PERKAMPUNGAN 01

Di Gresik pun dikenal beberapa nama khas,

untuk gang dan wilayah yang mungkin sangat spesifik
sehingga tidak kita jumpai di tempat lain.

Nama kampung, bagian-bagian dari kampung boleh dikata tetap saja, semenjak dahulu sampai sekarang dan mungkin sampai masa mendatang. Asalkan nama itu tetap dirujuk oleh para penghuninya. Tetapi nama itu akan dengan sendirinya terlupakan, bila orang sudah mulai kurang merujuknya. Contohnya, tempatku bermukim sekarang di perantauan adalah jalan Attahiriyah, pada hal sebutannya ketika aku mulai tinggal disitu adalah Krobokan. Mungkin kalau sekarang saya menyebut tinggal di Krobokan, akan dikira tinggal di Krobokan, dekat Kuta, Denpasar, Bali.

Nama-nama seperti Krobokan itu, banyak kita jumpai dan menjadi sebutan sehari-hari. Dan bagi generasiku, masih mudah menentukan lokasi dengan menyebut nama-nama itu. Tetapi, keponakanku yang masih ada di Gresik, menyebutnya sudah dengan nama yang lain lagi.

Nama-nama jalan di Gresik, sudah beberapa kali mengalami pergantian, setidaknya setelah penyerahan kedaulatan. Pergantian pertama, dilakukan sekitar tahun 50-an, dan kemudian diganti lagi pada akhir 60-an. Pada hal papan nama jalan di Gresik itu dulunya dibuat dari beton pra-cetak. Saya kira iya, kan kayaknya akan sulit untuk mengukir beton. Tulisan nama jalan sengaja dibuat berupa cekungan [seperti batu kilometer yang sering kita temui sepanjang jalan negara dan jalan provinsi], yang mana akan mempermudah pekerja pemeliharaan yang perlu mengecat ulang [butahuruf pun dia akan bisa]. Dengan beton saja masih diganti, apalagi seandainya, papan namanya dibuat dari logam yang dicat seperti sekarang dan dikebanyakan tempat.

Tentu saja, kita berasumsi bahwa nama kampung sudah ada lebih dahulu, sebelum jalannya dibuat dan kemudian diberi nama. Sehingga banyak juga nama kampung, yang kemudian diadopsi menjadi nama jalan. Tetapi bila jalan itu kemudian berada di perbatasan antara dua kampung, baru kemudian dicari solusi lain, dengan memberi nama jalan yang netral.

Agar tidak menimbulkan kerancuan dalam memahami tulisan ini nanti, istilah “kampung” bisa memiliki banyak makna, antara lain berarti menunjukkan suatu wilayah setingkat kelurahan [misalnya Pekelingan], bisa juga hanya sebagian wilayah dalam kelurahan [misalnya Bandaran], dan bahkan hanya sekedar gang saja [misalnya Kampung Rambu].

î

Rumah dimana saya tinggal dulu, tidak ada beton nama jalannya, tetapi semua pihak menyebutnya sebagai Jalan Garling, dan pengantar surat pos pun tahu akan hal itu. Penggal jalan ini, tidaklah seberapa panjang. Disisi barat, hanya ada 5 rumah yang sama bentuknya [yang sekarang banyak ditiru pengembang dimanapun di Indonesia ini], yaitu model ruko. Dan setelah dipisahkan oleh gang, ada rumah besar yang kemudian dikelola sebagai Hotel Bahagia. Di sisi timur, ada gardu listrik dimana di atasnya dipasang sirene atau suling. Lalu lima bangunan yang mirip dengan yang dihadapannya. Jadi hanya ada sebelas bangunan saja, bahkan bisa disebut tiga bangunan, karena yang lima di barat dan di timur, bisa dianggap masing-masing satu.

Ada lagi sekumpulan bangunan yang menempel pada bangunan sisi barat yang paling selatan, yang saya tinggali, menghadap ke gang yang lebar, terdiri atas 6 kios.Ketika ada pelebaran jalan Niaga, ada issue jalan ini juga mau dikabarkan, tetapi urung dilakukan.

Baru pada tahap penamaan jalan di akhir tahun 60-an, ruas jalan ini diberi nama resmi sebagai Jalan H.O.S. Cokroaminoto. Entah, apa dasar pemberian nama itu, apakah memang ada kaitan historis dengan pahlawan nasional tersebut, barangkali dulu pernah tinggal di sini atau apa. Seperti halnya penamaan Jalan Pecinan, dengan nama Jalan Dr. Setiabudi, yang konon dulu memang pernah bermukim disana.

î

Ujung utara jalan ini, adalah sebuah perempatan yang juga disebut GARLING; sedangkan ujung selatan dimana terdapat suling atau sirene hanya berupa pertigaan, dengan bangunan tusuk sate yaitu ANIEM atau PLN [kantor, rumah pimpinan, gudang] juga sering disebut SULING.

ç

Jalan Pasar, Jalan Niaga, dan kemudian menjadi Jalan H. Samanhudi, merupakan lokasi toko-toko, bahkan gudang, walau ada juga yang sebagai rumah tinggal. Boleh dikata, kita bisa menemukan apa saja kebutuhan kita di sepanjang jalan ini. Sampai kompas, rantai, tali temali dan jangkar kapal.

Ini adalah jalan utama di Gresik. Jika kita menyusurinya dari Garling, di sisi kiri adalah kampung Bedilan [dengan lurah pak Tanjis], dan Karangpoh [dengan lurah pak Sail], sedangkan di sisi kanan adalah Pekelingan [yang kadang disalah ucapkan menjadi Kepelingan, dengan lurah pak Kasran Rahim], Kemuteran [sebelumnya tak tahu, dan kemudian tak ingat namanya – tetapi berkacama tinggal di Gang VI dan juga aktif di Darul Islam], dan Sukodono [maaf tak tahu sama sekali].

Jika kita jalan ke arah barat dari Perapatan Garling ini, pertama kali di sebelah kanan ada gang kecil yang menuju ke Kampung Kemasan, di mana di gang inilah bu Mansur jualan rujak. Gang ini bercabang ke kanan dan ke kiri walau tidak di satu titik, yang diberi nama Debekso [Sidopekso]. Gang ini memisahkan Toko Gumbira [tidak salah ketik] dan sebuah tukang Bikin Gigi. Kemudian ada gang lagi, yang memisahkan toko Persatuan [H. Riduwan] –yang baru-, dengan apotik. Ini merupakan ujung Debekso di sisi jalan Niaga, yang ujung satunya di Jalan Pekelingan, Yai Ageng Arem-arem [banyak yang keseleo menjadi Nyai].

Kemudian, di kiri ada kampung Makam Londo, – ya kuburan Belanda – karena memang di sana ada komplek pekuburan orang-orang Belanda. Bahkan kalau ditilik bentuk nisannya sebelum dihancurkan, yang dikuburkan disini tergolong petinggi-petinggi VOC, setidaknya di wilayah timur. Batu nisannya, kebanyakan terbuat dari besi cor dengan berbagai tulisan yang saya tak mengerti artinya. Saya dulu sering main ke sana, ketika kelas 3-4 SD.Areal ini sekarang sudah menjadi sekolah SMA NU. Bagaimana cerita peralihannya, saya kurang tahu.

Kemudian, jalan ini seakan terpotong oleh selokan besar yang ditutup dengan plat beton [yang lebih pas jalannya yang melintasi saluran air ini] yang dimulai dari samping rumah Cak Wahib atau Langgar Serang – beberapa belas meter setelah gladak wak Sadi – sampai ke tepi laut di Belandongan. Hampir tidak ada rumah yang menghadap ke kalitutup ini.

Hanya disela oleh satu rumah, yaitu yang dihuni tukang gigi Tan – yang botak – di sisi kiri dan Pak Basiran di sisi kanan, jalan ini seakan memotong gang panjang mulai dari sumur bor di Kampung Karangpoh, sampai ke laut melalui Pasar Sore dan Belandongan.

Di tahun 50-an sudah tidak ada lagi pasar di kampung Pasar Sore ini, walau sore hari sekalipun. Tetapi melihat bentuk rumah-rumah di gang ini, menunjukkan sisa-sisa bekas suatu wilayah perdagangan – seperti masih adanya jendela besar [biasa disebut bedak] pada beberapa bangunan sebelum diubah suai oleh pemilik / penghuninya.

Menyusul di sebelah kanan, ada Jalan Kemuteran, yang kemudian diganti menjadi Jalan KH Faqih Oesman. Kiyai Faqih ini, tergolong generasi pertama putera Gresik yang mengorbit pada skala nasional, dengan jabatannya sebagai Menteri Agama Republik Indonesia di tahun 50-an. Dia termasuk menteri agama yang bukan dari NU sebagaimana lazimnya kemudian. Dia dulu memang berasal dan dibesarkan di salah satu rumah di kampung Metoko atau Tambak Gek, di ujung utara jalan Kemuteran ini.

Kemudian ada gang lagi di sisi kiri yang cukup lebar. Ya sekaligus meralat tulisan di Warung di sekitarku, gang ini sebagian juga memiliki saluran air terbuka sebagai mediannya, sampai ke Kampung Bor.

Sesudah itu sampailah kita ke perempatan pasar, dimana di kiri adalah Jalan Teratee dan di kanannya adalah Kalitutup. Dan sebelum jalan Niaga ini berakhir di perempatan wak Truno, masih ada lagi beberapa gang di sisi kirinya, yaitu gangnya Warung Sembilan [yang juga berupa kalitutup] dan masih ada satu gang lagi, sampingnya Jamu Putri [yang satu ini lupa-lupa ingat].

Ujung jalan ini, berupa perempatan. Ke utara, adalah jalan Sukodono/Keroman, ke barat jalan menuju Pojok, Manyar, dan Sembayat, terus ke Tuban. Jalan yang ke utara dan barat ini, konon merupakan bagian dari jalan Daendles yang legendari tersebut yang membentang dari Anyer sampai Panarukan. Dan yang ke selatan, adalah Karang Turi atau Jalan Usman Sadar, diberikan sebagai penghormatan pada pejuang kemerdekaan yang gugur dan dimakamkan di situ ketika berjibaku menghancurkan tank Belanda.

Sedikit tentang wak Truno, si penjual ayam ini. Dia adalah pedagang ayam hidup – tentu saja ayam kampung – yang menggelar dagangannya dalam kandang bambu yang berbetuk silindris yang juga berfungsi sebagai alat transportasinya. Boleh dikata dia adalah pemasok utama ayam hidup untuk kota Gresik dimasa itu. Jika seseorang mau kenduri dan berniat memotong ayam, maka pagi-pagi sesudah subuh akan pergi ke wak Truno. Kalau tidak salah, wak Truno ini juga membeli ayam, bila ada orang yang mau menjual ayamnya [di saat itu banyak keluarga yang memelihara ayam di rumahnya, untuk sekedar kesenangan dan juga diambil terlurnya]. Atau bahkan tukar menukar ayam, tentu ada selisih harga juga.

Sehingga timbul suatu selorohan, jika ada anak yang kurang berguna atau bodoh, akan ditukarkan ke wak Truno. Kejam sekali ya, menganggap ayam lebih berguna dari seseorang yang bodoh dan tak memberi manfaat. Dengan kalimat “diurupno bae nang wak Truno” yang artinya kira-kira “ditukarkan saja ke wak Truno”. Untung belum ada Komnas HAM dan LSM-LSM yang suka membuka masalah. [ternyata kata urup ini, menjadi kosa kata baku di Malaysia, setidaknya Johor Baru, dimana money changer dibakukan sebagai pengurup uang].

é

Jalan Pekelingan, jalan Yai Ageng Arem-Arem. Lalu lintasnya tidaklah begitu ramai, tetapi banyak kampung yang memiliki nama khas. Kata Pekelingan, bisa berasal dari kosa kata “keling” yang mengacu pada orang Keling [dari anak benua India] – seperti Pecinan, tempatnya orang Cina – atau kata “keling” yang berarti rivet, suatu bentuk cara menyatukan dua lembaran [biasanya logam] dan tempatnya menjadi seharusnya Kelingan. Kenyataannya, kita tidak menemukan orang Keling di wilayah ini dan juga kegiatan mengeling [entah kalau dulu atau malah dulu sekali].

Sedangkan nama Yai Ageng Arem-Arem, tidak ada hubungannya dengan arem-arem sejenis lontong yang diisi bumbu, melainkan diambil dari nama seorang tokoh yang dimakamkan di sisi jalan ini. Makamnya, berada di dalam salah satu ‘rumah’ dalam deretan yang memiliki model seperti di jalan Garling. Dia adalah nakhoda salah satu kapal armada saudagar perempuan Nyai Ageng Pinatih [ada juga yang menyebut Nyai Gede Pinatih], yang ditakdirkan menemukan bayi dalam peti [jangan-jangan petinya buatan Pekelingan juga ya] yang kemudian diambil sebagai anak angkat sang saudagar ini. Bayi itu kemudian dikenal sebagai Raden Paku alias Ainul Jaqien, dan kemudian bergelar Sunan Giri, salah satu dari Wali Songo.

Sisi barat wilayah ini masuk Kelurahan Pekelingan [dengan lurah pak Kasran Rahim], dan sisi timurnya masuk wilayah Kelurahan Kebungson [dengan lurah wak Kadri]. Nama Kebungson, tidak lepas dari peran Nyai Ageng Pinatih sebagai ibu angkat atau ibu susu dari Sunan Giri. Kata Kebungson diartikan sebagai tempat tinggal [dengan awalan ‘ke’ dan akhiran ‘an’] dari ibu susu, seperti kata ‘kemasan’.

Di tahun 50-an, masih bisa kita jumpai beberapa pengrajin kayu, yang membuat peti-kayu bagi para pelaut [semacam kopernya] atau juga dipakai untuk tempat kompasnya. Pembuatnya ada yang Cina [tua, dan kalau tak salah juga pemadat] di ujung Debekso, dan ada yang orang Gresik juga. Konon peti kayu ini kedap air, sehingga sangat bermanfaat bila kapalnya tenggelam atau diserang badai. Konsumennya adalah para pelaut asal Bugis dan Buton atau pulau-pulau di negoro encik [sebutan untuk asal etnis luar Jawa, kecuali Madura].

Setelah Debekso di kiri, ada gang yang dulu disebut Pabrik Karet [karena memang ada pabrik karet di dalamnya] di sebelah kanannya. Lalu berturut-turut di sebelah kiri ada Kampung Kemasan, Kampung Begedongan, Kampung Rogo, lalu ada dua kampung lagi [entah namanya apa], yang ada cabangnya lagi yang disebut Kampung Lekik.

Pabrik Karet ini, kemudian menjadi tempat tinggal keluarga yang mengelola Bioskop Kencana, dan bangunan disampingnya lagi, menjadi tempat tinggal dan pusat pengelolaan armada becak milik MTH, biasa dikenal begitu, sebagaimana yang tertulis di becak-becaknya maupun kemudian truknya, yang merupakan inisial dari Mohammad Toha.

Ada singkatan yang dikembangkan oleh anak-anak dan juga dipakai sebagai cangkriman dan memudahkan menghafal nama-nama kampung tersebut, yaitu “godongmasjieloon” yaitu Kampung Rogo, Begedongan, Kemasan, Lojie, Aloon-aloon]. Sedang di sisi kanan, ada Kampung Kepatihan [yang memiliki cabang Kampung Mangkatan], dan Kampung Bejarangan.

Kampung Kemasan, merupakan salah satu kampung yang penghuninya masih satu keturunan atau satu klan, dari ujung sampai ujung. Gangnya lebar, dan merupakan salah satu gang yang tidak dilarang untuk naik sepeda. Bahkan mobilpun, boleh jalan di gang ini. Hampir semua gang di Gresik selebar apapun, selalu digantungi tulisan “Dilarang Naik Sepeda dalam Kampung”.

Di jalan ini, keduanya di sisi timur jalan, ada bangunan yang spektakuler pada jamannya, dan juga pada masa kini asalkan bisa dipelihara dan ditampakkan ujud aslinya. Yaitu bangunan yang dikenal sebagai Yang Bo – mungkin nama pemilik asalnya dulu -, dan Gajah Mungkur – karena ada patung gajah yang ngungkuri jalan di halamannya. [Lihat The Landmarks]

è

Lojie Cilik, Jalan Kebungson, Jalan Nyai Ageng Pinatih, yang menuju ke arah timur dari Garling, di sisi kiri masuk kelurahan Kebungson, dan di sisi kanannya masuk kelurahan Bedilan.

Jalan ini tidak begitu ramai, karena di sisi kanannya kebanyakan merupakan bagian butulan [alias bagian belakang] dari rumah-rumah yang ada di Lojie Gede, atau Jalan Besar, kecuali ada dua rumah kopel. Ada juga satu rumah, rumahnya Haji Mansur Zen, yang mempunyai dua muka. Rumah ini walau dibangun sebelum revolusi, tetapi sangat cantik dan tetap terjaga terawat hingga kini. Entah gaya apa, yang penting yahuud deh, kualitas bangunan dan arsitekturnya. Di sisi kiri, adalah rumah-rumah besar jaman dulu. Dan hanya ada satu gang kecil, yang sambung ke ke Sentono dan gangnya sekolah Banaat yaitu gang rumahnya Haji Ghalib – pedagang nener. Tusuk sate dengan jalan ini, adalah rumah dinas Kepala Setasiun, yang halamannya lumayan luas.

4 Tanggapan to “PERKAMPUNGAN 01”

  1. muy_thok@yahoo.co.id Says:

    Terima kasih nama Mbah saya disebut :
    H.M.Said dan Hj. Romlah (Wak Lam)….

    Saya adalah cucu beliau dari anaknya yg bernama H. Hasan Basri Said

    Wassalam,
    Muchyiddin Hasan

    Di perpotongan gang VII dengan Makam Londo ini, di depan rumah wak Lam [kalau tak salah ini nama panggilan untuk isterinya, dimana nama suaminya adalah wak Said, seperti terlihat pada nama anak-anaknya antara Saleh Said, Muntohar Said] juga ada ongkek yang ramai.

    • ongkeksuling Says:

      Betul sekali Cak.
      Di pojok utara timur dari perempatan – jadi persis di depan rumah besar kediaman Pak H. Said / Wak Lam, dimana disimpan barang-barang sinoman [terop dan pecah belah], ada ongkek. Kalau sore, di gang sisi Makam Londo, ada penjual godo tempe yang sangat laris. Kalau mau beli, mesti antri.

      Jika ayahandamu masih ada, sampaikan salam hormat saya kepada beliau, walau sudah lama sekali tidak pernah berjumpa.
      Kalau dengan Cak Tohar, karena kemudian bersebelahan rumah di Bedilan gang VIII, jadi masih sering ketemu.

      Yang sudah lama sekali juga tidak bertemu adalah dengan Cak Wasil [betul ya, adik dari ayahmu], serta Cak Hud dan War [sepupumu dari Pak Saleh Said], kalau adiknya yang perempuan yang menikah dengan Agus Nzam Tas’an, masih sering bertemu bila ada acara pengantin atau pertemuan keluarga Gresik di Jakarta.

      Juga cak [he he lupa namanya sesaat] – abangnya Ghofur alm. [sepupumu] anaknya Neng Siti [dengan Pak Safuwan] – he he ingat Cak Dola [beknya SIDOLIG]. Ghofur adalah teman sekelas, bahkan sebangku ketika di kelas 6 MITRA, kalau di SMP selalu beda ruangan kelas, kecuali ketika kelas 2.

      Salam untuk semua yang mengenalku ya.

      Salam

  2. Achmad Rosyidi Sabr Says:

    Alhamdulillah sampean iso nyerita’no sak klumit kota Gresik sak jamane taon swidak an / petongpolohan isun malah dadi kangen mari moco situs sampean, sapo se sampean sak benere ? Isun juga arek Gresik sing suwe meranto nang Kaltim ( sang kampong nang Kepatihan Kebungson)

    • ongkeksuling Says:

      Anake sopo sampeyan, sing onok Kampung Kepatihan?
      Esun akeh sing kenal wong Kampung Kepatihan, soale dalane nang sekolahan Asmaiyah.

      Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: