PANGANAN IDER 05

Dijadikan siang untuk berusaha,

dan malam untuk beristirahat.

Tetapi panganan masih tetap diperlukan

menjelang istirahat.

“Nyangoni celeng minggat”.

Think and act efficiently, memang berlaku. Ibu-ibu atau gadis remaja yang bekerja di rumah, bukanlah melalaikan tugasnya untuk menyediakan lauk pauk bagi makan siang dan malam keluarganya, suami dan anak-anaknya serta dirinya sendiri. Banyak yang hanya sekedar menyediakan nasi putih, atau membuat sayur atau lauk yang cepat bikin. Yang bahannya dapat mudah dibeli di wong melijo yang menjajakan aneka kebutuhan dapur.

Mereka telah memikirkan opportunity cost, dalam artian tidak mau kehilangan waktu dan biaya yang diperlukan untuk belanja kepasar serta memasak yang ribet-ribet. Lebih baik waktunya dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan produksi yang dapat menghasilkan uang, walaupun nantinya akan dibelanjakan untuk membeli makanan jadi. Maka masakan yang cepat bikin, sering kita temui dalam menu sehari-hari masyarakat disini. Terik tempe, sayur asem, sayur bening yang kesemuanya tidak memerlukan waktu lama untuk menyiapkannya, dan bisa disambi. Bahasa manajemennya, barangkali dengan mengandalkan outsourcing.

Dalam bagian terdahulu , lupa disampaikan bahwa banyak juga pedagang yang menyediakan lauk pauk saja, baik yang nantinya diedarkan oleh penjaja yang ider atau dijual ditempat saja. Dan menu pilihannya sangat beraneka, karena produsennya juga banyak. Konsumen tinggal pilih. Menu dari penjaja atau dari penjual yang satu ke yang lainnya.

Di tahun 50-an, daging ayam dan daging kambing belumlah merupakan bagian dari daftar daging yang dijual di pasar. Daging ini, hanya didjual dengan cara diedarkan oleh orang yang memotongnya dan sekaligus menjualnya dengan mengedarkan ke palanggan-pelanggannya. Makan daging ayam, masih merupakan menu yang langka. Kenduri adalah salah satunya. Dan terik ayam yuk Tuk pilihan lainnya.

Penjual daging ayam yang ku ingat adalah wak Ni [rumahnya di Bedilan, Makam Londo] yang mengedarkan kerumah rumah tertentu yang memiliki potensi untuk membeli ayamnya. Dia hanya memotong beberapa ekor saja setiap harinya, dan yang membeli juga bukan seekor ayam utuh tetapi bisa hanya dada saja atau paha saja.

Bukannya daging ayam tidak menjadi bagian menu warga Gresik, tetapi pola pembelian dan pemotongannya yang belum berkembang. Buktinya, wak Truno tidak pernah kesepian pembeli. Dan setiap hari terjadi transaksi. Hanya yang beli dan menyembelih adalah pemilik warung, dan masyarakat membeli yang sudah dimasak di warung-warung.

Sedangkan penjual daging kambing, dengan dipikul berkeliling, kira-kira berasal dari daerah Pulo Pancikan atau Gapuro. Berjalan menyusuri jalan Bedilan, Kebungson, Pekelingan, Kemasan, Kemuteran dan tentunya sebelumnya adalah Kampung Arab. Daya beli masyarakat memang belumlah seperti sekarang. Kalau penjual daging sapi, setidaknya ada dua. Haji Ja’far [ayahnya kak Suud] yang di seberang Pintu Pasar dan yang di dalam pasar [maaf tak tahu namanya].

Kita sekarang dapat merasakan perbedaan tersebut, jika kita mau merenungkan hal hal yang telah kita lalui. Tanpa merenungkan seperti itu, kita tidak akan dapat merasakan perubahan yang telah terjadi. Dan dengan mensyukurinya, insya Allah, sesuai janji-Nya yang tidak pernah tidak ditunaikan, Allah swt akan menambahkan nikmat dan karunia yang telah dilimpahkan kepada kita semua. Amien.

Aneka makanan untuk malam hari, umumnya bersifat generik, dalam artian bisa kita temukan di daerah-daerah lain dengan berbagai variasi rasa dan penampilannya, walau ada kespesifikan yang muncul antara yang satu dengan yang lainnya. Yaitu, tahu campur, tahu gunting, sate ayam, sate kambing, sate manis, gule kambing, soto ayam, soto daging, soto kikil, nasi goreng, bihun dan mie goreng/rebus. Walaupun, serupa, tetapi kita bisa menemukan perbedaannya antara satu dengan yang lainnya.

Teknologi roda, yang sudah diketemukan beberapa ratus tahun silam, masih belum dimanfaatkan oleh para penjaja makanan ini, tentunya dengan berbagai sebab. Dan karena itu, mereka menjajakannya menggunakan rombong yang dipikul. Masing-masing jenis makanan, memiliki bentuk dan warna yang khas. Baru kemudian, setelah mereka tua, dan kebetulan jalanan kampung sudah mulai rata atau diratakan, banyak yang beralih menggunakan rombong beroda.

Para penjaja makanan ini, hampir semuanya memiliki route perjalanan yang tetap, dan biasanya stop-over di beberapa tempat tertentu atau memang kemudian berhenti disuatu tempat sebagai terminal akhir. Para pelanggannya sudah mengetahui jadwal dan routenya, dan bila ketinggalan bisa menyusulnya.

Kita mulai dengan yang sudah pernah disebut sebut pada bagian sebelumnya, yaitu Coto Kikil. Khususnya coto kikil-nya cak War. Kuahnya coto ini adalah yang paling kental, bahkan hampir seperti pulut. Apalagi kalau sudah semakin malam. Cak War yang rumahnya di Teratee dekat Kampung Kebon, memulai berkeliling menjelang atau sesudah maghrib. Saya sudah mengenalnya, semenjak kelas 6 SD di tahun 1958. Saat itu, diadakan pelajaran tambahan di bulan Ramadhan guna menghadapi ujian akhir – semacam Ujian Negara begitulah.

Pelajaran tambahannya diadakan di malam hari sesudah shalat tarawih. Karena rumahku agak jauh dari langgar, saya terbiasa shalat tarawih di Masjid Jamik. Dan agar tidak terlambat sampai di sekolah, yang pulangnya cepetan dan langsung ke rumah terus ke sekolah di Teratee. Kadangkala, malah aku yang datangnya duluan. Sambil menunggu inilah, mulai berkenalan dengan cotonya cak War ini.

Dia berjualan dengan dipikul, menuruni jalan Teratee. Dan kelihatannya belok di Karangpoh Kampung Ombo, karena disini memang populasi anak mudanya banyak dan memang menjadi tempat berkumpul. Lalu rupanya, nanti belok kiri ke arah Jalan Niaga, untuk menuju ke ongkek Kampung Gajah. Disini juga pusat konsentrasi pemuda. Mungkin ongkeknya yang paling ramai saat itu, dengan silih berganti yang duduk. Apa lagi yang dilakukan di ongkek, kalau bukan ngobrol, makan, dan bersendagurau. Kalau belum habis, dilanjutkan ke Kampung Rambu, karena di ujung Gang VI dan VII ini juga ada ongkek, begitu juga di Metoko, walau tak seramai ongkek Kampung Gajah.

Orang menyebut Kampung Gajah, karena di salah satu dinding rumah di situ, ada patung kepala gajah yang belalainya memegang tiang bendera. Kalau tidak salah, rumahnya Haji Hasyim yang memiliki jualan khas, bola kertas berwarna merah putih. Dijual dalam keadaan terlipat, dan akan mengembang bila kita tiup di lubang yang sudah disediakan. Sangat cocok untuk hiasan 17 Agustus dengan menggantungnya.

Sate ayam, walau yang jual orang Madura, tetapi tidak ada yang menyebutnya sebagai sate Madura. Dulu pedagangnya, sepertinya tidak banyak. Yang kutahu, hanya seorang yang menyusuri Lojie, Garling dan menuju Pasar. Sepertinya, pelanggannya kebanyakan adalah komunitas keturunan Cina. Pikulannya, sangat khas dengan pakaian sehari-hari orang Madura, celana hitam, bayu hitam tanpa dikacingkan, persis seperti yang ada di kecap Cap Sate. Berangkatnya mudah diketahui, tetapi pulangnya kapan dan lewat mana, mungkin saya sudah tidur.

Orang asli Gresik sendiri kurang begitu antusias dengan sate yang ini, yah apa lagi kalau bukan karena termasuk mahal.

Sate kambing, relatif lebih disukai dan lebih banyak penjualnya. Selain yang ada di warung-warung [lihat Warung di Sekitarku], banyak juga yang menjajakannya berkeliling. Biasanya, tidak hanya berjualan sate saja, tetapi juga partner setianya, yaitu gule kambing. Yang digule, biasanya jeroan kambing, atau bagian-bagian yang mengandung tulang [seperti iga, dan yang dagingnya sudah diambil sate]. Sehingga keseluruhan tubuh kambing dapat dimanfaatkan secara optimal. Berkeliling sepanjang sore dan malam hari, melewati route-route tertentu. Kalau satenya, biasanya kombinasi antara daging dan lemak, atau yang hati saja.

Ada hal-hal yang spesifik dari gule kambing yang dijajakan ini. Umumnya kuahnya agak encer, sehingga kalau dicampur nasi, ya hampir seperti makan soto atau sop. Usus kambing yang ukurannya kecil [relatif dibanding usus sapi], sebelum dikukus dan dipotong-potong, terlebih dahulu dikelabang seperti layaknya rambut gadis-gadis, tetapi dengan cara mengelabang yang berbeda. Ngelabangnya, seperti menguntai kabel yang menghubungkan lampu dan dinamo sepeda waktu itu. Kalau rambut kan tiga bagian dipilin saling berganti, sedangkan kelabangannya usus hanya dari satu lalu dipilin yang satu terikat sama yang lain, dan harus dimatikan di ujungnya, karena kalau ditarik atau tertarik akan terurai lagi.

Sedangkan otaknya, agar tidak hancur teraduk-aduk, terlebih dahulu dibungkus daun pisang [dibotok] dan tetap berada dalam botokannya, sampai ada yang membeli baru dibuka bitingnya. Kepala kambing, dan kaki alias kikil tidaklah dibiarkan utuh, tetapi sudah dipotong-potong. Tetapi masih bisa diidentifikasi [tanpa memanggil tim forensik], karena banyak juga pembeli yang spesifik permintaannya, dan selagi ada akan selalu dilayani.

Ada juga yang hanya spesial berjualan gule kambing saja [tidak jual satenya], dan bahkan lebih spesifik lagi hanya kepala dan kakinya saja. Salah satunya, adalah Kasdul yang kemudian setelah beranjak tua, tidak lagi ider melainkan menetap di samping Warung Sembilan. Wilayah operasinya si Kasdul ini juga tidak begitu luas, karena basisnya hanya Karangpoh Kulon, kalau sampai ke Karangpoh Wetan itu sudah agak jauh. Kebanyakan yang sudah mengenalnya, yang tinggal di luar wilayah operasinya akan menemuinya di Karangpoh. Apalagi setelah tempat kedudukannya lebih pasti.

Issue pernah menerpa para penjual sate kambing dan gule yang keliling ini, antara lain dikatakan bahwa dagingnya bukan daging kambing tetapi daging nyambik [biawak]. Rupanya ini berasal dari hearing capability yang kurang tinggi, dan tidak positive thinking dari si pendengar. Penjual, yang kebanyakan keturunan Madura, ketika ditanya rupanya menjawab “dagingnya embik”, [daging wedus dalam bahasa Madura] yang terdengar sebagai “daging nyambik” atau daging biawak. Kasihan ya.

Ada jenis sate yang tidak go national atau go global, dan rupanya sekarang sudah mulai susah dicari. Yaitu sate manis, yang dijual oleh wak Kusen, tinggalnya di Kampung Kebon. Masih ada, dengan penjual perempuan yang disungun di kampung-kampung dalam skala yang kecil. Sate manis wak Kusen ini memang sangat khas, dan menjadi langganan banyak orang, termasuk kalangan terkemuka di masyarakat. Orangnya supel, banyak cerita dan sabar melayani tingkah pembelinya. Dia juga adalah pembaca mocopat yang handal, yang suka diundang membaca mocopat sebagai bagian dari perayaan pernikahan, ketika masih digunakan terop di kampung-kampung yang memiliki sinoman.

Sate manis ini, bahannya daging sapi yang diiris tipis-tipis dan diberi bumbu ketumbar-jinten dan kecap. Hampir mirip dengan sate maranggi yang di daerah Purwakarta, atau sate sapinya Daeng Tata di Casablanca, Jakarta.

Saking bekennya wak Kusen atau wak Usen, sampai-sampai pada masa awal kemerdekaan namanya dipakai dalam plesetan menyanyikan Indonesia Raya. Walau tidak nyambung, tapi jadi enak didengar saja. Memang keterlaluan orang Gresik ini, lagu kebangsaan saja diplesetkan, apalagi lagu-lagu biasa. Apa ini suatu bentuk kreatifitas atau tahapan imitating. [lihat ”Tembang Kenangan”]

Ada juga cerita-cerita dimana wak Kusen menjadi obyek atau figur, berkaitan dengan ‘orang yang dikenal pelit, tetapi ingin dianggap royal oleh tetangganya yang agak sedikit berselisih dengannya’. Orang tersebut, berteriak-teriak memanggil wak Kusen, pada hal wak Kusen itu sudah dihadapannya. Dan juga meneriakkan jumlah sate yang dibelinya [puluhan] tetapi tangannya memberi kode jumlah sebenarnya yang dipesan, hanya lima tusuk. Tujuannya, tak lain agar ‘musuh’-nya mendengar bahkan terbangun dari tidurnya, dan mengira bahwa dia membeli sate manisnya wak Kusen dan dalam jumlah banyak lagi. Ada-ada saja ya. Jangan ditiru lho ya, walau ada pendapat, berlaku sombong pada orang yang sombong, itu pahala.

Boleh dikata, banyaknya orang jualan yang ider itu, hanyalah sampai perbatasan Garling ke arah barat, dengan pos parkir paling timur adalah Bata dan Aniem. Para penjaja [tanpa h lho] baru akan menuju ke arah lebih timur atau selatan, hanya bila ada yang memanggilnya. Karena biasanya, di wilayah itu tidak dihuni oleh penduduk yang lembur jadi tidak banyak yang butuh makanan malam. Kalau daerah Kauman, sudah memiliki idola sendiri, yang umumnya berada di sekitar Aloon-aloon dan Masjid Jamik.

Ada penjaja minuman pokak, yang juga menjual berbagai jajanan rebus dan lain-lain. Pikulannya, selain sarat dengan jualan, juga dipenuhi dengan bel-bel kecil atau kerincingan, sehingga ketika berjalan menimbulkan bunyi yang khas dan memberi sinyal kepada pelanggannya yang sudah kehausan atau mulai ngantuk. Sudah lama pokak ini menghilang dari percaturan. Begitu juga penjual kacang ijo dan angsle, yang dulu banyak beredar semenjak siang hingga malam hari. Tapi kalau cari wedang jahe di warung-warung sampai malampun pasti ada.

Satu Tanggapan to “PANGANAN IDER 05”

  1. nasir Says:

    sungguh blog yang menarik,,
    artikel mengenai kota gresik sangat lengkap,
    klo boleh saya tahu anda skrng usia brp ya ..
    terima kasih atas informasinya,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: