PERKAMPUNGAN 05

<

î

Aloon-aloon, seperti halnya di banyak kota, bentuknya segi empat. Hanya kota-kota di Jawa Tengah yang bentuknya bulat atau dibulatkan. Aloon-aloon ini juga dimanfaatkan sebagai lapangan sepak bola dan kegiatan olah raga lainnya, khususnya bola-voli dan atletik [lompat jauh dan tinggi]. Kegiatan atletik, hanya kadang-kadang saja. Kecuali pada jamannya Cak Zimam, anak Haji Ghazali yang tinggal di Kauman, masih ada.

Masjid Jamik, dan Kantor Penghulu [Naib] ada di sisi barat. Dengan satu bangunan rumah [tempat tinggal Cak Munir dan pak Hamid Didin, ketika beristerikan ibu Zulaikhah] dan kios di bagian utara, dan satu dua rumah di bagian selatan [salah satunya kemudian di pakai oleh wak nDuk untuk meneruskan usaha warungnya].

Sisi utara di dominasi oleh dua bangunan besar salah satunya dikenal sebagai Genteng Guci, dan satunya lagi disebut dengan nama China [tapi saya lupa, mungkin pemiliknya dulu], selain bangunan kantor telepon dan pabrik roti Inbisco [yang sebenarnya adalah rumah tinggal dengan taman yang asri – milik China juga]. Genteng Guci, di saat itu dipakai sebagai asrama tentara, beberapa yang pernah disana antara lain batalyon 507, dan kemudian batalyon G setelah pulang dari missinya di Mesir. Kemudian beralih fungsi menjadi Gedung DPRD tk II Gresik. Sedang Gedung besar yang di sisi barat dipakai sebagai Kantor KODIM 0817 [Komando Distrik Militer] dan berbagai organisasi kerjasama militer – masyarakat yang banyak dimunculkan sebagai sarana pembinaan teritorial, seperti BKSPM [Badan Kerja Sama Pemuda-Militer], BKSUM [Badan Kerja Sama Ulama-Militer] dan lain-lain. Ke arah timur ada jalan Setiabudi.

Di sisi timur, pada lahan aloon-aloon, ada sumur bor, sebuah sumur artesis dengan diameter lebih dari 5 meter, yang airnya mendekati permukaan tanah, dan tidak pernah turun water-level-nya walau kemarau menerpa sepanjang dan sekering apapun. Ada bekas-bekas pompa sentrifugal yang hanya tinggal casing-nya saja. Sisi timur aloon-aloon ini, boleh disebut sebagai sisi gelap, dalam artian yang sesungguhnya, karena hanya bagian samping bangunan besar yang menghadapnya tidak ke Aloon-aloon, melainkan ke gang yang ada. Wilayah ini sudah masuk daerah Pecinan, yang ecara administratif, masuk kelurahan Pulopancikan.

Hanya di dekat sudut timur-selatan, ada beberapa kios dan ada bangunan [yang dipakai untuk kantor KOPRAN], dan asrama CTN [Corps Tjadangan Nasional], yang kemudian setelah dikuasai oleh Haji Thoha Iljas diwakafkan untuk Darul Islam. Ke arah selatan, ada Jalan Gapuro.

Sisi selatan aloon-aloon, berturut turut dari timur setelah Jalan Gapuro, ada dua rumah tinggal, yang ditinggali oleh keluarga Jawa [orangtuanya Sartomo, kiper yang juga kemudian menjadi anggota TNI-AD, sampai kejajaran Pati dan aktif di kepengurusan PSSI jamannya Agum Gumelar], dan keluarga Daoed Didin [seorang mantri di Rumah Sakit, keturunan Maluku], lalu rumah besar yang dipakai sebagai pabrik tenun ATBM [alat tenun bukan mesin], Rumah Sakit, dan komplek Paseban. Ditilik dari adanya nama Paseban, sisi inilah bekas kedudukan Bupati atau Adipati di Gresik dulu. [Apalagi di belakang atau selatannya ada kampung Magersari]. Di sudut selatan-barat, sejajar dengan Jalan gapuro, ada Jalan Pahlawan.

Dari sisi administratif, aloon-aloon ini sepertinya menjadi ‘daerah federal’ atau ‘free-zone’ karena masing-masing kelurahan, sepertinya hanya sampai berbatasan dengan sisinya aloon-aloon ini. Bedilan berada di sisi utara, Kauman di sisi barat, Pulopancikan [Pecinan] di sisi timur, dan Gapuro di sisi selatannya.

Kalau dalam daerah daerah tertentu, katanya pola arsitektur dan lay-out disekitar aloon-aloon, adalah Keraton di satu sisi, sisi lainnya masjid, sisi lainnya lagi penjara dan tangsi. Entah, apa di Gresik mengikuti pola tersebut.

ç

Wilayah bagian barat aloon-aloon ini, adalah daerah Pekauman. Sepertinya wilayah Pekauman ini tidaklah begitu luas, dibatasi oleh Bedilan di Utara, Aloon-aloon di timur, Telogobendung di Selatan dan Teratee/Karangturi di Barat. Pekauman Gang I, berbagi dengan Bedilan Gang I, lalu ada gang II di sisi utara masjid, lalu Gang III, yang di dalamnya bercabang dua, yang lebih populer dengan sebutan Kaliboto [tetapi dimana kalinya, dan apa arti ‘butuh’ disini]. Dibagian barat Kaliboto ini, ketika gangnya menyatu kembali, ada sebuah telogo kecil, tadah hujan atau jublang-lah. Di Kaliboto ini, hari raya Iedul Fitri baru dirayakan seminggu sesudahnya, setelah warganya menyelesaikan puasa Syawwal selama enam hari setelah Hari Raya, yang dikenal sebagai Riyoyo Kupat. Memang orang Gresik, membuat ketupatnya bukan pada hari raya, tetapi seminggu setelah hari raya. Riyoyo Kupat juga dirayakan di gang sebelahnya, Gang IV yang populer dengan sebutan Bekaka’an.

Saya dulu diwaktu kecil, belajar mengaji di langgar yang ada di Kaliboto ini, yang diasuh oleh dua Syamsul – tetapi tidak bersaudara – yaitu Syamsul Anam saudaranya pak Sya’roni Aziz, dan Syamsul Hadi yang kakaknya Satria. Disamping mengaji juz Amma, juga ada kegiatan diba’an yang dilakukan setiap malam Jumat dengan cara tarikan. Yang suaranya bagus dalam qiraah, antara lain Ron Aing, anaknya wak Ajib.

ç

Jalan yang melewati sisi barat Aloon-aloon ini, merupakan pintu masuk utama ke kota Gresik dari arah Selatan, atau arah Surabaya, yaitu Jalan Pahlawan. Di sisi kanan jalan Pahlawan ini, setelah Pekauman gang IV, atau Bekaka’an, ada Jalan Telogobendung yang nantinya akan bertemu dengan jalan Teratee dan jalan Akim Hayat. Di jalan Telogobendung ini, ada beberapa gang di sisi kiri dan kanannya, yang saya tak begitu ingat lagi nama-namanya, dan ada kali yang merupakan bagian hulu dari kali dimana terdapat geladak wak Sadi, dan kali tutupnya Basiran, yang merupakan salah satu main-drain bagi kota Gresik.

Yang kuingat, dari Kaliboto, ada gang arah utara-selatan yang terus sampai di dekat SD III Gresik, di belakang SMP. Gang ini sering dilalui anak-anak yang jalan kaki, sebagai jalan alternatif ke SMP karena lebih rindang dibanding Jalan Pahlawan. Namanya Kampung mBapang.

Di sisi kanan jalan ini, sebelum jembatan dulunya ada rumah panggung dari kayu yang difungsikan sebagai penginapan. Apa namamnya, lupa. Begitulah sifatnya suatu ingatan, jika tidak di-refresh maka dia akan tersimpan dalam-dalam pada sistem memori kita, dan akan sulit di-retrieve, tetapi sebenarnya tidak hilang. Tidak ada yang ter-delete dalam sistem memori di otak kita, hanya saja retrievel system-nya yang sowak. Sebaliknya semakin sering di-retrieve jalan menuju memori tersebut akan semakin besar, dan bahkan lokasi penyimpanannya pun dialihkan ke cache-memory, yang lebih siap di retrieve. Bukan otak kita yang meniru komputer, tetapi sebaliknya komputerlah yang meniru otak kita.

ê

Sisi selatan aloon-aloon ini, kembali ke Jalan Pahlawan, di sisi kiri dulu ada bioskop Orion, yang mungkin kemudian dibongkar dan dibangun menjadi rumah besar milik keluarg Noorpihan. Di sisi kiri yang masuk dalam wilayah administratif kelurahan Gapuro, ada gang Magersari dimana ada penggergajian kayu milik keluarga Darmadji [mungkin namanya Sudarmadji]. Pak Darmadji ini, bisa disebut sebagai “Sidek”-nya Gresik pada saat itu [meniru keluarga Sidek di Malaysia]. Dia melahirkan banyak pemain bulutangkis handal di Gresik, dan diantaranya adalah anak-anaknya sendiri. Ada yang tertua, perempuan saya tak ingat namanya [mungkin Tuti], lalu dua lelaki kakak beradik [Yono dan ….], dan teman-temannya antara lain Go Kian Song dan Go Kian Pun [dua bersaudara anak Go Keng Yuu] yang tinggal di ujung selatan jalan Pahlawan ini. Kalau tak salah, klub badmintonnya bernama Merpati. Keluarga tersebut hilang dari percaturan setelah meletusnya G30S-PKI sehingga nama-namanya tidak kuingat lagi, walau dulu ya kenal.

Selanjutnya, ada Taman Makam Pahlawan, yang letaknya berbatasan dengan pemakaman keluarga para Bupati / Adipati Gresik, dan makam Maulana Malik Ibrahim atau Maulana Maghribi yang berada di Jalan Gapuro. Para pahlawan yang dimakamkan disini, dulunya tersebar di beberapa lokasi pemakaman selama revolusi, dan kemudian dipindahkan setelah penyerahan kedaulatan. Saya tak ingat tanggalnya, tetapi masih ingat kesibukannya.

Di sisi kanan, yang masuk wilayah administratif Telogobendung [dengan lurahnya wak Inggi Brengos, yang punya anak Ishak yang menjadi dokter], terdapat banyak gang yang ujung-ujungnya di gang Kampung mBapang tadi. Berseberangan dengan Taman Makam Pahlawan, adalah kantor RR atau Dinas Kebersihan, Dinas Pekerjaan Umum, tempat pembayaran air ledeng, tempat membayar pening sepeda, tempat PMK. Sekarang, komplek perkantoran ini menjadi tempat parkir bagi para peziarah yang akan berziarah ke kompleks makam Maulana Malik Ibrahim.

Sebelum komplek perkantoran ini, ada sebuah rumah yang menjadi kantornya PKI dan Pemuda Rakyat serta organisasi onderbouwnya. Yang jelas bukan CC atau CDB, entah istilahnya apa. Dan ada sudah bisa memperkirakan nasibnya di awal tahun 1966 selepas pemberontakan dan pengkhianatan G30S-PKI.

Sesudah komplek perkantoran ini, ada sederetan rumah-rumah petak, dimana salah satunya ditinggali oleh Ko Wi , salah seorang tukang cukur legendaris di Gresik, yang membuka praktek di Garling, disamping rumahku. Lalu ada kantor KPM [Koningklijke Paketvaart Maatschapij] perusahaan pelayaran milik Belanda, yang kemudian menjadi PELNI setelah dinasionalisasi seiring perjuangan merebut Irian Barat. Bangunannya berupa rumah panggung. Sesudah itu, di ujung jalan, ada juga bentuk rumah panggung dengan halaman luas, yaitu SD SIDOKUMPUL, sesuai dengan nama wilayah ini yaitu Sidokumpul.

SD Sidokumpul ini, dibawah pimpinan pak Mustakim, cukup terkenal karena beberapa kali berhasil meluluskan murid-muridnya dalam ujian negara dengan 100%, sesuatu yang jarang bisa dicapai pada masa itu, bahkan oleh sekolah yang lebih elite seperti SD II Kebangsaan, apalagi oleh sekolah lain dan madrasah. Tetapi kenyataan sesudahnya, tidaklah tinggi persentase yang diterima di SMP Negeri, yang sistem penerimaannya berdasarkan jumlah angka. Mungkin metode pengajarannya menganut model drilling seperti yang diterapkan di berbagai bimbel SMA untuk masuk perguruan tinggi negeri saat ini.

Menjelang akhir 50-an atau awal 60-an, lokasi tempat SD Sidokumpul ini berada kemudian dibangun Gedung Nasional Indonesia [GNI], sedang sekolahnya sendiri di pindah ke sebelah barat Telogodendo.

Ujung selatan Jalan Pahlawan ini, berupa perempatan yang kemudian menjadi perlimaan karena adanya ‘embong seluwar’ – entah nama ini dikenal umum apa tidak, tetapi bapakku memperkenalkan kepada anak-anaknya sebagai embong seluwar – karena bercabang membentuk Jalan Pilang dan Jalan Gapuro atau Malik Ibrahim, dan membentuk seperti celana pendek yang juga disebut seluwar. Di Surabaya, ada bentuk semacam itu dan dikenal sebagai Aloon-aloon Contong.

ê

Sisi aloon-aloon di timur menerus ke Jalan Gapuro, Jalan Malik Ibrahim. Sampai bertemu embong seluwar. Gapuro konon sudah ada semenjak zaman hidupnya Malik ibrahim, yang juga disebut sebagai Maulana Maghribi [junjungan yang datang dari barat], yang berasal kata ghafura, dan dalam pengertian lain gapura juga berarti gerbang. Gerbang menuju kehidupan baru yang damai.

Di sisi sisi jalan ini relatif tidak banyak gang, baik yang menuju ke sisi Jalan Pahlawan, maupun Jalan Pulopancikan. Ini berarti ukuran kavling disini memang besar-besar. Banyak didominasi oleh rumah-rumah besar yang juga sebagian digunakan sebagai pusat produksi sarung tenun.

Di sekitar makam Malik Ibrahim, ditumbuhi pohon beringin yang sudah tua dan sangat besar membuat suasana menjadi sangat angker. Ketika Proklamator dan Presiden Soekarno datang ke Gresik, dengan pakaian putih-putih khasnya seperti jendral Maxwell dan dengan picinya yang pas, menyempatkan diri untuk berziarah dan berdoa di makam Malik Ibrahim ini, setelah usainya rapat akbar di aloon-aloon.

Sepertinya hanya ada satu gang yang lebar yang bisa dilalui kendaraan bermotor yang tembus ke Pulopancikan, dimana tinggal Noorfadhilah yang orang tuanya masih kerabat H. Affandi Sidik.

Wilayah Gapuro dan Pulopancikan, sering disebut sebagai Kampung Arab karena memang banyak dihuni warga keturunan Arab, hanya di Pulopancikan banyak juga tinggal keluarga lain. Warga keturunan Cina tinggal di wilayah Pecinan yang berdampingan dengan kampung Arab. Apa ini dulu bagian planologi dan tata ruang wilayah yang dibuat oleh pemerintah penjajahan Belanda, atau memang secara natural mereka memilih begitu.

Satu Tanggapan to “PERKAMPUNGAN 05”

  1. sumur artesis Says:

    thanks atas informasinya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: