PERKAMPUNGAN 04

î

Kita kembali lagi ke Lojie Gede ya. Dan memulainya dari perempatan di pompa bensin.

é

Ke arah utara, jalannya lengkung dan tanpa terasa akan berubah arah menjadi kebarat. Sehingga nantinya akan ketemu dengan Jalan Sukodono [yang ada Bale Gedenya tadi]. Karena di sisi kanan ruas jalan panjang ini ada stasiun kereta api, maka jalannya disebut Jalan Stasioon. Karena sepanjang jalan itu juga banyak terdapat sekolah, yaitu Madrasah Banaat [walau di gang], dan HIS, yang kemudian berubah menjadi SD II atau disebut juga SD Kebangsaan, lalu ditempati SGB [Sekolah Guru B], lalu diganti SMP II setelah SD Kebangsaan pindah. Saya juga pernah sekolah di SD II ini walau hanya sebentar sekali. [lihat Sekolah dan guruku]

Lalu di sebelah kiri ada bangunan madrasah Asmaaiyah, yang dikelola oleh Perguruan Darul Islam, suatu organisasi lokal yang umurnya sudah mendekati 75 tahun. Di bangunan sekolah ini, selain untuk madrasah khusus puteri tersebut, juga kemudian dipakai oleh PGAP Puteri [4 tahun] dan kemudian menjadi PGAL Puteri [6 tahun], serta untuk kegiatan pendidikan lainnya, antara lain untuk anak-anak yatim dan miskin. Organisasi ini dulu namanya Darul Islam saja, dan baru ketika ada pergolakan yang namanya Darul Islam, maka kemudian ditambahkan kata Perguruan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Dulunya adalah organisasi pemuda lokal bernama Syubbanul Muslimin.

Kemudian di sisi kanan, berhadapan dengan jalan Kemuteran, adalah basisnya Perguruan Muhammadiyah. Mulai dari SD, kemudian berkembang sampai SMP dan SMA. Dan sebelumnya, di gang di sisi kirinya, tepatnya di Pasar Sore, ada Bustanul Atfal [TK-nya] Aisyiyah. Dan akhirnya di sisi sebelah kanan, berhadapan dengan Kalitutup, ada Madrasah POEMOESGRI.

Karena itu, dari jalan Stasioon, nama jalan ini diganti menjadi Jalan Pendidikan, dan kemudian pada masa penggantian berikutnya menjadi Jalan KH Cholil, sebagai penghormatan kepada ulama sepuh yang dimasa kecilnya bernama Marlikhan. Beliau juga dikenal sebagai Kiyai Marlikhan, setidaknya oleh generasi nenekku.

KH Cholil ini juga memiliki pondok pesantren yang terletak di sisi kanan jalan Pendidikan ini, tepatnya di daerah Belandongan, yaitu sebelum garasinya Bis Moedah. Jadi nama jalan Pendidikan, itu pas lah. Tetapi dengan memberi nama Jalan KH Cholil, juga sangat cocok buat jalan ini, sebagai penghormatan kepada seorang Kiyai yang memiliki banyak sekali murid dan berjasa bagi pengembangan Islam di masanya dan masa sesudahnya.

Nakalnya anak-anak juga sampai ke lingkungan belajar ngaji. Konon, ada muridnya Kiyai Cholil, yang entah sengaja memplesetkan atau keseleo lidah karena takutnya berhadapan, ketika membaca al Quran ayat kedua surat kedua, pada bagian akhir terbaca menjadi “la yai rai babi”, yang seharusnya “laa raiba fih”, maka dengan spontan sang kiyai lalu menimpali dengan “bapakmu rai celeng”. Kelewatan ya, Quran aja di plesetkan [lihat “Tembang Kenangan”]

Setelah melewati pertigaan jalan Kebungson, di sisi kiri akan ada gang yang disebut Sentono, yang merupakan pintu gerbang ke pesarean Nyai Ageng Pinatih. Di banding pesarean Yai Ageng Arem-arem, dan Raden Santri, pesarean Nyai Ageng Pinatih ini lebih banyak dikunjungi peziarah, biasanya malah justru sebelum ke Sunan Giri. Saya sendiri belum pernah mencoba cari tahu, dimanakah kira-kira dahulunya tempat tinggal saudagar besar ini semasa hidupnya?

Selanjutnya, disebelah kiri ada gang dimana Madrasah Banaat berada. Sesuai namanya madrasah ini khusus untuk putri. Lalu diikuti dengan gang Mangkatan, dan Kepatihan. Kemudian Perguruan Darul Islam, yang diapit dengan gang buntu yang menuju sumur Tangsi, baru kemudian gang Bejarangan dimana wak Inggi Kadri tinggal.

Setelah kita bertemu dengan jalan Pekelingan di sebelah kiri, di sisi kanannya ada gang lebar dengan selokan di tengah yang menuju ke laut, melintasi rel kereta api yang menuju ke Duduksampean [sebelum relnya diangkat setelah kemerdekaan]. Daerah di sisi kiri ini disebut Belandongan, mungkin barangkali tempat diturunkannya kayu-kayu besar yang diangkut dengan perahu. Karena mamang kalau tak salah dulunya ada penggergajian kayu disini.

Setelah melewati Perguruan Muhammadiyah, maka kita memasuki wilayah Kroman, melintasi rel kereta apai, dan kemudian berbelok di ujungnya. Kalau kita tidak berbelok, tetapi lurus memasuki gang, kita memasuki wilayah pengolahan ikan, yang disebut dengan Lumpur, walau tanahnya tidak berlumpur.

Kalau belum pernah kesini, hendaknya hati-hati. Dan cobalah beraklimatisasi dahulu. Jangan sekali-kali menutup hidung, karena itu berarti menunjukkan sikap permusuhan dengan penghuni Lumpur. Di sinilah berbagai produk berbasis ikan diolah, antara lain ikan asin, terasi dan petis. Petisnya Haji Dja’ah terkenal pada masa dulu, entah apa sekarang ada penerusnya.

è

Dari perempatan ini, ke arah timur adalah Jalan Pelabuhan, dan tentu saja akan mengarah ke Pelabuhan, yang oleh penduduk Gresik di sebut brug. Di sini ada SD Bedilan, dimana saya pertama kali merasakan pendidikan formal. Tak lama,dan tidak tahu persis. Karena sepertinya, waktu itu umurku belum sampai. Mungkin aku bisa diterima, karena bapakku kenal baik dengan Ibu Siswomihardjo, yang mungkin menjadi kepala sekolah disitu. Yang mengajarkan bernama pak Sabin, sudah berumur. Ketika kemudian di pindah ke ex HIS, atau SD II yang di Kebungson, kemudian saya keluar atau dikeluarkan. Dan pindah ke MINU Sukodono.

Di SD I Bedilan atau Sekolah Brug ini, banyak muridnya justru dari wilayah di utara-barat. Entah kenapa. Sehingga waktu berangkat dan pulangnya mereka, akan menjadikan ramai jalanan di Lojie dan Garling.

Setelah melewati SD yang berada di sisi kanan, akan kita temui jalan dengan kelebaran lumayan, tetapi pada saat itu belum di aspal, Jalan Bandaran. Jalan ini lurus saja, pada awalnya di kiri kanan masih ada rumah, tetapi kemudian di kirinya hanya ada rel kereta api dan pantai Pulopancikan. Di sini ada rumah potong hewan [barang kali setelah dipindahkan dari Kampung Jagalan] milik pemerintah, dan juga sekolah dasar yang dikelola oleh warga keturunan China, Taruna Nan Harapan [versi bahasa Indonesianya TNH, Tsien Nin Hui ?]. Beberapa teman SMP ku adalah lulusan sekolah TNH ini. Yang sekelas dan adik kelas, adalah Han Giok Lie [Lilani Handoyo], dan Kho Hwa Nio [cucu atau anaknya Jamu Nya Putri], Mbun [cucunya Nya Medel], Kho Giok Ien, Keong [sebutannya] yang rumahnya di Bedilan samping toko Pantes, anaknya Nya Bangkalan. Maaf kalau ejaannya kurang tepat.

Kemudian kita akan melewati sederatan toko-toko dan dan aneka warung di kedua sisi jalan, sampai melintasi jalan kereta api, sepertinya ada lahan yang cukup luas, yang digunakan sebagai tempat mangkal prahoto dan cikar serta becak. Jalan kekiri merupakan akses ke wilayah pergudangan di stasiun. Dan sesudah itu, boleh dikata kita telah memasuki wilayah pelabuhan. [lihat The Landmarks]. Sebelum melintas rel, ada juga gang ke arah kanan menyusuri sepanjang rel kereta api. Di sinilah rumah temanku di SD Sukodono, Abdurrahman. Tetapi akhirnya buntu.

ê

Ke selatan, Jalan Bhayangkara yang kemudian menjadi Jalan KS Tubun, menghormati korban kekejian G30S-PKI. Dilihat dari nama jalannya, kita sudah yakin bahwa disitulah berada asrama polisi dan juga rumah tahanannya. Kalau yang di jalan Pemuda, adalah kantor setingkat kecamatan, Polsek. Dan kemudian seiring dengan perpindahan perangkat kabupaten, Polres-nya yang asalnya berada di Kembang Kuning, jalan Diponegoro, Surabaya, akhirnya menempati bangunan itu. Salah satu Kapolsek yang dekat dengan masyarakat, karena kita berteman dengan bu Kapolsek adalah Pak Sunaryo dan Bu Sunaryo.

Sebuah pertigaan, mempertemukan jalan ini dengan Jalan Setiabudi yang berujung di sudut utara-timur Aloon-aloon, dimana pabrik biskuit Inbisco berada. Dan kemudian ada gang lebar yang dapat dilalui kendaraan yang bermuara di depan sumur bor, lalu diikuti lagi dengan sebuah gang lebar lagi yang bermuara di Jalan Gapuro.

Banyak sekali gang-gang di kiri jalan Pulopancikan ini, kalau tidak salah, sampai pertigaan jalan Pilang, bisa mencapai 30-an [terlihat dari nomer gangnya – sebelum mereka kemudian mengganti dengan nama-nama orang]. Ruas jalannya panjang, dan jarak antara gang yang satu dengan yang lain dekat, dan gangnya hanya ada di sisi kiri [timur] jalan saja. Terusan jalan Pulopancikan, yang belum dilapis aspal, nantinya akan menyatu dengan Jalan Bandaran, dan menerus ke arah Keramat, Mambung, [Pelabuhan Semen], Indro, dan Karang Kering [Kerangkiring], sampai di Segoro Madu dekat Jembatan Kalitangi. Konon ruas jalan inilah yang dibuat oleh Daendles, sebagai kelanjutan jalan yang dari Manyar. Jalur jalan ini, di tahun 90-an sudah menjadi jalan dengan konstruksi rigid pavement yang lebar, semacam jalan lingkar Gresik, begitulah.

4 Tanggapan to “PERKAMPUNGAN 04”

  1. yani santoso Says:

    dulu waktu sekolah di smp 2 sering ada plesetan banat kacang ijo durung sunat njaluk bojo….terus TNH bubar diganti dengan SD.AT thohiriyah dan mantan kasek SD TNH th 60 an sampai sekarang masih hidup beliau bernama ibu Hari Soewarsi yang katanya dulu sempat kos di bu Sis …..

    • Saifuddien Sjaaf Says:

      Ya, memang plesetan atau “ledekan” bahwa “Banaat Kacang Ijo” untuk merujuk pada sekolah Banat yang ada di Gang Kebungson [depan SMP II], dan itu sudah ada mungkin semenjak berdirinya sekolah itu. Banaat adalah bentuk jamak [plural] dari kata bintun [anak perempuan], karena sekolah itu memang khusus untuk murid perempuan. Dan sebagai sampiran, maka kata ikutannya adalah “Durung sunat njaluk bojo”.

      Kalau Kepala Sekolah TNH – Tarunan Nan Harapan – [kalau tidak salah], adalah metamorfosa dari Tsin Nin Hui [TNH]. Ini sekolah Cina yang warga negara Indonesia. Memang kepala sekolahnya perempuan, tapi saya tidak tahu namanya. Saya tahu wajahnya dan berambut panjang.

      Entah apakah dia indekos di rumahnya Bu Siswomiharjo apa tidak. Setahu saya yang kost di Bu Sis – pada masa itu – adalah pak Arief [guru Olah Raga SMP II] yang kemudian menikahi bu Mien [guru TK Batik] – yang keluarga Pak Bisri Adisoedarmo [Wedana Gresik] waktu itu. Selama 1958-1961 ketika saya sering main ke rumah Pak Siswomihardjo – karena berteman dengan Bambang Surjanto [adik Mas Bambang Suryawan], sedang kakak-kakak mereka [mBak Wik dan mBak Har] sudah tidak di rumah itu lagi [menjadi KOWAD angkatan awal-awal].

      Begitulah seingatku.

      Entahlah kalau kos di rumah Bu Sis itu, setelah Pak Arief menikah dan setelah tahun 1962an.

      Salam

  2. yani santoso Says:

    betul pak tsi nin hui bahkan ledekannya saat main volley saat itu (Maaf lho ) Taek Numpak Honda (sekali lagi maaf) .kepsek nya perempuan berambut panjang betul pak……..orang asli lumajang dan suaminya dulu guru SD Trijaya dekat pelabuhan ……….Lho pak Bambang yang jadi Pangarmatim klo nggak salah istrinya karyawan semen klo nggak salah namanya Mbak yudi yang bapaknya tinggal di pekelingan dan rumahnya atasnya ada gambar singanya ….

    • Saifuddien Sjaaf Says:

      Betul sekali, rumah tempat tinggalnya isterinya Bambang Surjanto [yang pernah sebagai Pangarmatim dan calon KSAL] itu oleh orang-orang tua dulu disebutnya Yang Mbo. Mungkin pemilik dan yang tinggal disitu dimasa sebelum kemerdekaan.

      Wah, malah saya tidak pernah tahu ada SD TRIJAYA dan juga yang tadi disebutkan TNH jadi At-Tahiriyah. Rupanya perkembangan setelah 1964 ya

      Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: