PERKAMPUNGAN 02

î

Sekarang kita akan memulai lagi dari ujung jalan Garling yang lain , yaitu sebelah selatan yang disebut SULING, pertigaan [sebenarnya perempatan tak sempurna] dimana terdapat ANIEM.

è

Ke arah timur, merupakan jalan yang terlebar di kota Gresik, bila diukur dari tepi bangunan di sisi yang satu ke tepi bangunan di sisi yang lainnya. Ditengahnya, dulu lebar jalannya biasa, mungkin 8-10 meter , dipenuhi dengan pohon asam di kedua sisi nya. Bisa dikata bagian yang terindang dari suatu kota yang gersang, di tahun 50-an. Sangat beken dengan sebutan Lojie, dan anda tahu pasti apa itu arti dan perannya di masa lalu. Apalagi dengan predikat Gede, menjadi Lojie Gede, Jalan Besar, jalan Pemuda, dan kemudian Jalan Basuki Rahmat. Merupakan satu-satunya ruas jalan yang tidak memiliki gang-gang di sisi kiri dan kanannya. Di wilayah inilah saya banyak menghabiskan masa kecilku. [lihat Teman Sebaya Bermainku]

Di ujung timur, juga merupakan perempatan tak sempurna, dan ditandai dengan keberadaan pompa bensin yang tertua di Gresik. Mulai dari masih jamannya pompa manual yang dilengkapi dengan pengukur gelas @ 5 liter. Jalan ini juga merupakan pusat birokrasi, ada Kantor Pengadilan, Kejaksaan, Kawedanan, Kepolisian, dan Kantor Pos. Juga kantor pimpinan MASJUMI, sebelum NU sebagai suatu jam’iyah memisahkan dan membentuk partai sendiri, ada di jalan ini. Tepatnya di salah satu ruangan depan bagian timur dari rumah KH Noorsjamsi [Jalan Besar no 9], yang juga kemudian menjadi kantor Front Nasional [dan juga Front Pemuda].

Bangunan disini gede-gede. Di sisi kiri, berturut-turut setelah Gardu Trafo Listrik, ada kediaman Liem Hok Kiet yang menyatu dengan Toko Suling dan penggergajian kayu di bagian belakangnya. Menyusul dua rumah kopel [tapi gede] dihuni oleh keluarga China [salah satunya kerabatnya ngKo Wie, si pencukur rambut legendaris] diikuti dengan bangunan yang dipakai Kantor Pengadilan sekaligus rumah tinggal kepala kantornya. Lalu rumah yang lebih besar tetapi belum terbesar di sisi kiri ini, yang ditinggali oleh keluarga Aa’ [Haji Noorsjamsisi], dengan putra-putrinya Cak Ali, Cak nDin, Cak Djadjuk, Cak Agut dan seterusnya.

Lalu rumah Haji Mansur Zen, yang di bagian sisi ini ‘menjadi dua bagian’ ditempati sendiri dan ditempati keluarga China. Menyusul rumah Pak Siswomhardjo yang juga ditempati kantor Inspeksi Pendidikan Jasmani, dengan putra putrinya mBak Har, mBak Wiwik, Mas Sur dan Bambang Suryanto. Lalu keluarga China yang punya anjing herder dan suka berburu, keluarga pribumi yang mengelola penggorengan kopi, rumah dinas Kepala kantor Pos dan Kantor Posnya. Yang terakhir ini adalah bangunan satu atap terbesar di sisi ini, atau bahkan di jalan ini. Lalu ada halaman kantor pos, tetapi berdinding. Sebelum kios-kios kecil, ada rumah dinas Kepala Pekerjaan Umum [kalau tak salah namanya Pak Tjip].

Di sisi kanan, ada rumah koppel yang semula kesemuanya dipakai oleh A Gui untuk usaha mebelnya, lalu yang paling barat kemudian dipakai oleh keluarga lainnya menjadi Foto Studio STAR. Lalu rumah besar yang ditinggali Pak Mulyono, dan ada keluarga lain di pavilyunnya. Rumah pak Mulyono ini, juga menjadi tempat latihan orkes Tjandra Kirana. Sepertinya pak Mul ini tidak punya anak. Lalu ada lagi rumah kopel, yang ditinggali oleh Oei Swan Djoe [agak lupa nama depannya] yang punya anak pemain tenis yang biasa dipanggil Johny. Yah, benar Oei, karena ada Johny Kho, kakaknya Kho Giok Ien.

Lalu yang dulu di tinggali keluarga Haji Mochtar – yang kemudian meninggal karena kecelakaan dengan mobil sedannya yang berwarna maroon atau merah hati, dan digantikan oleh keluarga Haji Adnan dengan anak-anaknya yang bernama Tjing [Sihabudin], Ulya Intari, Indra [?] lalu ada lagi adik-adiknya. Lalu agak menjorok ke dalam, Rumah Jaksa Tua, Jaksa Moedjiono. Dari jalan rumah ini kelihatan kecil saja, tetapi halaman kebun di dalamnya, masya Allah luasnya. Ada anaknya, katanya sih anak angkat, namanya Agus Budiluhur. Entah bagaimana kabarnya kemudian.

Berikut adalah kantor Kejaksaan, dan pavilyunnya yang ditinggali keluarga Pak Dahlan dengan anak-anaknya Siti Rahayu, Didik [tetapi perempuan] dan Tini. Pak Dahlan ini kemudian pindah ke Surabaya di Jalan Kartini 88. Lalu Kantor Kawedanan yang juga menjadi kediaman Bapak Wedana, pejabat tertinggi sebelum Bupati berkantor dan tinggal di Gresik.

Beberapa nama Bapak Wedana tidak kuingat lagi. Ada satu yang anaknya dulu sekelas di SMP, yang kemudian menjadi Patih atau Bupati Lumajang, dan terakhir kutahu sebagai anggota DPR. Yang lebih tahu, adalah Bapak Bisri, yang diantara anaknya yang sekelas denganku yaitu Suwanti, dan adiknya Puguh dan lupa [pernah ketemu setelah besar di acara pernikahan putrinya Cak Icang, karena cak Icang besanan dengan putranya pak Bisri]. Ada kakaknya, yang menjadi taruna AMN, dan hanya ke Gresik kalau liburan, yaitu mas Pandi [yang besanan dengan Cak Icang] dan mas Wandi. Pak Bisri ini kemudian dipindah ke Sumenep. Mungkin sebagai Patih. Dan digantikan oleh Pak Soetji Anjalmo.

Lalu kantor polisi, dengan rumah dinas Kapolsek nya. Yang pertama kutahu Pak Wirotenoyo, lalu diganti oleh Pak Soekarno, dan Pak Soenarjo. Diikuti dengan bangunan pompa bensin dan rumah bertingkat.

Ada dua sumur besar di jalan ini, dan ada lapangan tenis serta lapangan badminton yang kemudian diubah menjadi taman bermain anak-anak. Waktu itu masih banyak lahan yang ditanami bunga. Bangunan yang digunakan oleh A Gui untuk showroom mebelnya, dibangun diakhir 50-an, konon dengan pola BOT [build, operate, & transfer] entah apa sekarang sudah ditransfer ke Pemerintah. Karena itu dulunya taman.

ê

Jalan Bedilan, Jalan Raden Santri, adalah yang menghubungkan pertigaan ini, sampai sisi utara Aloon-aloon. Di sisi kiri tak ada gang, kecuali Kampung Kranggan [yang buntu] dan juga akses ke Bioskop Hartati. Di sisi kanan, setidaknya ada beberapa gang yaitu dari selatan, gang II [yang kemudian bercabang ke Gang Langgar – tempat dilangsungkannya manakiban setiap tanggal 11 Qomariah, guna memperingati Syeh Abdul Qadir Jaelani], gang III, gang IV yang lebar, sehingga sering juga disebut Gang Ombo, gang V dan gang VI. Kesemua gang ini berujung di gang Makam Londo [Gang IX], dan diantaranya ada gang yang melintang memotong gang-gang tersebut.

Bedilan Gg VII, merupakan bagian dari “perempatan tak sempurna ini”. Gang ini lebar sekali, lebih lebar dari Gang IV yang disebut Gang Ombo. Mungkin ini dulu direncanakan nantinya akan jadi jalan aspal, yang sambung ke Karangpoh [gang ombo juga], atau ke Kampung Bor, setelah melewati gladak wak Sadi.

Makam Londo [yang juga Bedilan Gg IX] jika kita berjalan dari ujung jalan Niaga, akan menemui gang-gang VIII, VII, VI, V, IV, III, II, Manakib, dan di ujungnya Bedilan Gg. I [hanya yang sisi kiri, yang kanan Kauman Gg I]. Sedangkan di sisi kanan, ada gang yang menuju ke Langgar Serang / rumah cak Wahib Tamim [guru ngajiku], terusannya Gg VII yang ada gladak wak Sadi, langgar Hidayat, kuburan, Bedilan gang Logo [Telogo] dan Bedilan gang Celeng, lalu Semarangan [yang akan tembus ke Teratee, persis di depan Telogo Teratee].

Di perpotongan gang VII dengan Makam Londo ini, di depan rumah wak Lam [kalau tak salah ini nama panggilan untuk isterinya, dimana nama suaminya adalah wak Said, seperti terlihat pada nama anak-anaknya antara Saleh Said, Muntohar Said] juga ada ongkek yang ramai.

Di ujung gang VII ini, ada gapura yang sangat kokoh, yang menyerupai bentuk gapura Sunan Giri yang dijadikan logonya Semen Gresik. Gapura ini seandainya ditabrak truk, mungkin truknya yang kalah. Walaupun gangnya lebar, tetapi lebar gapura ini sempit. Saya pribadi, menyebutnya “gapura angkara murka”, karena dibangunnya dilandasi dengan maksud untuk menghalangi agar mobil tidak bisa masuk ke gang itu [ada ceritanya nih, nanti ya terpisah].

Kampung Kranggan, mungkin ada kaitannya dengan tempat pemeliharaan kuda-kuda dari pembesar VOC atau pembesar jaman dulu. Ujung gang Kranggan ini, merupakan pintu gerbang [yang ditutup] yang berhubungan dengan halaman belakang rumahnya Jaksa Mudjiono. Halaman ini luas, dengan berbagai tanaman besar, dan berbatasan dengan bioskop Hartati dan gedung Genteng Guci yang jadi asrama tentara [kemudian DPRD Tk. II], dan Kawedanan / Kejaksaaan.

Di jalan Bedilan ini, ada makam Raden Santri, alias Raden Pandita Wunut, yang konon adalah teman mengaji Sunan Giri ketika belajar ke Sunan Ampel di Ampel Denta. Juga ada Kantor Kecamatan, yang disampingnya digunakan sebagai Perpustakaan Umum dan Kantor Penerangan. Juga Kantor PUTERPRA [singkatan dari Perwira Urusan TERitorial dan Perlawanan Rakyat, lupa-lupa ingat antara Perlawanan atau Pertahanan], yang kemudian menjadi KORAMIL.

Tusuk sate dengan jalan Besar di ujung barat, adalah gedungnya ANIEM, yang berlantai dua. Gedung ini masih anggun dan kokoh. Gedung yang batu pertamanya diletakkan oleh Kitty Sosman pada tanggal 4 Oktober 1924, sebagaimana yang tertulis di batu prasasti yang ada di samping pintu utamanya.

Wilayah kelurahan Bedilan ini yang paling luas, dan di dalamnya terdapat berbagai bangunan perkantoran penting, sampai asrama polisi dan asrama tentara, gereja, bioskop, sekolah, juga pelabuhan. Bedilan, konon karena dulunya ada pabrik senjata atau bedil. Pada jaman itu di Indonesia ada dua, satu di Semarang dan yang satunya di Gresik, ya di Bedilan ini. Tetapi kira-kira dimana lokasinya.

é

Kita kembali kepertigaan di Jalan Niaga, lalu ke arah utara, yaitu Jalan Kemuteran, Jalan KH Faqih Oesman. Dari kata apa Kemuteran ini diambil, saya kurang tahu. Seperti halnya di Pekelingan, gang-gang di Kemuteran ini juga memiliki nama-nama yang khas.

Di sisi kiri, kita mulai dengan Kampung Babi [gang I], konon dulu ada Cina yang jualan daging babi. Dulu, disini selagi hidupnya Haji Oemar Sechan, kalau mau lebaran ramai dengan bunyi mercon. Di seberangnya, gang II disebut Kampung Pande, karena di bagian agak dalam, memang ada pandai besi yang membuka bengkel di situ. Lalu gang III yang berhadapan dengan gang IV, yang dikenal sebagai Kampung Gajah. Perempatan gang ini merupakan ongkek besar yang cukup ramai, diwaktu pagi, petang dan malam. Bukan saja ramai pengunjungnya, tetapi juga ramai suaranya.

Kemudian Gang V, dimana ada warung sego Tambi, yang tidak punya pasangan disisi timurnya. Lalu gang VII dan gang VI, gang IX [Kampung Rambu] berpasangan dengan gang VIII, gang XI [gangnya Dr. Nizam] berpasangan dengan gang X, Lalu gang XIII [gangnya ibu mertuanya Cak Pik], ini yang mungkin tempat tinggalnya KH Faqih Oesman di waktu kecil dan remaja, yang kalau tak salah sudah mulai disebut sebagai Metoko, yang bersebarangan dengan gang XII [gangnya Mat Tembel].

Sesudah itu saya tak begitu ingat betul, hanya yang ingat di sisi kiri ada gang lagi [satu sebelum jalan Kroman, yang merupakan bagain belakang rumahnya Cak Amat Angkat] yang juga punya saluran di tengah. Di salah satu gang di sisi timurnya, dulu pernah tinggal KH Rois, salah satu kyai sepuh di Gresik. Seingatku di dinding ruang tamunya tergantung benda seperempat lingkaran yang dipakai dalam ilmu falaq.

Memang daerah Kemuteran utara ini kurang kufahami dengan baik, hanya ingat di gang di sisi timur, ada gangnya yang punya Toko Asia, gangnya Mat Tembel, dan gangnya Ipud Wasad, lalu gangnya Kiyai Rois.

Konon, nenekku [dari pihak ibuku] dulu semasa mudanya tinggal di daerah Metoko sini, tetapi persisnya dimana saya tak tahu, tetapi kemudian pindah ke Semarangan. Dan kemudian bersama ibu dan ayahku ke Kepatihan, ngungsi dan terakhir ikut tinggal di Garling. Kalau nenekku [dari pihak ayahku] dulu tinggal di Kemuteran Gg VII, yang rumahnya di depan langgar, dan sampai wafatnya tetap disana Semoga Allah swt merahmati mereka semua.

î

4 Tanggapan to “PERKAMPUNGAN 02”

  1. muy_thok@yahoo.co.id Says:

    Terima kasih nama Mbah saya disebut :
    H.M.Said dan Hj. Romlah (Wak Lam)….

    Saya adalah cucu beliau dari anaknya yg bernama H. Hasan Basri Said

    Wassalam,
    Muchyiddin Hasan

    Di perpotongan gang VII dengan Makam Londo ini, di depan rumah wak Lam [kalau tak salah ini nama panggilan untuk isterinya, dimana nama suaminya adalah wak Said, seperti terlihat pada nama anak-anaknya antara Saleh Said, Muntohar Said] juga ada ongkek yang ramai.

    • ongkeksuling Says:

      Kalau boleh tahu, nama lengkap anda siapa dan sekarang berdomisili di mana.
      Kalautidak salah, ibumu dari Metoko / Kemuteran Utara ya.

      Di bukan Syawal yang lalu, ketika pertemuan di Jakarta, juga berjumpa dengn anaknya Cak Chiron / Neng Lin, yang perempuan [adiknya Toni], lupa namanya.

      Sayang sekali ya Rumah Besar itu jadi “roboh” tidak ada lagi kusen dan daun pintu/jendelanya, ketika akhir tahun lalu saya melewatinya.

      Salam

  2. Muchyiddin Says:

    Salam kenal,
    Nama saya Muchyiddin (putera terakhir H. Hasan Basri Said), iya pak, ibu saya dari Metoko.

    Sekarang saya tinggal di Perum Green Hill, daerah Sekarkurung Kebomas…

    Cak Toni Toni sudah meninggal bulan Romadlon kmarin…

    Iya rumah Bedilan sekarang sudah tidak terawat lagi

    Mohon maaf, sekarang Bapak sakrang tinggal di Jakarta mana??

    • ongkeksuling Says:

      Saya kapan itu bertemu dalam pertemuan keluarga Gresik dengan saudaranya Toni [anake Cak Choiron dengan Ning Lien Wak Lam], yang hampir selalu hadir dalam pertemuan keluarga Gresik di Jakarta.
      Salam buat semua, saya mengenal hampir semua pak De / paman mu, wong sak kampung.

      Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: