PANGANAN IDER 06

Tahu, merupakan suatu produk kedele dan diolah berdasarkan resep China, dan sudah menjadi bagian utama dari menu makanan kita. Juga menjadi bagian dari berbagai resep makanan sehari-hari. Ada juga, makanan yang menggunakan subyek tahu, pada hal hanya merupakan bagian kecil saja dari komposisinya, yaitu tahu campur. Coba periksa komposisinya, ada mie, taoge, sayur, begedel puhung, kerupuk, daging kotot, tahunya sendiri hanya beberapa iris tipis, sebanding dengan begedel pohongnya. Kenapa namanya jadi tahu campur? Keenakannya tahu campur, sangat ditentukan oleh dagingnya, kuahnya, dan petisnya. Dan yang paling dikenal disana, setidaknya dikenal luas, adalah tahu campurnya Pasno. Dikala mudanya berdagang keliling, dan dihari tuanya manggon di Karangpoh.

Cukup dikenal, karena memiliki pelanggan di area yang lazim merupakan daerah penjajaan makanan. Begitu juga dengan Sampan [nama orang lho], yang dagangannya tahu gunting, tahu tek [apa sih namanya yang benar, kalau tidak salah ya tahu campur]. Orang diluar Gresik yang menyebut tahu tek atau tahu gunting [karena memang pakai gunting untuk memotong tahunya]. Dan seperti tukang potong rambut, mereka juga suka memain-mainkan guntingnya, bunyi mengguntingnya beberapa kali tetapi yang menggunting tahunya hanya sekali. Untuk menimbulkan kesan potongan tahunya banyak kali ya.

Dimakan dengan lontong, atau tanpa lontong. Yang pasti ada campuran taoge dan mie serta kerupuk. Tidak ada sayur lain. Kalau yang ini, porsi tahunya memang bisa disebut dominan. Walau proporsinya berlainan antara penjual yang satu dengan yang lainnya. Ada dua versi penyiapan tahu campur seperti ini.

Versi pertama, yang dianut oleh Sampan dan beberapa yang lain, dengan cara diulek. Artinya, bumbunya dibuat seperti menyiapkan bumbu rujak. Ada bawang putih goreng, kacang goreng, lombok rawit [yang sudah dilayukan dengan digoreng], garam dan diulek kemudian ditambahkan petis, air dan kecap. Setelah piring disiapkan dengan isi potongan lontong dan tahu, ditambah taoge dan mie, maka bumbu yang di cobek dipirit kepiring. Lalu ditambahkan kerupuk.

Versi kedua, yang dianut oleh Wak Di dan beberapa yang lain, dengan cara tanpa diulek. Kalau kita tidak suka pedas sama sekali [misalnya untuk anak-anak], maka bumbunya hanyalah kecap dan petis [yang sudah diberi bumbu bawang putih dan dicampur menjadi suatu massa yang kurang viscous dibanding petis asalnya]. Tetapi kalau mau sedang atau pedas, maka dia akan mengambil beberapa sendok suatu ramuan yang disimpan dalam panci, yang berwarna kecoklat-coklatan, yang dapat diduga pasti terdiri atas ulekan kacang, bawang putih, dan entah apa lagi [sepintas seperti bumbu gado-gado siram]. Setelah petis ditempatkan di piring, lalu ditambahi bumbu tadi, diaduk dengan menggunakan sendok, barulah kemudian ditambahkan lontong dan tahu, disusul taoge dan mie, lalu langsung kerupuknya.

Jadi yang satu bumbu di atas, yang lainnya bumbu di bawah. Masing-masing punya nilai plus dan minusnya. Tetapi yang sama, sebelum sendok di letakkan dipiring umumnya dicelupkan dulu ke minyak panas yang ada di wajan. Entah hanya suatu gaya saja, atau ada maksud-maksud tertentu. Streilisasi? Ha ha

Kalau wak Di, berjalan melewati Jalan Niaga, berhenti sebentar di Bata, lewat Garling, Lojie dan nantinya parkir di perempatan depan Sekolah Brug. [lihat Warung di sekitarku]. Kalau Sampan, daerah cakupannya cukup luas, Mungkin base-camp nya di daerah Sukodono/Kemuteran Kulon. Lewat Kemuteran, Kampung Rambu, lalu ke utara dan kemudian ke timur, sampai di Gajah Mungkur. Dari sana ke selatan, sampai di Aniem. Lalu belok ke barat, Makam Londo, geladak wak Sadi, Karangpoh Kampung Ombo, terus ke barat, sampai di Langgar Abadi. Sampai di ANIEM, sekitar jam 08-10an, tergantung situasi dan kondisi.

Pola transaksi dengan mumbokno [yang populer untuk sego roma dan nasi goreng], bisa juga diberlakukan untuk tahu telor, yang merupakan varian lain dari tahu campur ini, dengan menyediakan telur sendiri. Walau tidak punya halaman rumah, beberapa keluarga masih memelihara ayam, jadi telurnya tidak beli. Sebelum menyerahkan telur, saya dan temanku [Mudhar bin H. Sjamsul, anak Gosari-Sedayu yang dulu pernah kost di rumahku] menanyakan berapa harganya kalau tahu telur dengan telur sendiri. Sampan, sang penjual menyebut suatu angka, yang akhirnya kami setujui. Tetapi, setelah yang dikeluarkan oleh Mudhar adalah telur angsa yang dibawanya dari Gosari, Sampan langsung geleng-geleng. “Kalau telur banyak [kata lain untuk angsa] ya lain harganya”. Dan kitapun memahaminya. Susah juga ternyata membuat tahu telur dengan telur angsa, karena yang lazim adalah telur bebek atau telur ayam [pasti ayam kampung, pada waktu itu – 1960 – belum ada telur ayam negri].

Semua penjual tahu, memberikan sinyal keberadaannya dengan memukulkan sutil ke wajannya beberapa kali. Ketika baru berhenti, dan ketika mau berangkat lagi. Terakhir ketemu dua-tiga tahun lalu dan membeli tahunya Sampan, dia sudah menggunakan gerobak dorong, dan rupanya kekuatannya untuk ngulek bumbu sudah berkurang. Rasanya jadi ya agak berbeda. Atau lidahnya yang sudah terkontaminasi dengan bermacam-macam jenis makanan.

Semoga tidurnya pulas, karena kenyangnya perut. Kalau kita dulu jajan menjelang tidur, orang-orang tua suka menyebutnya sebagai “nyangoni celeng minggat’, alias memberi bekal kepada binatang celeng yang akan kabur.

Kalau anda mencermati tulisan ini, dapatlah dirasakan bahwa penggagas, produsen, distributor dari berbagai makanan dan minuman yang dijual di Gresik ini, pelakunya bukanlah orang Gresik. Peran orang Gresik, sepertinya hanya menikmatinya saja. Dan ini akan sangat terasa bila para pelaku ekonomi tersebut pulang – misalnya dikala hari raya – orang Gresik akan nyekakem. Untungnya mereka tahu itu, dan tidak pulang bersama-sama, kecuali pada saat hari raya iedul Fitri, dan hanya sebentar saja.

Wa Allahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: