PANGANAN IDER 04

Bubur dan petola, serta kuro yang dijajakan menggunakan tenong, yang diproduksi oleh etnis keturunan Cina, akan muncul sesudah dhuhur hingga sore hari. High in quality, but sedikit mahal. Mulai berjalan dari arah Pecinan, menuju jalan Niaga – Samanhudi, dimana banyak komunitas cina yang memiliki toko-toko di sepanjang jalan tersebut. Pangsa pasarnya memang mereka, tetapi kita boleh juga beli. Tetapi sekali-sekali saja lah.

Menjelang dhuhur, penjaja agak sepi. Mungkin juga karena panasnya kota. Dan muncullah penjual bakso yang umumnya orang Cermee, yang baru mulai ada menjelang akhir 50-an. Entah siapa yang memulai. Masakan yang jelas berbau Cina ini, semula banyak yang ragu memakannya, khawatir mengandung babi. Dua penjaja yang cukup dikenal dikalangan anak-anak pada waktu itu, bernama Bakri [yang pendek dengan rambut keriting] dan Djaelan [yang tinggi jangkung]. Dan memang ternyata kemudian, bakso ini berkembang dengan pesat disertai berbagai variasi model dan penampilan. Tidak saja yang berkeliling, tetapi juga yang menetap dan berbentuk warung. Menjelang akhir abad 20, sangat dikenal dan digandrungi bakso Kedanyang, tetapi sayang kemudian tidak begitu ramai lagi karena diterpa isu tertentu.

Penjual rujak, baik yang berkeliling maupun yang menetap, sudah mulai bisa kita temukan. Penjual rujak yang menetap, biasanya tidak hanya menjual rujak [disini pasti rujak petis yang diulek, alias rujak cingur]. Beberapa penjual rujak yang pernah berjaya, antara lain

  • wak Yayah di Kepatihan / Mangkatan,
  • bu Mansur, di Debekso / Kemasan,
  • bulik Waras di Telogobendung,
  • yuk Pik di Sukodono / Pasar,
  • ema’e Mincil di Karangpoh, dan tentu saja
  • bik Tengen di ujung Pasar Sore.

Pembeli rujak ini, ada yang memakannya ditempat, sehingga disediakan juga jualan yang lain seperti kolek pisang, kolek puhung, kolek tape, kolek waluh, luwo kedondong dll. Tetapi banyak juga yang take-away. Pada saat jam ramai-ramainya, bisa ngantri.

Rujak Cingur, dibuat secara tailor made, dan inilah yang menjadikannya lama. Berapa jumlah lombok yang akan digunakan, ditentukan oleh pembeli. Konon, yang lomboknya ganjil akan terasa lebih pedas, walau jumlahnya lebih sedikit, maksudnya lombok tiga akan lebih pedas dari pada lombik empat. Boleh percaya boleh tidak. Perbandingan kacang goreng dan petisnya, serta jenis petis yang digunakan, akan sangat menentukan cita rasa rujak yang dihasilkan. Pembeli juga bisa menentukan, apakah janganan saja [sayuran kangkung, taoge, kacang panjang, kembang turi, kecipir], klatakan [kedondong, timun, belungko, bengkowang, jambu mente, nanas, pencit] saja, atau campur. Whenever available. Tentunya, dengan irisan tahu goreng, tempe goreng dan cingur rebus. Bisa juga tanpa menyertakan ingredient tertentu, atau meminta ingredient tertentu lebih banyak. Kepuasan pelanggan adalah segalanya.

Ada lagi rujak kecap yang menggunakan kecap tanpa kacang tanah, yaitu hanya bawang putih, lombok, kecap dan petis. Tanpa diulek, hanya diaduk-aduk dengan sendok. Dan umumnya hanya klatakan saja, disertai irisan godo tempe atau gimbal urang.

Ada satu biota laut, namanya simping. Dahulu, kalau lagi musim banyak sekali penjual simping rebus [tapi ada yang bilang hanya disiram / direndam air panas sebentar] yang berkeliling antara dhuhur dan ashar. Bagi yang memiliki ketahanan tubuh tinggi, musim simping sangatlah dinanti-nantikan. Kegurian rasa simping rebus, konon sulit dicarikan tandingannya. Tetapi konsekwensinya bagi yang rentan, kenikmatan yang sebentar saja melewati rongga mulut dan kerongkongan harus ditebus dengan mondar mandir ke kamar kecil bukan hanya sekedar buang air kecil.

Untuk membuka kulit simping, diperlukan keterampilan khusus. Tidak boleh dengan membuka engselnya, tetapi dengan menggeser kedua kulitnya. Karena, mungkin antara kedua kulit itu masih dalam keadaan vakum [hampa udara]. Tawar menawar untuk menyepakati harga selalu dilakukan di awal, dan penghitungan dilakukan diakhir dengan menghitung jumlah kulit simping lalu dibagi dua. Ada pembeli yang ‘nakal’, memilih tempat yang strategis, misalnya di bagian tertentu tutup kali [di Gresik ada banyak kali tutup, misalnya di Karangpoh, di Kemasan dan Pekelingan, dan yang besar ya di Kalitutup Sukodono] dimana terdapat celah. Sehingga kulit simpingnya tidak dionggokkan untuk dihitung, melainkan dimasukkan ke celah antara dua lembar plat beton. Simping ini bisa juga dijemur, menjadi gerinting simping, atau ditempelkan ke emping melinjo.

Menjelang waktu ashar, penjaja kue dari wilayah timur-selatan mulai menjajakan kue-kue yang sangat lezat, keluargaku menyebutnya jajan arab. Ada kue lumpur, roti kentang, bongko gedang, bongko iwak, bongko mentuk, dan lain-lainnya. Ukurannya gede dan rasanya legit. Juga tak kalah eksotisnya, adalah dari wilayah utara-barat yaitu jajanan kroman seperti cicik menik, masin kerupuk, ma’rupah, dan lain lain.

Semenjak ashar, biasanya suara penjaja yang melantunkan kalimat cangsin dawung, dalam suatu nada yang khas, mulai terdengar sayup-sayup hingga malam menjelang. Apa yang dilantunkan, mewakili apa yang ditawarkan, yaitu kacang asin – kedawung. Mereka menawarkan berbagai aneka kletikan, mulai dari kacang asin dengan kulit, kacang goreng tanpa dibuang kulit arinya, marning jagung, kacang koro, kedawung, kacang kapri goreng sangrai, saga dan semua yang memberikan “bunyi-bunyian” ketika dimakan. Saga dan kedawung sudah merupakan sesuatu yang langka.

Membeli buah untuk memenuhi kebutuhan orang seisi rumah, apakah berupa sesisir pisang, atau sebuah pepaya rupanya bukan menjadi kelaziman bagi ibu-ibu rumah tangga yang sibuk dengan berbagai pekerjaan di rumahnya. Kebanyakan ibu-ibu tidaklah hanya sekedar mengurusi kebutuhan keluarga dengan menyediakan masakan buat makan siang dan makan malam, tetapi mereka juga terlibat dalam kegiatan produksi. Konon, lebih baik membeli makanan siap santap yang lewat di depan rumah atau yang dijual dekat tempat tinggalnya, dari pada kehilangan waktu untuk membeli bahan, memasak dan lain sebagainya. Sehingga, hal ini juga memberikan peluang kepada orang untuk menjual buah secara eceran.

Penjual buah keliling yang dipikul berkeliling, bukanlah menjual buah yang utuh, tetapi siap dijual eceran dan sudah terkupas, betul-betul siap santap. Yang dijual, umumnya pisang hijau, pepaya, kedondong yang terbelah, tebu yang dikerat, bengkoang yang sudah diiris, nanas, belewah yang siap dibubuhi gula pasir, muris, jeruk bali, ditambah dengan tahu goreng yang siap dibelah, dan kadang-kadang beton goreng. Mereka menyediakan petis yang sudah dibumbuhi, yang siap dioleskan ke tahu goreng, bengkowang, kedondong dan lainnya. Saya tidak mengikuti perkembangan terakhir, ketika kita sudah diserbu oleh buah-buahan impor, apakah penjual buah itu juga menjual apel, pier, anggur dan lainnya.

Kedatangan penjual buah keliling ini, menandakan hari sudah sore dan matahari sudah akan kembali ke peraduannya. Tetapi apakah berarti lalu lalangnya penjaja makanan akan terhenti? Rupanya malah sebaliknya. Di kegelapan malam, akan semakin meriah penjaja makanan dengan aneka ragam yang dijajakannya. Umumnya, yang kelas agak berat, sebagai pengganti makan malam. Ada yang memecahkan keheningan dengan teriakan-teriakan yang khas, ada pula yang dengan memperdengarkan bunyi-bunyian, seakan kode Morse memanggil pelanggannya.

Bagaimana kalau kita istirahat sejenak. Menunggu datangnya maghrib sambil mengamati perkembangan berikutnya.

Tetapi sebelum lupa, para penjaja makanan itu memberikan sinyal tentang keberadaan mereka dengan berbagai cara, ada yang membunyikan bel [penjual es], membunyikan kentongan kayu, dan juga ada yang meneriakkan barang dagangannya. Seperti penjual panganan, kadang kala ada yang sangat spesifik dengan menyebutkan serangkaian jajanannya dengan lagu yang khas, [seperti cangsin dawung] atau meneriakkannya satu persatu sekaligus dengan kondisinya yang prima.

Misalnya penjual, godo tempe, onde-onde selalu akan disertai embel-embel kata anget, tetapi jika dikomplain “begini koq anget”, dengan enaknya dia menjawab “enggih, waune sih anget”. Lain halnya penjual sate usus, keberadaannya akan mudah diketahui melalui asap yang akan menyebar terbawa angin.

Bagaimanapun, penduduk Gresik sudah tahu pada jam berapa siapa yang akan lewat, dan dimana sesiapa berada pada suatu waktu. Karena mereka memiliki route yang tetap. Kalau lewatnya lebih cepat, mungkin agak sepi pembeli atau ada yang memborong.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: