PANGANAN IDER 03

Sepanjang pagi tadi, sudah banyak penjual jajanan yang ider keliling kampung menjajakan berbagai jajanan, baik yang mengenyangkan maupun yang kurang menyenangkan. Gorengan, seperti pisang goreng, limpang-limpung, roti goreng, kroket, lumpia, maupun kue-kue seperti onde-onde, kue lapis, kue talam, pudak udo, roti dang, kue mangkok, walak-walik dan sebagainya. Mereka umumnya bukan pembuat, tetapi hanya penjaja saja. Sangat bervariasi harga dan kualitas yang dijajakan, tergantung wilayah penjajaan dan produsen kue-kuenya.

Lempang-lempung, sebenarnya bentuk tampilan lain dari pisang goreng. Dan konon ini merupakan hasil samping dari pembuatan pisang goreng. Umumnya, dalam membuat pisang goreng, tidaklah satu biji pisang utuh diselimuti adonan dan digoreng, melainkan pisangnya dipotong-potong serong sehingga diperoleh bentuk yang seragam. Tentu ada afval [sisa potongan], yang umumnya bagian ujung. Kumpulan potongan inilah yang kemudian diaduk dengan adonan, lalu digoreng. Memang, berperilaku think and act efficiently sepertinya sudah embedded pada diri orang Gresik [ngecap nih yee].

Kue talam, sesuai dengan namanya yang menggunakan kosa kata talam yang berarti suatu bentuk piring dengan ketebalan tertentu, yang digunakan sebagai cetakan. Adonan utama berbahan dasar tepung beras yang dicampur santan. Untuk versi manis, ada yang menggunakan gula putih atau gula merah, dan biasanya diberi topping berupa pisang yang dipotong melintang. Umumnya gedang saba, tetapi ada juga yang gedang raja. Untuk versi gurih, tentu ditambah garam, dan toppingnya adalah ebi. Versi khusus, dengan topping ubi jalar [bolet] yang dipotong model korek api raksasa, disebut janjan mencelat. Kue ini dijual dalam keadaan terpotong-potong.

Janjan itu sendiri adalah nama sejenis ikan laut, yang berukuran panjang tidak lebih dari 15 cm, berpenampang bulat. Sangat gurih, tetapi rupanya sudah sulit didapat sekarang. Cara membersihkan isi perutnya sangat khas, yaitu dengan menggunakan lidi yang dipecah ujungnya, dimasukkan lewat mulut dan ditarik keluar. Sehingga kulit perutnya masih utuh. Sangat enak dengan hanya digoreng, apalagi kalau dimasak terik.

Pudak udo, atau pudak yang telanjang. Sebagaimana diketahui, pudak tertutup auratnya dengan upih [pelepah pinang]. Yang ini telanjang [udo], dan dibentuk seperti kue talam.

Ada juga yang spesifik, seperti Aneka Bubur, yang terdiri atas bubur putih, bubur merah dengan biji salak, ketan hitam, dan juga lupis. Jualannya tidak begitu banyak, dan yang jual hanya satu orang itu saja. Berangkat dari daerah Bandaran, lewat Lojie, Garling, dan terus menelusuri jalan Niaga / Samanhudi. Entah akhirnya sampai mana, sebelum ia kembali pulang. Ini juga termasuk yang konsisten menjalani profesinya. Kalau bulan puasa, jualannya sore hari. Ternyata di Jakarta, bubur semacam ini dikenal sebagai bubur Madura. He he, pada hal buat bubur itu di Jakarta tidak selalu orang Madura, memang yang jualan di Gresik adalah orang Madura, julukannya Meduro Brintik [karena rambutnya berintik]

Agak sedikit siang, mulai terlihat dari arah barat di jalan Samanhudi, pedagang soto daging [yang secara umum dikenal sebagai Soto Sulung]. Dikala masih mudanya, Gute – nama / sebutan penjualnya, menjajakan sotonya menggunakan rombong dan pikulan yang khas, tetapi setelah agak tua menggunakan gerobak dorong. Dia istirahat sebentar di perempatan Bata, sebelum melanjutkan ke arah Lojie dimana banyak orang kantoran, dan terus ke daerah Pelabuhan.

Juga Soto Ayam banyak dijajakan, mulai menjelang siang hingga sore. Yang dulu agak terkenal di wilayah timur, adalah soto ayam wak Salam. Berangkat dari Telogobendung, lewat Jalan Raden Santri, Lojie, Kebungson, Pekelingan , dan balik lagi ke arah Aloon-aloon menjelang petang. Tentu banyak juga penjual soto ayam yang berkeliling, yang masing-masing memiliki wilayah dan penggemarnya sendiri-sendiri. Ada pula soto daging yang beredar menjelang dhuhur sampai sore, tetapi biasa biasa saja. Soto kikil-nya cak War [bukan kikilnya cak War yang disoto, tapi kikil sapi, yang jual cak War] yang sangat legendaris baru akan muncul menjelang atau selepas maghrib, dan memulai perjalanannya dari Kampung Kebon, perbatasan antara Teratee, Telogobendung dan Karangturi.

Semakin siang, semakin banyak yang beredar dan bermacam variasinya. Gado-gado siram, yang kebanyakan penjualnya orang Lamongan. Arah perjalanannya, biasanya dari Karangturi dan menyebar ke seluruh penjuru kota. Dengan irisan lontong, dan sayur berupa irisan kol alias kubis, kacang panjang dan tauge, ditambah kentang dan tahu lalu disiram dengan bumbu dan dibubuhi kerupuk koser.

Lontong Balap dan Lontong Kupang, yang umumnya datang dari luar kota sudah dalam keadaan siap jual, mulai menjelajah agak sedikit lebih siang sampai sore hari. Jumlahnya tidak banyak, tetapi selalu saja ada yang berkeliling. Walau bukan masakan asli Gresik, tetapi memiliki banyak penggemar juga.

Kupang juga dijual tanpa lontong, dalam keadaan masak, dan sudah tanpa kulitnya yang keras. Penjualnya ibu-ibu. Kupangnya cukup besar-besar, tidak kecil-kecil seperti yang dijual sebagai lontong kupang. Sejak puluhan tahun terakhir ini sudah hampir tak dapat dijumpai lagi. Memakan kupang, dan lontong kupang, kalau tak tahan bisa murus.

Sedangkan lontong balap, yang lebih populer di Surabaya, khususnya Wonokromo dan Wonocolo, adalah lontong dengan taoge rebus dengan bumbu bawang dan merica saja. Dengan sedikit kecap, petis dan lento akan segar dimakan siang hari. Coba perhatikan taugenya lontong balap, walau dipanasi terus-terusan sepanjang hari, tetapi tidak layu. Tetap kriyes-kriyes.

Setelah waktu dhuha, mulailah terlihat berkeliling penjual dawet yang juga berasal dari wilayah barat, Pojok Meduran dan sekitarnya. Walaupun cuaca Gresik cenderung panas, dawetnya tetap dijual tanpa es. Seperti lazimnya, dawet dengan pewarna pandan hijau ini, yang terbuat dari tepung beras, baru ditambahi santan dan gula merah, ketika ada pembeli. Disamping dawet, dia juga menyediakan menu lain, yaitu rujak serut, berupa serutan macam-macam buah, seperti kedondong, timun, belungko dengan bumbu yang manis-manis pedas dan berair yang menyegarkan. Satu lagi, adalah luwo bonceng, yaitu buah sejenis labu [kundur] yang dipotong-potong dan direbus dengan air gula merah. Mungkin juga sebelumnya direndam dengan air kapur, sehingga agak kinyel-kinyel sedikit keras. Walau semuanya disajikan tanpa es, terasa sangat menyegarkan.

Sate usus, yang disajikan dengan lontong dan sayur lodeh, dapat kita temui di kampung-kampung tertentu. Harus dimakan langsung ditempat, kalau dibawa ketempat lain akan hilang rasa nikmatnya. Karena nggendal. Penjualnya tidaklah begitu banyak, dan cenderung sudah sulit ditemui akhir-akhir ini. Kalau pas pulang lebaran, harus bergerilya dan mengirim intel guna mengetahui keberadaannya. Dan bila perlu, langsung sergap dan bawa ke rumah anda. Borong sampai habis, apalagi bila ada tamu-tamu keluarga dari luar kota [yang asal Gresik], pasti akan bernostalgia dengan sate yang satu ini.

Iklim Gresik yang cenderung sangat panas karena kegersangannya, yang disebabkan sangat sedikitnya pohon peneduh terutama di wilayah kota lama, cenderung membuat subur penjual es. Jaman dulu, ada

  • Es gronjong, termasuk yang paling murah dan sederhana. Penjual menyerut es batu dan menempatkannya dalam silinder yang logam seng di sisi kanan, dan sisi kiri berisi gelas-gelas serta persediaan sirup, tambahan air maupun tempat cuci-cuci-nya. Penjual hanya akan mengisikan air sirop dingin ke dalam gelas. Siropnya juga sederhana saja, satu macam rasa, tetapi pada masa itu masih gula murni. Tidak ada ‘seribu manis’ yang ditambahkan. Variasi lain dari model ini, adalah es kolor, yaitu adanya tambahan semacam dawet yang panjang-panjang berwarna merah, mungkin terbuat dari tepung kanji dicampur yang lain. Atau es mutiara, yang isinya bulat-bulat.
  • Es campur, atau juga pernah dikenal sebagai Es Shanghai dengan segala variasi isi dan rasa yang disajikan dalam mangkok atau gelas. Dengan variasi isi mulai dari kelapa muda, cincau, tape ubi, ketan hitam, roti tawar, dawet dan sebagainya campur aduk. Tentu tidak lupa, tambahan santan dengan es yang dipasrah atau diserut.
  • Es gandul, biasanya untuk anak-anak. “Es gandul tali merang, cino gundul dak wani perang”, dan memang es ini digantungkan dengan menggunakan merang. Dibuat dengan memasrah es, menampungnya dalam cangkir cucing, memasukkan potongan merang yang yang dibundeli lebih dulu, menekan pasrahan es, lalu mengucurinya dengan sirop. Kemudian, es gandul tersebut diisap-isap, sampai rasa manisnya habis seiring dengan mencairnya es. Sebelum habis, dan jatuh ketanah, keseluruhan es gandul tersebut dikulum dalam mulut.
  • Es Lilin dan Es Blok, yang buatan pabrik es Hongkong [dipojokan Karangpoh depan rumah haji Siradj] dan pabrik es Peking [di Kroman-Lumpur] dijajakan dengan menggunakan termos yang bermulut lebar ke seluruh penjuru kota, terutama ke sekolah sekolah. Harga es blok, yang dibungkus kertas, relatif lebih mahal, karena rasanya yang lebih enak disebabkan mengandung campuran santan atau susu. Saat itu belum dikenal ice cream, kecuali kalau kita ke Surabaya. Sore dan malam hari, sudah tidak ada lagi yang mengedarkan es ini. Tusukan es lilin, seringkali dikumpulkan karena berguna juga sebagai alat peraga untuk belajar berhitung. Masa kejayaan es semacam ini mulai pudar seiring dengan munculnya Es Ganefo, yaitu es dalam bungkus plastik yang diproduksi sebagai industri rumahan yang mulai populer setelah digelarnya Ganefo oleh Bung Karno, guna menyaingi Asian Games.
  • Es puter, yang juga dikenal sebagai Es Solo, mungkin karena banyak atau malah kesemua penjualnya adalah orang berasal dari Solo. Mereka membuat dan mengedarkan es puter ini dalam pikulan yang khas dan anggun karena bergantungannya gelas-gelas cantik yang berpenampilan khusus. Disebut es puter, karena sewaktu membuatnya, memang dilakukan dengan memutar-mutar silinder logam konsentris yang berisi adonan santan dan gula dalam silinder dari kayu yang lebih besar, yang celahnya berisi pecahan es dan garam dapur. Berkeliling sampai malam, kadangkala dengan menggunakan lampu karbit. Harga gelasnya – kalau dipecahkan – jauh lebih mahal dari harga bergelas-gelas es puternya.
  • Es Temulawak, yang putih bening buatan M. Afnan dari Karangpoh, cap Garuda merupakan sesuatu yang sangat antik. Semuanya serba berukuran mini. Pikulannya relatif kecil, begitu juga gelasnya. Esnya sudah dicetak dengan ukuran tertentu [seperti es yang dari kulkas] dan isi temulawaknya hanya sedikit. Dijamin belum bisa menghilangkan dahaga, kalau hanya sekedar meminum segelas saja. Karena ukuran gelasnya, bisa lebih pas kalau disebut sloki, gelasnya minum minuman keras yang keras sekali. Rasa temulawaknya sangat kental, tetapi warnanya bisa putih. Kalau hanya sekedar membuat warnanya temulawak dari kuning jingga yang keruh menjadi kuning jernih yang pucat, saya bisa. Tetapi kalau sampai putih seperti temulawak cap Garuda, hanya pembuatnya saja yang tahu. Entah apa anaknya atau keturunannya mampu meneruskan.

Disekitar sekolah atau dimana banyak anak berkerumun, pada musim-musim tertentu ada penjual gelali, yang pembuatnya berasal dari wilayah tepi barat, yaitu Pojok Meduran. Ada dua jenis gelali yang dijual, yaitu

  • Gelali Kacang, terbuat dari gula merah yang dipanaskan, dan dicampuri dengan kacang tanah yang tanpa dikupas kulit halusnya. Gulanya sampai berwarna kehitaman. Sepertinya, kacangnya menjadi agak sedikit masak karena terkena imbasnya gula yang panas tadi. Ibarat campuran kerikil dan aspal panas, kemudian gelali ini digelar di nampan kayu [dulang] sampai ketebalan tertentu, dan dibiarkan mendingin dan mengeras. Penjualnya perempuan tua yang agak sedikit bungkuk [maaf, hanya sekedar untuk mengidentifikasi saja, tanpa ada maksud lain], menyunggi dulangnya berkeliling mendekati kerumunan calon pembelinya. Ketika ada yang membeli, maka dia akan memotong dan menyungkilnya dengan pisau, dan meletakkannya di sepotong daun pisang.
  • Gelali, tanpa embel-embel apa-apa. Tentunya terbuat dari gula pasir dan diberi pewarna, umumnya merah, kadang ada yang hijau. Tetapi warna merah selalu lebih menarik, walau kadang kurang menyenangkan. Gelali ini sangat istimewa, tidak saja memberikan rasa manis di mulut yang memakannya.

Ada suatu kegiatan ekstra yang sangat mengasyikkan, jika kita membeli gelali ini. Namun dapat pula langsung mengulumnya, tanpa kita memperoleh sesuatu yang exciting. Yang membuat asyik, karena gelali ini akan berubah strukturnya bila kita menarik dan menariknya lagi, dengan menggunakan pasangan ibu jari dengan jari telunjuk, dari kedua sisi tangan kita. Dan agar tidak lengket di jari tangan, kita perlu membubuhkan tepung [kanji apa terigu] ke adukan gelali. Dari massa yang padat, secara perlahan akan menjadi agak lembek. Istilah ilmiahnya, membentuk non-Newtonian fluid – suatu benda yang sudah hampir memiliki sifat sebagai fluida tetapi belum tunduk pada hukum Newton. Tetapi kalau tarikan dan penyatuan kembali kita langsungkan terus, suatu saat massa itu akan menjadi padat.

Yang membuat exciting, adalah pada saat sebelum memadat kita bisa membentuknya menjadi bentuk yang kita sukai, apa kura-kura, cecak, gelang, bola atau yang lainnya dan membiarkannya menjadi padat. Kalau kita terlambat membentuk, dan tiba-tiba massa gelali menjadi padat diluar kendali kita, istilahnya namanya “kemalingan”, dan massa gelali akan memadat di ujung-ujung dari kita dengan bentuk yang tidak jelas.

Gelali yang sudah padat itu, warna merahnya akan menjadi pudar, mendekati warnanya Barbie. Kita bisa meminta bonus pada penjualnya, berupa gelali yang masih merah merona, untuk memberikan aksentuasi warna pada hasil karya kita [sehingga menjadi dual-tone].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: