JIRANKU 07

Kembali ke rumah besar. Dengan berjalannya waktu, kita semua bertambah besar. Greta, walau masih kecil sudah ada yang mengapeli. Dia temannya Atim yang bernama Aziz, anak Madura. Dan kemudian ceritanya konon berlangsung hingga sekarang. Salah satu anaknya Greta ini [yang lelaki], kemudian ada yang menjadi pegawai di Adhi Karya, pada Divisi Jasa Niaga, yang masuk pada jamannya sebelum bu Diah Nyudarwati memimpinnya.

Ceritanya, pernah sewaktu saya datang ke Divisi Jasa Niaga ini, dia melihat saya dan kemudian menanyakan ke ibu Diah untuk memastikan apakah saya dari Gresik. Setelah benar kemudian dia memberitahukan ke bu Diah bahwa ibunya dia dulu bertetangga dengan saya. Saya lupa namanya, karena kemudian ketika krismon dan ada pengurangan pegawai dia memilih untuk keluar. Ternyata kemudian, bahwa ayahnya [Azizi] itu masih keluarga dari pak Darsono yang memang berasal dari Pamekasan, dan lama menjabat sebagai TUK di ADHI KARYA cabang Surabaya, sebelum dipindah ke Jakarta.

Menurut cerita adikku, Greta ini menjadi muslimah yang taat dan aktif juga dalam organisasi kewanitaan Islam. Tetapi ibunya Nya Mien-nya [yang biasa disapa Nante] masih tetap seperti sediakala. Kalau Edwin, saya tidak mendengar kabar beritanya.

î

Beberapa keluarga lain juga pernah menjadi penghuni rumah besar ini, tetapi tidak menjadi anchor tenant. Hanya sebentar saja. Apa karena masa penugasannya yang memang pendek, atau sudah mendapatkan tempat hunian lain yang lebih sesuai. Pernah ada sekeluarga tentara dengan satu dua orang anak, yang kalau tidak salah salah satu anaknya bernama Hery [perempuan]. Dan juga beberapa keluarga lain yang tidak ingat lagi, karena hanya singkat.

î

Sebelum melanjutkan kissah tentang rumah besar, ada tetangga satu lagi yang menghuni rumah besar di samping kanan atau sebelah timur ANIEM, yaitu keluarga Ning Sah [atau Nyonya Maria]. Ning Sah ini, masih indo tulen. Tetapi semuanya muslim dan muslimah. Saat itu mungkin baru menikah lagi dengan pak Achmad Saleh, dan dikaruniai putra dua orang, yaitu Hilman dan Diana. Dari suami sebelumnya, ning Sah ini dikaruniai beberapa orang anak, yaitu mas Hari, Basuki, Nanik Mariawati, dan Djaya [yang kemudian sering dipanggil sebagai Robert –nama bekennya].

Djaya yang seusia atau sebaya dengan ku, dan juga teman sepermainanku. Kalau Naniek, teman sekelasku di SMP, khususnya ketika di kelas 2-C [waktu itu ada tiga paralel, yaitu A, B, dan C]. Karena badannya yang bongsor, saya sering memanggilnya sebagai mbak Naniek, sebagaimana Djaja memanggilnya.

Tidak seperti anak-anak Gresik pada umumnya, Djaja ini tidak sunat kecil sebagaimana lazimnya. Dan saya masih ingat, ketika bulan puasa kita biasanya shalat isya’ dan terawih di Masjid Jamik. Imam tetapnya untuk terawih, adalah KH Abdul Karim, kemudian dia pulang dan digantikan oleh Kiyai Dhofir atau Haji Thoha untuk shalat witirnya. Pada saat Kiyai Dulkarim [anak-anak memanggilnya] pulang melalui samping selatan masjid, anak-anak berebut untuk bersalaman sambil mencium tangan beliau. Ketika Djaja ikut salaman, ada beberapa anak yang ribut untuk memberi tahu Kiyai Dulkarim, supaya wudju lagi. Karena memang ada yang mengajarkan, bahwa bersinggungan dengan anak yang belum sunat, walau sesama lelaki adalah membatalkan wudhu.

î

Rumah besar ini kemudian dibeli oleh cak Madjedi [Chasan Madjedi, anak haji Affandi Sidik] sebelum tahun 1965-an atau di waktu-waktu itu. Seluruh keluarga yang ada kemudian dipindahkan [atau disediakan tempat pindah] ke bangunan yang ada di Pekelingan/Kebungson yang dikenal sebagai Pabrik Karet. Karena itulah salah satu sebab sehingga saya kemudian tidak mengetahui kelanjutan cerita dari para penghuni rumah besar ini.

Rumah besar ini, yang karena masih kosong, kemudian dimanfaatkan oleh pihak penguasa untuk tempat penahanan dan pemeriksaan mereka yang diduga terlibat dalam pemberontakan G30S-PKI. Tentu saja sebagian dari mereka yang diperiksa kemudian di-sukabumi-kan atau entah dikirim kemana. Konon, katanya sesudah pemeriksaan usai, dan rumah besar kembali kosong, masih terdengar suara kursi dan meja yang bergeser-geser, tetapi keluarga kami yang berbatasan dinding katanya tidak mendengar apa-apa, dan tenang tenang saja.

Sampailah saatnya rumah besar ini akan direnovasi dan akan ditinggali oleh cak Madjedi sekeluarga, yang saat itu masih tinggal di rumah di Jalan Niaga – kalau tidak salah sebelah timurnya toko Asia. Entah bangunan itu sekarang jadi apa. Saat itu, walau sudah banyak keluarga Gresik yang memiliki mobil, tetapi masih jarang yang memiliki car-port atau garasi di rumahnya. Maklum bangunan yang mereka tinggali, hampir kesemuanya adalah bangunan yang dibuat sebelum mobil menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Maka terbersitlah berita, bahwa cak Mad akan membangun garasi pada rumahnya yang di Bedilan, dan itu memang memungkinkan karena gang kampung yang di depan rumahnya – apalagi bagian yang di sebelah timurnya adalah sangat lebar.

Pada waktu di awal 50-an, ketika bapakku masih aktif di pemerintahan, ada mobil dinas berupa Jeep Willys, mungkin sisa Perang Dunia ke II, yang bernomor polisi L-2005 [kalau sekarang barangkalisangat berarti nomernya itu, karena menunjukkan tanggal dan bulan kelahiranku], yang digunakan oleh bapak dan teman-temannya pulang pergi ke Kantor Kabupaten di Gentengkali. Mereka biasanya kumpul pagi-pagi sebeleum berangkat ke Surabaya, dan ketika malam mobil itu disimpan di gang di depan pintu samping kediamanku.

Saya suka memainkan setirnya seakan-akan seperti orang nyetir, tetapi akinya dilepas sambungannya agar klaksonnya tidak bisa dibunyikan. Karena siapapun dapat naik mobil itu dikala diparkir. Tak ada pintu yang bisa dikunci. Dan kalau itu tidak ada yang mempersoalkan parkirnya mobil itu disitu. Begitu juga ketika pembangunan Taman Kanak-Kanak BATIK, kendaraan truk pengangkut bahan bangunan pun memasuki gang dan menurunkan muatan pas sebelum tanjakan.

Entah apa kemudian, rupanya ada pihak-pihak yang tidak senang dengan akan adanya rumah cak Madjedi yang dilengkapi garasi tersebut. Maka mereka dengan swadaya membangun gapura yang sangat kokok, dan sangat aneh dari bentuknya. Biasanya gapura itu memiliki bentang yang selebar-lebarnya, dan bangunannya ada di tepinya. Gapura yang ini, agak pilarnya agak ketengah, sehingga bentang yang dapat dilalui menjadi sangat sempit, tak mungkin dilewati kendaraan roda empat, entah kalau model city-car sekarang [nanti akan kucoba ukur kalau pulang ke Gresik]. Tujuannya jelas dan pasti, agar cak Madjedi tidak dapat menyimpan mobil di rumahnya.

Kalau tembok Berlin yang dibangun oleh Rusia sewaktu berlangsungnya perang dingin sudah dijebol dan diratakan semasa jatuhnya pemerintahan Moskow, dengan glasnost dan perestroika, kapankah kiranya Gerbang Angkaramurka ini akan dirobohkan? Perang dingin bukannya telah pun usai? Dan mereka yang terlibat atau yang memprovokasi pembangunan gerbang tersebut telah tiada, apakah tidak seyogyanya dibuka saja. Saya khawatir kalau terjadi kebakaran di Makamlondoh. Dan mobil brandweer tak bisa masuk, itu saja. Na’udzu billahi min dzalik.

î

Begitulah pluralitas yang ada disekitarku ketika masa kanak-kanakku. Apakah hal itu mempengaruhi kehidupanku kemudian.

Wa Allahu a’lam.

î

2 Tanggapan to “JIRANKU 07”

  1. Rachmi Madalati Says:

    Waaah rumah itu kan tempat masa kecilku dulu ya …

    • ongkeksuling Says:

      Maaf ya baru bisa membalas di blog, setelah bisa membuka setelah passwordnya ketemu lagu.
      Ternyata, Rachmi Madalati ini, anaknya Cak Madjedi Affandi dan mBak Muzdalifah, yang panggilan sehari-harinya adalah Yayuk.
      Dan rumah yang dimaksud, adalah yng saya sebut sebagai Rumah Besar, yang semula dimiliki dan dihuni oleh Nya Besar, beserta banyak keluarga lain, khususnya Hengky dan Nya Mien.

      Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: