beberapa waktu kemudian ada instruksi agar mahasiswa Kimia berkumpul. Ternyata disana sudah tersedia pula bensin dan perca. Tahulah maksudnya, mengapa anak-anak kimia yang dipanggil, mungkin karena sudah sering menuang cairan, jadi agar tidak banyak yang tumpah. Maksudnya tak lain adalah untuk memproduksi Molotov Cocktail, merujuk pada perjuangan mahasiswa di Yugoslavia akhir tahun 50-an ketika berusaha untuk melakukan reformasi, tetapi kemudian habis digilas oleh kekuatan komunis dari Rusia.

Karena jumlah Molotov Cocktail-nya terbatas, maka tidak semua orang mendapatkan jatah cocktail tersebut. Dan diaturlah prosedur penggunaannya. Satu group terdiri dari tiga orang, yang seorang bertugas membawa dan kemudian melemparkannya, yang seorang menyalakan dengan korek, dan yang seorang lagi melindungi mereka dengan menggunakan tutup kotak sampah kayu [yang ada di Fakultas Kedokteran]. Saya kebagian memegang tutup kotak sampah. Bukan dimaksudkan untuk menyerang, tetapi sekedar memperlambat laju serangan bila itu memang terjadi, sambil menunggu bantuan yang diharapkan. Rupanya feeling para pimpinan ini benar.

Tak berapa lama berselang, datanglah secara berduyun-duyun dari arah selatan [jalan Matraman] serombongan pemuda yang memenuhi lebar jalan tersebut dengan teriakan-teriakan. Tentu saja mereka sangat bersemangat, ibarat ‘aki yang baru dicas’ oleh pemimpinnya di Senayan. Entahlah, apa waktu itu jalan Matraman sudah selebar sekarang ini, atau masih lebih sempit. Kembali teriakan di balas dengan teriakan, dan lemparan batu di balas dengan lemparan batu. Salah seorang dari kalangan kita berteriak bahwa diantara mereka ada yang membawa senjata api, dan  agar kita bertiarap. Untung juga, jadi pelajaran Kemiliteran yang merupakan mata kuliah dengan dua SKS itu terpakai juga.

Hanya ada satu atau dua orang polisi lalu lintas yag mencoba menghalangi bertemuanya ‘dua laskar’ tersebut, mula-mula dengan berteriak dan kemudian dengan melepaskan tembakan ke udara. Entah sebenarnya apa yang terjadi, lalu kemudian mereka mundur. Dan entah pula, kemana itu ‘para penjual rambutan’ yang ada di pagar Salemba. Kami tidak sempat melihat kesana kemari, mata hanya tertuju ke jalan Matraman saja. Mungkin saja mereka bubar karena melihat ‘sesuatu’ di arah jalan Salemba, tetapi kita tidak melihatnya. Dan untunglah, cocktail yang sudah disiapkan, tidak sampai digunakan.

 A

 Para pimpinan kita sangat memperhatikan kesehatan kita semua. Suatu pagi ketika appel, kepada kita dibagikan berbagai vitamin dan sekedar uang jajan yang berbentuk uang baru yang formatnya kecil tetapi nilainya 1000 kali uang dengan format besar. Terima kasih kepada mereka yang memberikan perhatian. Semoga Allah swt membalas semua perbuatan mereka.

Hanya itu yang masih saya ingat tentang beberapa hari di akhir Februari 1966 di Kampus UI, Salemba, Jakarta. Saya tidak ingat lagi, bagaimana proses dan perjalanan kami kembali ke Bandung berlangsung. Mungkin karena sudah kelelahan.

 

Jakarta, 29 Januari 2006

Saifuddien Sjaaf Maskoen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: