PERKAMPUNGAN 06

î

Perempatan atau perlimaan ini, merupakan ‘batas kota’ waktu itu, karena ke arah selatan lagi sepertinya sudah dianggap sangat jauh. Dari istilah yang aku ingat, ada Sabrang, ada Sentolang tetapi persisnya yang mana. Kalau Sumorsongo [yang sangat sulit di-kromo inggilkan, dan dipaksa-paksakan sehingga menjadi ‘siti lebet sedasa kirang setunggal’] saya masih tahu lokasinya dengan tepat.

Pada sisi lain yang berseberangan dengan Gedung Nasional atau GNI, ada bangunan tua berupa rumah panggung dari kayu yang masih dipertahankan hingga menjelang akhir abad 20 lalu, tetapi kemudian oleh pemiliknya dijual, dan jadilah sekarang sebagai pusat perbelanjaan. Bangunan itu tidak lain, adalah rumah dinas Kepala Pegadaian, yang menyatu dengan Kantor Pegadaiannya.

ç

Ke arah barat dari sini, kita akan menyusuri Jalan Olah Raga, disebut begitu mungkin karena adanya Telogodendo yang dijadikan stadion sepakbola. Melihat kontournya, Telogodendo ini mungkin sengaja dibuat untuk tujuan selain sarana olah raga, adalah sesuai dengan namanya. Bisa jadi, ini adalah suatu boozem atau meer sebagai penampung air dikala hujan, guna menampung air yang mengalir dari daerah tangkapan di selatan yang relatif lebih tinggi. Karena, di sisi timurnya kita jumpai suatu gorong-gorong berukuran besar [diameter 160-an cm] yang menuju laut melewati Pabrik Limun Asia, dan ujungnya Kali Wak Sadi itu bermula disini.

Di sisi kiri sebelum Telogodendo, adalah SD II Kebangsaan dan sesudahnya adalah SD Sidokumpul [yang baru, setelah dipindah karena lahannya dipakai GNI], kemudian di sisi kanan ada SMP Negeri, yang kemudian setelah ada SMP Negeri lagi, disebut sebagai SMP Negeri I. Di SMP inilah saya bersekolah dari 1958-1961. Di belakang SMP ini ada SD III Gresik. Walaupun banyak sekolah negeri di jalan ini, tetapi tidak disebut Jalan Pendidikan, karena sudah dipakai. Ada juga SMEP, di siang hari, tetapi sharing dengan SMP atau SD III, saya kurang ingat. Padahal banyak teman SD-ku yang melanjutkana ke SMEP, seperti M. Faqih, M. Zaini, Kamalulazmi dll.

Setelah itu ada selokan dengan jembatan kecil, yang aliran airnya pasti ke utara. Mungkin aliran yang melewati Kampung Ceplokan adalah terusan dari aliran ini, yang kemudian menjadi bagian dari kalitutup di Warung Sembilan.

Di bantaran barat kali ini pada sisi utara jalan, ada dua makam kecil yang nisannya dicat dengan warna merah dan warna putih. Riwayatnya, masih di jaman revolusi tetapi sudah menjelang penyerahan kedaulatan, ada keluarga yang melahirkan anak kembar [saya tak ingat jenis kelaminnya, mohon di cek dengan bentuk nisannya] yang satu berwarna merah dan yang satu berwarna putih atau barangkali tepatnya, yang satu kemerah-merahan dan yang satu keputih-putihan.

Dalam suasana yang menggelora mendambakan kemerdekaan, hal ini diasosiasikan sebagai suatu pertanda akan segera datangnya kemerdekaan yang dinantikan. Maka banyak sekali masyarakat yang ingin tilik atau nyambangi kedua bayi tersebut, yang dijuluki bayi merah putih. Usia bayi ini konon tidaklah panjang, dan kemudian dimakamkan di dekat rumahnya. Sampai beberapa tahun silam, kalau saya melewatinya dan meliriknya, makam merah putih itu masih ada. Wa Allahu a’lam.

Ujung jalan ini, yang asalnya pertigaan, persisnya juga bukan perempatan, karena ada jalan yang disebut sebagai ‘Jalan Jepang’ mungkin merujuk pada pembuatnya dulu, yaitu tentara pendudukan Jepang guna memintas jalan ke arah Tubanan dari Lapangan Satu. Yang lainnya, berlawanan dengan jarum jam ke arah Karangturi, Petro, dan Giri serta jalan Jepang.

è

Ke arah timur jalannya menurun lalu datar melalui jalan yang disebut Jalan Pilang. Entah dari kata apa, tetapi kuingat betul bukan palang. Di sisi kiri ada sekolah yang dikelola oleh warga keturunan Arab, melalui yayasan Malik Ibrahim. Ibuku dulu termasuk pengajar pertamanya, terutama bagi murid-murid wanita. Salah satu tokohnya, adalah ustadz Zain Alkaff, mungkin dulunya dia tinggal di Demak, Kudus atau Semarang, karena keluarga ayahku yang bermukim di sana mengenalnya dengan baik keluarga ustadz ini, terutama isterinya yang dipanggil Bu Pah.

Sisi kiri hampir tak ada gang, entah di sisi kanannya. Dulu di sisi kanannya kebanyakan didominasi oleh rumah yang belum permanen. Sedangkan di sisi kirinya oleh rumah-rumah besar. Sangat kontras memang. Kalau tak salah, pengusaha sarung BHS [Bahasuan] dengan merk BHS, Atlas, Rubat, Marjan dan lain lain, yang sekarang sudah berskala nasional, tinggalnya di jalan ini.

Tusuk sate dengan jalan Pilang ini, ada penginapan dan ada pula usaha peniupan gelas yang membuat aneka kerajinan berbahan baku gelas, seperti burung bangau dan lain lain yang pernah populer di tahun 50-an. Apa masih berlanjut ya.

è

Jalan ini sekarang dikenal sebagai Jalan Panglima Sudirman, disingkat Pangsud, tetapi saya tidak ingat apa namanya waktu itu, mungkin tanpa diberi nama barang kali. Sekarang merupakan jalan dengan berbagai kegiatan atau mix used, istilah perkotaannya, dan cukup ramai dan sibuk baik di pagi, siang atau malam.

Gedung Bank Rakyat Indonesia [BRI] beserta rumah dinasnya berada di sisi kiri jalan ini. Bangunan rumahnya, yah sama dengan gedung segenerasinya, yaitu rumah panggung dari kayu, seperti rumah pimpinan pegadaian. Sekarang sudah berubah mengikuti kemajuan jaman. Kalau tidak salah, isteri dari pimpinan BRI ini adalah salah seorang guru di SD Negeri yang ada.

Di sisi kiri, juga ada Pabrik Limun Asia. Satu-satunya pabrik minuman soft drink pada masa itu. Pabrik ini menggunakan dua brand name, yaitu Asia dan Gede. Tutup botolnya, masih menggunakan keramik dengan lapis karet, yang menjadi kedap dengan sistem mekanisme menggunakan kawat baja. Tetapi juga sudah ada yang menggunakan tutup logam sekali pakai. Pada saat gula sulit diperoleh di tahun-tahun menjelang 1965, pada saat menjelang Iedul Fitri, pernah memberlakukan aturan bagi para pemesan/pembeli diharuskan membawa gula sendiri. Satu kilo gula, setara dengan berapa botol limun. Rasanya memang enak, tidak kalah dengan produknya F&N yang merupakan perusahaan multinasional saat itu. Coca-Cola, fanta belum ada. Sayang sekarang tinggal hanya kenangan, begitu juga bangunannya. Pemiliknya, sepertinya masih sekeluarga dengan Liem Hok Kiet, yang di toko Suling.

Di sisi kanan agak masuk ke dalam, adalah pekuburan Sumursongo, yang terutama digunakan oleh masyarakat tertentu. Konon, pada waktu kuburan Pojok ditutup selama masa pendudukan Jepang, kuburan inilah satu-satunya tempat pemakaman yang digunakan. Kalau tidak salah, kakak kandungku dimakamkan di pekuburan ini. Tapi jangan tanya kepada saya, dimana tepatnya.

Di sisi kanan, sebelum melintasi rel kereta api yang menghubungkan emplasemen Petro Kimia dengan setasiun Indro, ada jalan masuk ke kanan yang sekarang menjadi tempat yang rejo. Ada SMEP di tepi jalan, lalu ada SMA Negeri tempat generasi adik-adik sesudahku menuntut ilmu di tingkat SLTA-nya. Sebelum ada sekolah SMA ini [yang dimulai sebagai SMA 12 Juli – karena sponsornya pihak koperasi] anak-anak Gresik harus meneruskan sekolah jenjang SLTA ke Surabaya. Teman-teman seangkatanku, ada yang di SMA II [paling banyak], SMA III, SMA V, sedangkan saya sendiri semula di SMA III lalu pindah ke STM di Sawahan. Ada juga yang ke SMA swasta milik kelompok Katholik [Santa Maria untuk putri dan St. Louis untuk pria] maupun PETRA. Adik kelasku ada yang di SMA IV ada pula yang di SMA VI.

Ujung jalan ini, sekarang menjadi perempatan besar. Dan mungkin sudah masuk kecamatan lain.

Wa Allahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: