PANGANAN IDER 02

Kalau setiap pagi sarapannya sego kerawu, bandarnya bisa jebol. Tapi tak usah khawatir, banyak pilihan lain, selain agar tidak jebol, juga agar tidak membuat bosan atau monotone. [lihat Warung di sekitarku]. Bagaimanapun lezat dan enaknya suatu masakan, kalau diteter terus-terusan akan bosan juga. Jangan khawatir, masih ada lain yang khas, yang kalau digilir satu hari satu, belum tentu sudah lengkap ketika saatnya pulang sudah tiba, diantaranya adalah

  • Sego menir, yaitu nasi biasa yang diberi kuah menir. Semacam sayur bening, dengan bahan sayur berupa kangkung yang dipotong kecil-kecil. Bumbunya diberi menir [patahan beras] yang di-ulek sehingga halus, dan karenanya kuahnya agak butek [tidak bening]. Sayur menirnya, ditempatkan dalam kemaron [yang terbuat dari gerabah] tetapi diselimuti dengan daun atau kertas, agar tetap hangat selama dijajakan [tidak terjadi transpiration cooling – mendinginnya cairan karena sebagian menguap melalui pori-pori seperti yang diterapkan dalam penyimpanan amonia di Petro berupa bola-bola putih]. Teman makan sego menir ini berupa godo tempe atau gimbal urang. Bukan peyek udang. Yang khas, adalah sambelnya yaitu sambel pencit. Biasa, sambel terasi yang ditambahi rajangan pencit atau mangga muda. Yang jualan banyak, dan memilki route sendiri-sendiri.

  • Sego Roma, agak sulit menuliskannya agar bunyinya pas, ro nya dibunyikan seperti loro [yang berarti dua, bukan yang berarti sakit] dan ma nya dibunyikan seperti limo [lima atau 5 dalam bahasa Jawa], tetapi biar keren ditulis saja Roma. Roma ini merujuk pada suatu desa di sebelah barat kota Gresik, tempat tinggal penjualnya, bukan Roma yang di selatan Gresik dekat gerbang tol seberang jembatan Kali Tangi. Apalagi dengan Roma ibukota negara Italia.

Kebanyakan, selain orang Gresik agak segan untuk memulai menyantap sego roma ini, kecuali yang punya jiwa ‘petualang’. Tetapi bagi orang Minang, mungkin akan lebih mudah menerimanya, karena bumbunya seperti bumbu sate Padang, terutama sate Lawe. Salah satu penjaja yang konsisten dan setia membuat sego roma ini adalah bi’ Jama’ah [jangan ditambahi Islamiyah, nanti diuber-uber polisi Ostrali].

Nasi ini disajikan dengan tambahan kukusan atau godogan sayur godong pecuk [daunnya kayu tumper, godong api-api, alias bakau], kerupuk welulang [rambak], dan tentu saja bumbunya yang khas, serta sambel dan poyah. Kalau godong pecuk tak ada, anda bisa mensubstitusinya dengan daun singkong, walau beda ya bolehlah. Sayur dan kerupuk welulangnya [yang dihancurkan walau tak sampai lebur] ditaburkan di atas nasi yang digelar secara tipis, dan kemudian ditutupi dengan bumbunya secara merata.

Bumbu sego roma ini berbahan baku tepung beras, ditambah santan kelapa dan bumbu lodeh, dan agar gurih [hukumnya wajib] tambahkan udang, baik yang dihaluskan maupun dibiarkan utuh [agar ketahuan udangnya]. Bi’ Jama’ah dan penjual sego roma lainnya, melayani pola transaksi yang disebut mbumbokno[i], dimana pembeli menyediakan sendiri nasinya [biasanya sego wadang, yaitu sisa nasi semalam] dan penjual menambahkan bumbu dan asesori lainnya. Dengan biaya yang sama, tetapi lebih mengenyangkan.

Poyah, dibuat dari kulit kelapa yang disangrai. Bukan kulitnya yang keras atau tempurung, tetapi kupasan kulitnya yang tipis dan kemudan dihaluskan. Poyah ini ditaburkan diatas bumbu yang sudah digelar.

Sambelnya biasa saja, malah cenderung hanya cabai merah saja. Yang unik, adalah cara menambahkannya. Stok sambel yang berada dalam mangkok, terlebih dahulu ditambahi bumbu roma-nya, dan baru diambil untuk diletakkan di takir atau piringnya.

Kuranglah afdhol bila membeli sego roma tetapi tidak menuntut bonus berupa langit. Tentunya bukan langit yang diangkasa, tetapi suatu lapisan yang relatif lebih padat yang terbentuk pada bagian atas bumbu sego roma karena proses pendinginan di permukaannya. Memang langit itu lebih gurih, karena mungkin terkonsentrasinya bumbu-bumbu pada saat pendinginan berlangsung.

  • Lontong bumbu manggul, adalah turunan atau sudara dekatnya sego roma. Hanya saja bahan baku utamanya berupa lontong, dan disajikan hanya dengan bumbu manggul [yang juga relatif sama dengan bumbunya sego roma, hanya agak pucatan] dengan sambal dan poyah saja. Tanpa ada sayuran dan krupuk welulang.

  • Karak, tersedia umumnya dalam dua versi. Versi putih ke mangkak-an, dan hitam [atau abu-abu tua]. Disajikan dengan parutan kelapa yang tak terlalu tua. Sebagai teman makan atau lauknya, adalah godo tempe anget, godo tahu, atau mageli. Dulu, katanya sih dibuat dari mengkukus kembali sisa nasi yang sudah dikeringkan [populer dengan sebutan nasi aking di daerah lain], sebagai upaya pendaur-ulangan. Tetapi sekarang sih, dibuat dari beras yang direndam air kapur dan dicampur dengan ketan putih atau ketan hitam [untuk versi hitam]. Mageli ini juga dijual bebas, terbuat dari kacang tolo yang setengah hancur, dengan tambahan bumbu dan bahan lain. Dicetak dengan tangan, dengan menunjukkan adanya bekas jari baru kemudian digoreng. Bisa dimakan sendiri anget-anget [karena akan keras kalau dingin], dengan ditemani cabe rawit bagi yang suka pedas.

Prosesi ini umumnya berlangsung di wilayah barat, sampai Bedilan, Kauman dan Pekelingan dan hanya sampai sekitar jam 9-an pagi. Kemudian dari wilayah timur akan mulai bergerak suatu pasukan penggendong, yang sebelumnya berjajar rapi di halaman setasiun sepur. Karena dulu jadwal kedatangan kereta api dari Pasarturi adalah sekitar jam 7-an, maka kita sudah bisa menemuinya pada jam tersebut. Mereka datang dari daerah Tandes dan Kandangan. Walau kemudian mereka sudah tidak lagi menggunakan kereta api sebagai sarana transportasi untuk sampai ke Gresik, tetap saja menggunakan halaman setasiun sebagai tempat konsolidasi pasukan ini. Mereka adalah ibu-ibu penjual semanggi [daun inilah yang dipakai sebagai nama Jembatan Semanggi, di Jakarta].

  • Semanggi, adalah sejenis tanaman liar yang tumbuh di sawah-sawah, daunnya terdiri atas empat belah, entah nama ilmiahnya apa. Kukusan daun semanggi ini, diramu dengan bumbu yang terbuat dari kacang sangrai campur bolet[ii] [ubi jalar], dijajakan sebagai kudapan berbasis sayur, di wilayah Surabaya dan Gresik. Karena pasokan daun semanggi umumnya terbatas, maka biasanya ditambahkan filler berupa daun singkong atau kangkung. Atau mungkin juga, sudah ada yang membudidayakan sejak dulu.

Yang membedakan antara penjual yang satu dengan yang lainnya, tentu saja bumbunya dan cara pelayanannya. Salah satu yang cukup terkenal, dan banyak memiliki pelanggan adalah bi’ Ti, yang mudah dikenali karena jangkungnya.

Bumbunya, disediakan dalam keadaan basah padat, dan tergantung pembelinya apa mau pedas atau sedang, maka baru ditambahkan sambalnya, ditambahkan air, dan diaduk sampai diperoleh kekentalan yang diinginkan. Daun semanggi digelar di takir daun pisang, dan dibumbuhi dengan bumbu yang sudah diracik tadi. Bukanlah anak-anak, kalau tidak meminta bonus – bahkan orang tua pun malah lebih getol. Kali ini bonus yang diminta, adalah bumbu kental [bumbu yang belum ditambahi air tadi].

Dulu hanya ada satu jenis kancur, yaitu rempeyek kacang hijau saja. Walau di Surabaya, sudah lama menggunakan kerupuk puli [gendar] dan rempeyek kacang cina. Entah apa rujukannya, rempeyek yang menemani makan semanggi ini, disebut kancur. Mungkin, karena rempeyek ini difungsikan sebagai sendok [atau sekop] waktu memakan semanggi. Dalam bahasa Madura, setidaknya di kalangan pegaraman, istilah kancor/kancur digunakan untuk menyebut sekop yang tanpa gagang kayu.

Memang makan semanggi tidaklah memakai sendok atau pakai suruh [yang dibuat dari daun pisang] seperti kalau membeli sego roma atau lontong bumbu manggul. Umumnya, satu takir semanggi menghabiskan satu helai kancur, tetapi ada pula yang satu banding dua.

Lazimnya, seseorang tidak akan hanya menyantap satu takir semanggi saja. Bisa sampai dua atau tiga, bahkan empat takir. Dan membelinya, biasanya juga tidak sendirian. Bisa berdua, bertiga atau lebih dari itu. Kalau terlalu banyak pesertanya, maka kenikmatan akan terganggu, karena kita harus nggantung untu terlalu lama [karena menunggu giliran dilayani lagi ketika memesan ulang]. Ada komposisi ideal antara kecepatan makan dan jumlah rombongan pembeli.

Makan semanggi kuranglah enak kalau terlalu pagi, tetapi kalau terlalu siang kadang kala susah untuk menemukan posisi penjualnya. Yang aman, bila memang kepingin sekali, datang saja ke stasiun pagi hari, sebelum mereka menyebar.


[i] Dari kata dasar bumbu, mumbokno berarti menambahkan bumbu pada sesuatu [nasi]. Ini banyak ditemui dalam membeli sego roma atau nasi goring;

[ii] Sebutan untuk ubi jalar ini, rupanya khas Gresik. Ternyata, daerah Indramayu juga menyebut ubi jalar dengan bolet. Bukan telo. Ada kesamaan pada dua daerah yang berjauhan. Juga menyebut lorogudig yang di daerah lain disebut krasikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: