JIRANKU o6

Kembali cerita ke rumah besar. Ada mainan kepunyaan Nya Besar, yang dipakai Ami, dan boleh kita pakai juga yang barangkali termasuk barang sangat antik jika itu masih ada. Adalah sepeda roda tiga, dengan roda dari besi dan roda depannya berukuran sangat besar bila dibanding kedua roda belakangnya. Beberapa keluarga yang tinggal dlam rumah besar tersebut, umumnya memiliki anak yang sebaya dengan saya dan adik-adikku. Beberapa diantaranya masih kuingat, karena lama menghuni di rumah itu.

Antara lain yang masih kuingat, dari keluarga pak Tamjis adalah mas Bag [Subagiyo], mbak Pur [walau seusiaku, karena adiknya memanggilnya mbak ya ikut-ikutan manggil begitu], dik Yon dan beberapa lagi adiknya yang lebih kecil. Pak Tamjis bekerja di kantor Gubernuran, setiap hari pulang pergi dengan naik kereta api. Mereka berasal dari Kediri, hal ini kuketahui bila masa liburan mereka pergi kesana atau ada saudaranya [dik Yok, yang ikut sama kakek/neneknya] yang datang ke Gresik. Bu Tamjis, ini merupakan ibu sambungan. Mas Bag, mbak Pur dan dik Yok ini bersaudara seayah-seibu, sedang dik Yon dan adik-adiknya adalah putera dari ibu yang di Gresik ini.

Mas Bag ini suka membaca. Dia menjadi anggota perpustakaan umum yang letaknya di samping kantor kecamatan. Banyak buku yang dibacanya, dan saya suka ikut pergi ke perpustakaan itu dengannya. Walau tidak pinjam, ya ikut-ikutan baca majalah yang di sediakan di meja panjang pada ruang baca. Rupanya perpustakaan ini dikelola oleh Departemen Penerangan. Mas Bag dan dik Yon, suka main catur. Dari merekalah saya mengerti permainan dan belajar main catur. Ketika orang tuaku mengetahui saya bisa main catur, beliau melarangnya, karena jenis permainan itu menghabiskan waktu saja.

Saya tidak mengetahui cerita selanjutnya, kecuali bahwa mas Bag tetap tinggal di Gresik, dan juga dik Yok pernah bekerja di Gresik, sedangkan yang lainnya tidak kudengar keberadaannya.

Keluarga mereka menempati bagian barat dari rumah besar. Entah sejak kapan mereka tinggal disitu, seingatku sebelum saya sekeluarga pindah ke Garling, atau ya diawal awal waktu itu, atau setelah saya mulai bermain dengan tetangga. Sedang bagian timurnya, ditempati oleh keluarga oom Hengky dan Nante alias nya Mien beserta saudaranya Tien dan anak-anaknya, yaitu Greta [Margaretha Johana Rossa] dan Edwin.

î

Hengky berambut pirang, hidung mancung dan berperawakan tinggi. Terlihat nyata wajah Eropahnya. Dan itu masih menurun ke anak-anaknya Greta dan Edwin. Walau rambut Greta dan Edwin sudah lebih hitam, mengikuti ibunya yang mungkin beretnis China. Hengky kerjanya sebagai operator di bioskop Hartati, mungkin ini dilakukannya sejak masa hidupnya Cok. Tetapi sampai kapan dia menjalani profesi itu saya tidak tahu. Di waktu sore, biasanya mereka duduk di pagar rumahnya, yang bedampingan dengan pintu samping kediamanku. Disitulah kontak pembicaraan dengan nenekku dan ibuku berlangsung dengan Nya Mien dan Tien atau yang lain-lain. Tetapi dengan bu Tamjis kayaknya jarang sekali.

Tien, adik nya Mien ini, setelah beranjak dewasa kemudian berpacaran dengan seorang polisi yang sudah punya isteri dan anak, lupa nama dan pangkatnya. Singkat cerita, setelah terjadi pernikahan, justru keluarga sang polisi [isteri pertama, mertua, dan anak-anaknya] yang ikut tinggal di rumah besar, sedang Tien dan si polisi tinggal di asrama [?] dan bukan tinggal di rumah besar. Ya, jaman itu belum jamannya bu Tien Suharto, jadi polisi masih boleh beristeri dua, atau yang tua terpaksa harus dicerai dan mendapat kompensasi tempat tinggal. Saya tidak tahu pasti dan tidak punya berita.

Si mertua polisi ini, orang Jawa totok, yang masih pakai baju lurik dan nyusur. Dia sangat protektif terhadap cucu-cucunya. Jika cucunya merasa terganggu, lapor ke neneknya, maka serta merta neneknya mencari kita dan mengomeli kita. Justru itu yang menjadi ‘kesukaan’ tersendiri untuk mengganggunya, dan kemudian berdebat dengan si nenek yang nyusur ini. Hitung-hitung latihan berargumen atau berdebat.

î

Berbatasan dengan dinding PLN di sebelah barat, terletak rumah keluarga Chajatim [Atim]. Rumahnya berpagar gedek tinggi, dan di dalamnya ada dua buah rumah terpisah, dan satu bangunan lagi di belakangnya yang berfungsi sebagai dapur dan besali. Ada satu sumur besar, yang tidak pernah kekeringan walau sepanjang apa musim kemarau. Sumur ini memang segaris dengan sumur bor di Kampung Bor, sumur Langgar Hidajah, sumur di ujung gang VI dan dua sumur yang ada di jalan Pemuda. Mungkin memiliki sumber yang sama berupa sungai bawah tanah.

Ibunya Atim, biasa kita panggil dengan wak Yah seorang janda, beranak dua, yaitu Chanifah dan Chajatim. Di rumah itu juga tinggal keluarga mereka, yuk Sumi yang beristerikan cak Mat [Djamhari], dan beranak Sutrisno dan beberapa adiknya. Juga ada yuk Sekah, dan yuk Sum. Di rumah yang satunya, tinggal cak Ran [Kasran], yang semula bekerja di Semarang dan ketika sudah menikah kembali ke Gresik, bekerja sebagai pegawai di Kantor Agama, tetapi di waktu senggangnya digunakan untuk merakit kopyah. Dia juga dulu aktif di kepanduan.

Cak Mat, aktif di kepanduan bersama yuk Sumi. Cak Mat adalah pengrajin sepatu kulit, yang dikerjakan di bagian belakang rumah. Bahannya diambil dari seseorang keluarga di Kemuteran [namanya lupa], tetapi tinggalnya di depan rumah cak Pik [bapaknya Sumarchanah]. Saya sering ikut bersama Atim mengantarkan sepatu yang sudah jadi dan sekaligus mengambil kulit sepatu yang sudah dijahit tetapi belum dibentuk. Konon sepatu-sepatu itu dijualnya di Toko Asia.

Pembuatan sepatu seluruhnya dilakukan secara manual dengan tangan dan alat-alat yang sederhana. Sebagai cetakannya, adalah berupa bentuk kaki yang terbuat dari kayu dengan bagian bawah yang dilapisi dengan logam [pelat besi], yang terdiri dari dua bagian agar kemudian mudah dilepas setelah sepatunya selesai dibuat. Saat itu, kebanyakan sol sepatunya adalah dari kulit mentah, atau dari karet crepe [lembaran berwarna putih kekuning-kuningan]. Saya tidak ingat betul bagaimana teknik melekatkan / menyambungkan bagian atas sepatu dengan bagian solnya.

Yang kuingat, pada bagian dalam sol selalu dipasangkan sebilah bambu, konon untuk memberikan kelenturan kelika dipakai nanti. Dan bagian pekerjaan yang paling sulit [menurutku] adalah menjahit tepi sol, yang nantinya akan terlihat dengan rapi pada bagian atas, tetapi tersembunyi pada bagian bawahnya [selain untuk kerapihan, juga agar tidak cepat aus ketika dipakai]. Pisau yang tajam dengan bentuk khusus kemudian digunakan untuk memotong dan merapikan bagian tepi sol kulit tersebut. Kemudian yang paking akhir, adalah membuat tepi sol yang habis dipotong menjadi mengkilat. Itu dilakukan dengan menggunakan alat dari kayu untuk menggosok bagian tepi sol, dengan pelicin menggunakan keringat sang pengrajin. Betul lho ini. Warna coklat tua dari tepi sol itu bukan dari warna semir.

Ketika sudah mulai banyak sepatu buatan pabrik, dan usaha membuat sepatu yang betul-betul hand-made menjadi memudar, cak Mat ini kudengar beralih mengerjakan pelapisan jok-jok kursi atau sofa. Memang dia orang yang terampil.

Dengan Atim dan keluarganya saya mengenal berbagai permainan kartu, mulai dari yang merajian [menyamakan dua kartu yang meraji – sama], cangkulan, empat satu, sampai ke remi. Kesemuanya menggunakan kartu bridge atau kartu remi yang jumlahnya 51 lembar itu. Tetapi tidak sampai ke bridge. Sampai saya lulus STM, belum kudengar ada yang memainkan bridge di kalangan pribumi Gresik.

î

Depan rumah keluarga Atim, adalah rumah yang selalu tertutup pintu depannya, mereka keluar masuk hanya lewat pintu belakang yang berada di gangnya toko Pantes. Rumah ini ditinggali oleh satu keluarga muda dari etnis China, yang konon masih sekeluarga dengan Gima [Sarang Burung]. Mereka memerlihara anjing herder, yang diketahui hanya dari gugukannya saja, atau sesekali terlihat melaluijendela yang berjeruji besi.

Rumah ini kemudian dibeli dan ditinggali oleh Udi [Chasan Chumaidi anaknya haji Affandi Sidik] bersama isterinya Mbak Khusniyah yang anaknya Ning Ayu Tana [saudaranya Nur Aba Jaji], dan juga kelihatannya masih tetap mengaktifkan pintu belakang saja.

î

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: