JIRANKU 05

ANIEM, adalah singkatan dari Algemeine Nederland Indische Elektrik Maatschapij, yang kemudian menjadi PLN ini. Tetapi ANIEM ini mungkin di daerah Jawa Timur saja, karena konon di Bandung, mereka menyebutnya GEBEO, entah singkatan apa. Gedungnya tetap seperti itu saja sejak dibangun ditahun 1924, tetapi penghuninya yang silih berganti. Gedung ini sangat serba guna sekali, selain dipakai sebagai kantor untuk menjalankan fungsi administrasi, keuangan, juga untuk gudang teknik bagi kegiatan pamasangan instalasi baru, pemeliharaan serta juga untuk tempat tinggal pimpinan beserta keluarga, dan beberapa pegawai yang bujangan.

Bangunan utama berlantai dua, dimana keseluruhan lantai dua sepenuhnya digunakan untuk tempat tinggal keluarga pimpinan. Untuk menuju ke lantai dua, ada dua buah tangga. Yang satu bisa diakses dari dalam bangunan [perisnya ke halaman bangunan], sehingga untuk kek kantor sang bapak tidak perlu keluar rumah. Dan yang satu lagi berhubungan langsung dengan luar, pada samping bangunan [walau yang ini agak jarang digunakan].

Susunan ruangnya sederhana, kalau tak salah ada teras [yang terlihat dari luar gedung] yang menyatu dengan ruangan terbuka [bisa difungsikan sebagai ruang tamu juga], lalu ada kamar-kamar besar disisi-sisinya, dan kemudian ruangan dapur di bagian agak belakang. Di bagian belakang juga ada teras lagi.

Di tangga yang berhubungan dengan kampung inilah, saya mengenal “sistem skaklar hotel”, yaitu sebuah lampu bisa dinyalakan dan dipadamkan dari dua skaklar, yang satu di ujung bawah tangga dan yang satunya di ujung atas tangga, atau kalau di hotel [dari situ skaklar ini diberi nama] yang satu diletakkan di pintu masuk dan yang satunya di samping tempat tidur. Rusianya [istilah Gresik untuk rahasia tekniknya], baru kuketahui ketika mahasiswa setelah membaca buku petunjuk instalasi listrik. Dan saking senangnya mengetahui hal itu, saya aplikasikan di kamar tempat tinggalku, dengan membuat sendiri skakelarnya dari lempengan tembaga, satu di pintu dan satu lagi di samping tempat tidur.

Di awal-awal 1950-an, kepala ANIEM nya kebanyakan masih orang belanda totok, dan sudah tua sehingga tidak ada anaknya yang sebaya dengan kita-kita, sehingga tidak begitu mengenal. Tahunya, hanya kadang-kadang si nyonya Belanda membuka jendela belakang yang kearah kampung, dan kemudian melemparkan bungkusan permen bila ada anak-anak [ya kita-kita ini] sedang bermain disana.

Kemudian, ketika saya SD kelas 3-5, atau tahun 1954-56, pimpinannya adalah seorang Jawa, pak Soedarmanto yang beristerikan seorang Belanda Indo, dan punya anak-anak yang sebaya dengan kita. Anaknya yang tertua, mungkin dua tahun di atas saya, namanya Sudarmoro, dan ada beberapa adiknya yang perempuan [ada yang bernama Oni]. Mulai saat itulah, ANIEM menjadi bagian yang terbuka dengan masyarakat sekelilingnya. Anak-anak sekitar [walau hanya tertentu saja] mulai bermain-main di halaman belakang bangunan ANIEM ini. Begitu juga masyarakat di sekitarnya.

Saat itu, ada dua pegawai ANIEM yang masih bujangan yang tinggal di paviliun [atau bangunan samping] yang punya pintu ke arah kampung, yaitu yang kita kenal sebagai Oom Konang [mungkin Kaunang, orang Manado] dan Oom Gito [Sugito, orang Malang]. Oom Konang ini kemudian entah pindah kemana, tetapi Oom Gito, kemudian memperisteri gadis Gresik, anaknya wak Djari yang tinggal di Bedilan Gang VII, Kampung Bongkaran.

Pegawainya, tidaklah banyak. Hanya ada beberapa orang. Sepertinya berfungsi pada bagian keuangan yang merangkap kasir dan sekaligus juru tagih, adalah seorang China, entah siapa namanya. Pada jaman seperti itu, sistem penagihannya sudah cukup modern. Paling tidak blanko tagihan dan kuitansinya itu sudah ‘machine generated’. Karena umumnya waktu itu, hanya sedikit sekali para pelanggan yang menggunakan meteran, sebagian besar masih fixed rate. Dengan daya tertentu, maka tagihannya sebesar sekian. Tidak ada pemisahan antara biaya beban tetap dqan biaya pemakaian KWh. Dan daya listrik masih kecil-kecil, di tempat kediaman kami, kalau tidak salah hanya sebesar 100 VA alias 100 Watt saja.

Pegawai teknik, adalah orang-orang lokal ‘asli Gresik’ atau sudah berdiam di Gresik cukup lama. Setidaknya ada tiga orang yang sangat dikenal, yaitu wak Mat yang tinggal di Semarangan, wak Sirin yang tinggal di Bejarangan, dan cak Achjar yang tinggal di Sumursongo. Mereka kemana mana dengan menggunakan sepeda, dimana pada tempat boncengannya terletak tas yang berisi peralatan kerja. Kemudian ada beberapa pegawai teknik baru yang kurang kami kenal. Salah satu yang sangat mengesankan, bahwa ANIEM memiliki koleksi tangga dari bambu dengan berbagai macam ukuran panjang. Mulai dari tangga bambu yang banyak dipunyai orang-orang, sampai yang setinggi tiang listrik yang ada. Dan tangga tangga ini terawat dengan baik. Dan yang paling unik, adalah cara mereka membawa tangga dari satu tempat ke tempat lain, dengan cara bersepeda. Ada posisi tertentu yang berbeda meletakkan tangganya pada bahu yang bersepeda di depan dan yang di belakang, sehingga cukup stabil walau harus berbelok sekalipun. Teknik sederhana dan bermanfaat seperti itulah yang sangat perlu dikembangkan dlam bangsa kita. Entah sekarang yang digunakan tangga apa. Dan mereka, tergolong yang patuh dalam menggunakan sabuk pengaman ketika bekerja pada suatu ketinggian. Entah karena kepalanya masih Belanda atau berbau Belanda. Tetapi tidak koq, ketika kepalanya [Kepala ANIEMnya] sudah berganti dengan orang pribumi mereka sudah terbiasa menggunakan sabuk pengaman tersebut.

Peralatan kerja mereka, disimpan dalam sebuah loker yang mirip kandang ayam, karena hanya dibatasi oleh kawat harmonika atau kawat loket [menurut istilah penjual kawat-kaeat]. Saya kira itu jauh lebih baik dari loker yang tertutup, sehingga bisa diketahui apa saja yang disimpan dalam loker tersebut. Tetapi semasa saya sering bermain kesana, loker itu menganggur, sehingga sering kita pakai untuk sembunyi waktu bermain petak umpet alias selidenan dalam bahasa kita.

Sudarmoro, yang saya panggil mas Sud, sekolahnya sudah di SMP Negeri bersama mas Bag [Subagjo anak pak Tamjis, yang kemudian jadi menantunya wak Malik dan nduk Na Begedongan] tetapi mungkin lain kelas. Dia sangat enerjik, dan menyukai olah raga, antara lain badminton. Sehingga di halaman belakang yang dibatasi oleh gedung, paviliun, garasi / gudang terbuka, dan inding rumahnya ning Sah [Ibu Maria – isteri pak Achmad Saleh, ibunya Djaja alias Robert] dibuat lapangan badminton. Karena terhalang oleh keberadaan pohon sawo di sisi utara, maka lahan yang tersedia tidak cukup, sehingga lapangannya jadi aneh, karena dibuat garis ke arah vertikal setinggi beberap cm, mungkin 15-20 cm sebagai pengganti kekurangan panjang tersebut. Logikanya barangkali, jika masih dalam batas garis horisontal pada dinding yang vertikal tersebut, ya nantinya akan dinyatakan sebagai masuk.

Orang-orang Makamlondoh, seperti cak Ambi, cak Seri [Chusaeri], cak Pakeh, cak Kohar [Muntohar Said], cak Wasil [anaknya wak Lam juga] dan lain lain sebelum itu sudah bermain badminton di lapangan yang sekarang menjadi Taman Kanak-Kanak BATIK. Tentu mainnya hanya pagi dan sore hari saja. Banyak juga yang suka bermain disitu, antara lain beberapa orang tentara dari Batalyon G yang baru pulang dari bertugas di luar negeri dalam misi perdamaian PBB. Dengan adanya lapangan di ANIEM, yang dilengkapi penerangan listrik, maka bisa bermain di malam hari. Sering dilakukan pertandingan [istilah kerennya waktu itu match] dengan perkumpulan dari kampung-kampung lain. Yang nonton juga banyak, dan umumnya mereka masuk melalui pintu samping yang lebar di sebelah timur-selatan. Tentu saja kami yang masih anak-anak ikut latah untuk belajar bermain badminton, walau pertamanya dengan semacam raketdari kayu [ha-ha, jadi bunyinya cetak-cetok]. Paling tidak sudah belajar mengenai peraturan permainannya.

Pak Sudarmanto kemudian pindah, mungkin ke Surabaya. Dan boleh dikata sesudah itu tidak pernah bertemu kembali. Menurut berita, ada yang mengetahui bahwa mas Sud atau Sudarmoro kemudian melanjutkan ke ITS, pada jurusan Elektro, mengikuti jejak bapaknya.

î

Penggantinya adalah pak Saleh, dari kantor Bangkalan. Dan memang beliau juga orang Madura. Mereka hanya punya anak satu, namanya Noor, lelaki, entah kepanjangannya siapa. Dia seumur dengan saya. Waktu orang tuanya pindah ke Gresik, Noor ini masih kelas 5 atau 6 di Bangkalan. Karena tanggung, dia masih meneruskan sekolah di sana, dan kalau Sabtu datang ke Gresik, dan kembali pada hari Minggu sorenya. Kemudian dia masuk ke SMP Negeri, tetapi lain kelas dengan ku. Dan tidak lama kemudian, keluarga pak Saleh ini dipindah ke kota lain.

Kami lebih banyak bermain dengan pembantunya, lelaki yang masih muda namanya Suto. Dari dialah mulai mengenal kata-kata bahasa Madura seperti sajempel dan sebagainya. Da juga keponakan pak Saleh yang baru menikah yang ikut tinggal di ANIEM ini. Pada masa nasionalisasi perusahaan milik Belanda, nama ANIEM diganti menjadi Perusahaan Listrik Negara [PLN] hingga sekarang ini. Dan sesudah pimpinan pak Saleh ini, saya sudah kurang begitu mengetahuinya.

Suatu ketika, pernah terjadi lampu mati karena ada ranting pohon beringin yang disamping kantor kecamatan patah dan mengenai kabel listrik yang berhubungan dengan gardu yang ada di depan kediaman kami. Wah, loncatan bunga apinya cukup mengejutkan, dan sesaat kemudian lampupun padam. Tetapi yang di kantor PLN masih ada lampu yang menyala. Ternyata, baru tahu saya bahwa listrik itu ada 3 fasa, yang masuk ke rumah kita [yang daya listriknya kecil saja] hanyalah satu fasa. Sedang yang masuk ke kantor PLN, ada tiga fasa [karena memang kawatnya banyak, yang tersambung dari tiang di depan pintu belakang kediaman kami], sehingga masih ada lampu yang bisa menyala. Karena yang terputus sikringnya di gardu, hanya dua fasa saja.

Suatu saat ketika ada acara di rumah Chusnul Jaqien atau Setyo Budi, saya diperkenalkan dengan seseorang yang konon dulu pernah tinggal di rumah tersebut, ketika orang tuanya jadi Kepala PLN. Dia tinggal di Cipinang Muara, bertetangga dengan mereka. Dia mengenali adik-adik saya, seperti Nongmah dan Toni, dan katanya sering main kerumah. Mungkin saat saya sudah ada di Bandung. Toni memang pernah bercerita, bahwa di jamannya dia, saat Kepala PLN nya bernama pak Sunarto, yang punya beberapa anak lelaki dan perempuan yang berteman dengan dia, dan menyebutkan nama-namanya. Mungkin salah satunya yang jadi tetangga Inul dan Budi itu.

î

2 Tanggapan to “JIRANKU 05”

  1. yani santoso Says:

    saya masih nyimpan dokumen pemasangan listrik th 50an….

    • Saifuddien Sjaaf Says:

      Kalau strook tagihan listrik dan kwitansi tagilan ANIEM tahun 1950-1960 an yang sudah “canggih” [menurut kadar waktu itu], menggunakan mesin pencetak [saya tak tahu mesinnya – tetapi bukan diketik apalagi ditulis tangan] akan sangat bagus sekali, sebagai arsip sejarah. Dan akan ketahuan juga, berapa besar DAYA dan komposisi biaya serta TARIFnya. Kalau anda foto atau scan, saya juga akan senang untuk memperoleh copynya. Dan terima kasih banyak.

      Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: