PERKAMPUNGAN 03

î

Kita kembali ke Jalan Niaga, di perempatan Dor-Tar. Karena di dekat situ ada toko rokok yang dkelola oleh dua bersaudara, Muchdor dan Muchtar, yang sangat ramai pembeli. Untuk memudahkan, orang menyebut Dor-Tar.

ê

Ke arah selatan, adalah daerah kelurahan Karangpoh [tetapi di mana pohon mangganya]. Tetapi jalannya dinamai Jalan Teratee, dan kemudian di ganti jalan apa saya kurang tahu. Mungkin ini seperti di Jakarta, ada Kebon Sirih, Kebon Melati dll, hanya di Gresik, bukan kebon tetapi Karang. Ada Karangpoh [yang kalau orang tua suka di-kromoinggil-kan menjadi Kawispelem], Karangbolet, Karangturi, Karangmesem, Karangkering yang terpleset menjadi Kerangkiring].

Saya tak tahu persis nomer-nomer gangnya, tetapi kiri kanannya masih wilayahnya Karangpoh, baru di sisi selatannya masuk wilayah Teratee atau Teratai. Mulai dari sisi kiri ada gangnya wak Kasrawi. Ini kuingat karena dalam tulisan arab namanya cukup ditulis dengan satu huruf dan satu tanda baca, yaitu

ِو

yang dibaca dengan mengeja – ‘wau nya pelan lalu yang keras – kasra wi’. Dan di seberangnya ada gang, yang ada langgar Abadi. Saya tak tahu pasti, yang disebut Kampung Areng, yang di kiri atau yang di kanan. Karena saya sudah tidak menemui yang jual atau jadi agen areng di situ.

Lalu di sebelah kanan ada gang, yang ini gang XII, yaitu gangnya Haji Toha Iljas, lalu di sebelah kiri ada gang yang dijungnya ada sumur, yaitu gangnya wak Sail, sang lurah Karangpoh. Di kanan ada gangnya pak Sakdan Nuri. Lalu di kiri Kampung Ombo.

Hingga di sini belum ada nama-nama yang istimewa, karena belum punya nama khas. Sekarang, berturut-turut di sebelah kiri ada Kampung Jagalan, Lalu Kampung Buyut Biting, dan Kampung Bor. Salah satu ujung kampung di Utara, entah Jagalan atau Buyut Biting, disebut Kampung Kemayoran. Sedangkan di sisi kanan ujung Kampung Bor, ada yang disebut Kampung Jangkrik.

Sedangkan di sebelah kanan, bertentangan dengan Kampung Bor, ada Kampung Selusin [konon jumlah rumahnya hanya 12 buah saja], lalu ada Kampung Ceplokan yang menerus sampai ke Karangturi. Ceplokan dan Kampung Bor ini, sepertinya merupakan batas antara wilayah administratif Karangpoh dengan Teratee [Lurah Teratee ini pernah dijabat oleh mantan guru SD saya, yaitu Cak Ron – Ghufron yang orangnya tinggi berkacamata, mengajar Bahasa Indonesia, Olah Raga dan Menyanyi].

Memasuki wilayah Teratee, sudah tidak ada lagi nama-nama khusus dari kampung, kecuali Semarangan yang di ujung timur masuk wilayah Bedilan. Di ujung timur Semarangan ini, adalah Madrasah Salafiyah yang dulu dikelola oleh Kiyai Rofiie, salah satu tokoh Perguruan Darul Islam, Gresik. Sesudah itu, disebelah kiri ada gang lagi, yang tembus ke Kaliboto [wilayah Pekauman]. Di gang ini, yang merupakan bagian jalanku berangkat sekolah ke MINU Teratee setelah ngaji di Kaliboto. Ada bangunan Bank Desa, yang entah fungsinya apa, dan kemudian nasibnya bagaimana.

Sebelum sekolah MINU Teratee ada gang, tetapi sesudah sekolah tak ada lagi, sampai ke jalan tembus yang baru dibuat di tahun 60-an, yaitu Jalan Akim Hayat. Aku dulu sekolah di sekolah yang terletak di tepian danau ini. Dimana di bibir danau ditumbuhi rumpun bambu, dan di danau ini mungkin dulu tumbuh bunga Teratai yang kemudian dijadikan sebutan bagi wilayah ini.

Tetapi ketika aku mengenalnya, teratai itu sudah tiada. Hanya di waktu-waktu tertentu sangat subur tumbuh sejenis gulma air yang akan menutupi seluruh permukaan danau, tetapi bukan teratai. Konon sekarang sudah mendangkal, dan dengan sendirinya menyempit. Tiada lagi Telogo Teratee.

Jalan Teratee ini, jalannya cak War dan wak Kusen mulai melanglang ke kampung-kampung lain setiap sorenya. Kalau nunggu cotonya cak War, lakukan disini selepas maghrib, insya Allah akan ketemu dalam keadaan masih lengkap, tetapi kuahnya belum sepekat pulut. [Tetapi kalau nunggunya sekarang, dan ada yang betul-betul lewat, ya pikir-pikir dulu. Semoga amal perbuatan cak War dan dharma bhaktinya dengan menyajikan coto yang istimewa mendapat balasan yang setimpal. Amien.]

é

Jalan yang dibelah saluran air yang ditutup dan karena itu disebut Kalitutup, dari dulu sampai sekarang saya tak tahu nama resminya. Pada hal dulu sekali, saya pernah sekolah di situ lho. Di bagian selatan masuk wilayah Sukodono, tetapi di bagian utara, masuk wilayah Kroman [lurahnya wak inggi Ikhsan, bapaknya Burhanuddin dan Mulyadi].

Gang-gang disisi timur, semuanya akan berhubungan dengan Jalan Kemuteran. Memang batas antara Kemuteran dan Sukodono ini tidak dipisahkan secara jelas oleh batas-batas geografis, seperti jalan, got atau apa. Entah bagaimana penentuannya dulu.

Di sisi kiri, dimulai dengan gang yang berbatasan dengan pintu pasar. Seingatku, sekolahku dulu diapit oleh Sukodono gang IV dan gang VI, dan gang yang membujur sejajar dengan Kalitutup, mulai dari pintu Utara Pasar Gresik, sampai ke jalan raya di Keroman sana. Gang-gang ini juga unjungnya sampai di jalan Sukodono, yang sejajar dengan Kalitutup.

î

ê

Dari perempatan Wak Truno, ke arah selatan adalah Jalan Karangturi, Jalan Usman Sadar, seperti jalan Teratee, jalannya menanjak ke arah selatan, lalu kemudian mendatar ketika ada belokan ke jalan tembus Akim Hayat. Di kanan banyak gang-gang, dan wilayahnya disebut Karangbolet, tempatnya pedagang bakso, dan gado-gado. Terutama yang berasal dari Cermee, Balongpanggang, Lamongan dan sebagainya. Disini dulu juga tempat tinggal pak Riduwan alias Samson Indonesia. Orangnya gempal dan rambutnya jembrak. Disisi kiri, dulu pernah mengalami kebakaran, konon tempatnya tong-ge.

Setelah wilayah Karangturi, kita memasuki yang disebut Sukorame, sampai bertemu dengan perempatan Perumahan Rakyat [sekarang Perempatan PETRO], yang jalan kekirinya Jalan Olah Raga. Sedangkan ke kanannya, adalah daerah yang sekarang jadi komplek Petro Kimia, yang dulunya disebut Lapangan Satu. Konon dulu tempat konsentrasi romusha, dan rupanya balatentara Dai Nippon akan menjadikannya sebagai landasan pesawat terbang darurat, atau sekedar dropping zone. Pada saat terjadi wabah cacar di awal 50-an, daerah Lapangan Satu, atau Ngipik ini dijadikan tempat isolasi para penderita cacar tersebut.

Terus kearah selatan, memasuki wilayah Telogopatut, kita akan sampai ke perempatan Kebomas. Bila terus kita akan sampai di Kawisanyar, Telogopegat dan Giri dimana terdapat maka Sunan Giri.

ç

Jalan ke Telogopojok, adalah arah barat dari perempatan wak Truno, ini melewati beberapa kampung antara lain Pojok Meduran, Tepen, dan akhirnya ke Leran, Manyar, Pongangan, Suci, Betoyo, Betoyo Guci, Sembayat dan seterusnya.

Di sisi kiri, dulu ada rumah wak Koyo, Gedung Bioskop Kencana, dan kemudian gedung Panti Budaya [yang suatu saat pernah berubah fungsi jadi gudang pupuk], dan jarang ditemui rumah [dulu]. Kalau sekarang sampai ke manapun yang penuh rumah. Sampai Telogopojok, yang merupakan pemakaman umum terbesar – selain Sumursongo yang lebih terbatas – menjadi tak terlihat lagi dari jalan.

Di sisi kanan, dulu hanyalah tambak-tambak, dan kemudian ada lapangan yang cukup luas, yang biasa dipakai untuk tempat olah raganya murid MINU Sukodono, dan menjadi home-basenya kesebelasan Meliwis Putih [kesebelasannya orang Kemuteran dan sekitarnya]. Entah lapangan tanah kosong ini dulunya apa, karena kalau tak salah disitu ada semacam bangunan berpenampang lingkaran dengan ketinggian 3-4 meter. Aku hanya sampai kelas 2 SD saja, jadi baru sampai tahap ‘recording’ dan belum ‘identifying’ apalagi, ‘analysing’.

é

Ke arah utara, adalah Jalan Sukodono. Dan masuk wilayah kelurahan Sukodono lalu di ujung utara wilayah Keroman di sisi timur dan Lumpur di sisi barat. Di ujung sini jalan berbelok, walaupun bila terus ke utara masih cukup lebar gangnya, yang berakhir di Bale Gede [tempat pendaratan ikan], dan tempatnya dilakukan Wayang Bumi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: