AKSI CORAT CORET

 

Penyampaian pesan dari seseorang atau sekelompok orang bisa dilakukan dengan berbagai cara. Jika kepadanya jelas, bisa dilakukan dengan surat, telepon, silaturahim atau juga dengan email dan sms pada masa sekarang. Tetapi kalau tujuannya kepada masyarakat umum, tentu caranya akan berbeda. Bisa melalui iklan di media massa radio atau pamflet dan selebaran. Rupanya seperti itulah yang direncanakan akan dilakukan oleh para pemimpin mahasiswa di kala itu.

Kami tidak ingat kapan hal itu terjadi, tetapi pastinya di awal-awal masa demonstrasi di Bandung. Mungkin masih dalam tahun 1965 [akhir-akhir] atau awal-awal 1966 [tetapi sebelum akhir Februari]. Hari itu ada acara appel mahasiswa yang akan diselenggarakan di UNPAD. Entah mengapa waktu waktu itu lebih sering mahasiswa ITB datang ke UNPAD dari pada mahasiswa lain datang ke ITB. Beberapa orang dari kami, berada di mushollah SALMAN [bangunan semi permanen] sedang menuliskan pesan yang akan disampaikan melalui medium kertas stensil dengan menggunakan tinta [lupa] tetapi jelas bukan supidol. Rencananya kertas yang berisi pesan itu akan ditempelkan pada suatu aksi seusai appel bersama nanti.

Sedang asyik-asyiknya para mahasiswa menuliskan pesan, ada ‘komando’ untuk segera berangkat menuju UNPAD. Aksi-aksi pada waktu itu, sejauh apapun yang akan dijalani dilakukan dengan berjalan kaki, tidak ada penyediaan angkutan sebagaimana yang sering kita saksikan di tayangan televisi sekarang ini. Maka berangkatlah kami-kami sambil menenteng kertas-kertas yang sudah ditulisi, maupun yang masih dalam proses, dan tentu saja dengan persediaan lem untuk menempel. Rencananya pesan-pesan pernyataan atau himbauan itu akan ditempelkan pada mobil dan kendaraan yang akan lewat nantinya. Tetapi lain rencana lain pula yang terjadi kemudian.

Sesampainya rombongan di depan Rumah Sakit Borromeus, entah siapa yang punya gagasan, ada yang nyeletuk “bagaimana kalau ditempel sekarang saja, dari pada repot bawa, toh nanti akan ditempelkan juga”. Suatu pendapat yang sangat logis, dan tentu saja disambut dengan hangat oleh mereka yang sehari-harinya memang dituntut untuk selalu berpikir logis [kan mahasiswa ITB]. Tanpa berpikir akan dampak dan akibatnya, langsung saja ada yang mulai menempelkan di oplet Dago dan mobil-mobil [yang walau jumlahnya tidak terlalu banyak waktu itu]. Dan serta merta hal itu diikuti oleh yang lain. Dan rombongan ini menjadi terhenti di ruas jalan pertigaan Dago-Ganesha dengan Dago-Hasanuddin atau Tengku Umar yang ada di sebelah selatannya Ganesha [maaf, walau sering lewat tetapi tidak ingat nama jalan ini].

Rombongan mahasiswa ITB yang lewat belakangan, dengan sendirinya mengira itulah aksi yang akan dilakukan. Dan bergabunglah mereka beramai-ramai, tanpa tahu asbabun nuzul atau asal muasal penyebab kejadian. Dan konon begitulah sifat suatu ‘kerumunan’, ada satu saja yang ‘nyeletukkan sesuatu’ [istilah sekarangnya sangat keren, provokator atau aktor intelektual, jaman 1966 belum ada istilah semacam itu], maka itu akan menjadi sesuatu yang dilakukan, tanpa pikir panjang lagi oleh massa yang relatif lebih awam. Massa yang lebih diandalkan ‘okol’-nya dari pada ‘akal’-nya. Karena yang menempelkan kertas jumlahnya lebih banyak dari yang menuliskan di kertas, maka dengan sendirinya terjadi ketidak seimbangan antara konsumsi dan produksi. Dan tulisan pesan yang tadinya ditulis dengan rapih dan diupayakan sebagus mungkin agar bisa terbaca sesuai tujuannya semula, menjadi turun kualitasnya. Ditulis asal-asalan, karena tuntutan peningkatan produksi.

Ditengah kelangkaan kertas berisi pesan yang akan ditempel, entah dari mana datangnya, tiba tiba muncul seseorang dengan membawa beberapa kaleng cat lengkap dengan kuasnya. Dan seseorang yang lain, mengatakan “kenapa tidak kita tulis langsung saja di mobilnya”. Maka berubahlah, dari “aksi menempelkan kertas bertuliskan pesan di mobil”, menjadi “aksi menulis pesan langsung di mobil” dengan cat lagi. Sudah terjadi distorsi lagi.

Karena perasaan senasib, mobil yang ditulisi pesan masih dipilih-pilih. Seingatku hanya mobil bagus saja yang dijadikan sasaran, sedangkan mobil oplet Dago-Setasiun tidak dijadikan sasaran. Dan menuliskannya, pada awalnya bukan pada bodi mobil, tetapi hanya di kacanya – agar masih mudah membersihkannya nanti. Karena tahu ada sesuatu di depan, apalagi melihat mobil dari arah berlawanan sudah tertulis pesan di kaca depan/belakang, maka mulailah ada mobil-mobil yang memutar balik arah [saat itu jalan Dago belum dibagi dua, jadi masih bisa memutar dimana saja dan kapan saja].

Melihat ‘mangsa’-nya berkurang, para mahasiswa melebarkan daerah operasinya sampai ke perempatan Cikapayang-Dipati Ukur [bawah]-Surapati. Dan tentu saja makin banyak mobil yang jadi ‘mangsa’. Bahkan meluas sampai ke badan mobil. Yang paling ‘bergembira’ adalah bila menemukan mobil berplat nomer B, dengan alasan “agar pesan kita sampai ke Jakarta nanti”, apalagi kalau yang mengendarainya adalah ibu-ibu yang nyetir sendiri.

Entah bagaimana akhirnya. Mungkin appel yang di UNPAD tidak jadi dihadiri mahasiswa dari ITB, karena kesemuanya ‘tersedot’ oleh aksi yang terlahir prematur dari yang direncanakan tersebut. Dan kalau massa sudah jadi ‘liar tak terkendali’, para pemimpin sudah sulit untuk bisa mengembalikannya ke arah yang seharusnya. Kaidah thermodinamika, yang mengatakan “proses hanya dapat berlangsung dengan sendirinya bila entropi sistemnya naik atau meningkat” rupanya berlaku juga untuk ‘barang hidup’ seperti manusia, tidak hanya berlaku untuk ‘barang mati’ saja. Dan kita tahu, sistem yang entropinya meningkat, itu berada pada tingkat ketidak-teraturan yang lebih tinggi. Atau dengan kata yang lebih mudah difahami, bisa dikatakan “untuk menjadi lebih tidak teratur, itu tidak usah diatur atau diupayakan, bisa jalan sendiri”.

Wa Allahu a’lam.

 

[suatu renungan atas kejadian nyata dimasa 40 tahun silam]

4 Januari 2006

Saifuddien Sjaaf Maskoen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: