JIRANKU 04

Yang tidak boleh dilupakan, adalah cak Tipun yang mendiami dua ‘kios’ di dekat pintu samping belakang kediamanku. Dia ini mungkin masih ada hubungan keluarga dengan isterinya Yok Oei. Dia berjualan rokok di dalam rombong, yang diletakkan disudut jalan, di ‘trotoir’ depannya Yok Oei. Jadi persis di samping pintu kediaman kami. Untuk penerangan di malam hari, menggunakan stroom dari tempatnya Yok Oei.

Jualannya aneka macam rokok, baik kretek, klobot, dan rokok putih. Roko menyan dan klembak tidak ada. Juga dijual tembakau shag dan kertas rokok untuk rokok tingwe alias ngelinting dewe. Tentu saja korek api dan batu korek api, tetapi tidak jualan korek api yang pakai batu dan diisi bensin [yang isi gas belum ada waktu itu]. Dan sebagai service-nya, juga menyediakan bensin sebagai BBMnya korek, secara gratis – yang disediakan dalam botol dengan dua pipa kecil yang berlawanan pada bagian tutupnya. Jualan sampingannya, yang tidak ada kaitannya dengan rokok adalah permen dan lotere.

Lotere ini merupakan lotere resmi yang dikeluarkan oleh negara [Departemen Sosial barangkali]. Mungkin kelanjutan dari program serupa di jaman penajajahan Belanda, atau masa sebelum penyerahan kedaulatan. Lotere ini juga yang membuat kiosnya menjadi selalu ramai. Banyak orang yang membeli, entah selembar atau beberapa lembar. Mereka tidak hanya sekedar membeli, tetapi juga memilih-milih angka yang disukainya. Entah dasar pertimbangannya apa. Tetapi pada waktu itu, tidak ada angka ramalan yang digunakan seperti halnya ketika maraknya hwa-hwe atau totalisator buntut pada jamannya Acub Zainal mencari dana untuk PON di Surabaya.

Pada saat tanggal penarikan, banyak orang yang datang untuk mencocokkan nomer lotere yang telah dibelinya melalui selembar daftar yang disediakan oleh cak Tipun. Mereka bergantian melihat nomor-nomor yang tercantum dalam daftar tersebut. Sepanjang ingatanku belum pernah mendengar orang berteriak histeris karena mendapatkan hadiah. Jangankan yang besar, yang kecilpun tidak. Tetapi ya masih laku juga. Namanya berharap.

Jualan rokok pada waktu itu, tidak saja dalam bentuk bungkusan, tetapi juga dijual secara eceran. Maklum, keadaan ekonomi pada waktu itu masihlah belum baik. Sehingga bagi mereka yang kantongnya agak cekak, tetapi tidak tahan bila tidak merokok, atau yang masih belajar merokok [merokok koq belajar ya] membelinya secara eceran. Rokok putih, ragam mereknya tidaklah banyak. Dan sejak dulu didominasi oleh rokok buatan BAT [British American Tobacco] dengan merk Kansas [yang berwarna kuning], Escort [yang bergambar iring-iringan kapal perang dengan warna dasar abu-abu] , Commodore [yang bergambar wing penerbang – bukan penerjun -, dengan warna dasar hijau tua]. Ada juga cap CIAD, yang sebenarnya adalah rokok produk BAT, yang diberi cap khusus untuk pembagian [catu / ransum] bagi anggota Angkatan Darat, yang kemudian dijual oleh anggota tentara yang tidak merokok.

Kalau rokok kretek dan kelobot, [yaitu yang kertasnya diganti dengan klobot atau kulit jagung], capnya sangat beragam sekali, karena banyak yang dibuat oleh pabrik-pabrik kecil atau berupa industri rumahan [bukan murahan, lho]. Rokok kelobot ini, bentuknya tidak silindris seperti rokok kretek dan rokok putih, melainkan konis atau kerucut dengan ikatan benang sebagai pengganti lemnya. Rokok kretek yang buatan pabrik besar, biasanya dalam kemasan seperti rokok putih, hanya tidak pakai kertas timah [prodo], ada beberapa cap. Diantaranaaya yang terkenal adalah Grendel, dan Bentoel [yang ada sampai sekarang], umumnya buatan Malang.

Roko klobot dan kretek yang buatan industri kecil atau rumahan, biasanya dibungkus dengan kertas minyak, dan capnya berukuran kecil [bujur sangkar ukuran 4-5 cm saja]. Banyak sekali ragam capnya, dan saat itu dijadikan bahan koleksi, dan juga dipertukarkan dengan cap-cap dari daerah lain, seperti philatelis yang mengumpulkan perangko. Diantaranya, ada yang pabriknya di Gresik dan Tulungagung, yaitu cap Saputangan dengan nama pabrik Djojokesumo, yang konon dikelola oleh Ong Tjai Iek yang tinggalnya di depan toko Solo [kemudian dibeli dan ditinggali cak Bisri Ilyas]. Pabrik rokok itu sendiri, sekarang jadi Madrasah Darul Islam di jalan Setiabudi.

Cak Tipun ini memiliki jiwa wirausaha yang tinggi. Melihat banyaknya rokok kretek buatan pabrik-pabrik kecil, diapun kemudian mencoba membuat rokok kretek sendiri. Dimana lagi, kalau bukan di tempat tinggalnya yang dua petak itu. Disitu dia merajang cengkeh, mencampur saus [untuk aroma rokok], dan ngelinting rokok yang dilakukan oleh beberapa pegawainya. Dari situlah saya mengetahui bagaimana menggulung rokok kretek. Ternyata ada tekniknya dan alatnya sehingga pekerjaan menjadi dimudah-kan. Siapakah sebenarnya penemu alat penggulung rokok kretek tersebut? Seyogyanyalah pemerintah mencari dan memberikan penghargaan kepadanya, bukannya dengan alat itu banyak orang dimudahkan. Bayangkan, bagaimana seandainya alat itu tidak ditemukan. Terlepas dari kenyataan bahwa merokok dapat membahayakan diri dan janin sebagaimana yang dicantumkan dalam setiap bungkus dan iklan rokok.

Entah bagaimana ceritanya, kemudian usaha cak Tipun ini digantikan oleh kakaknya yang sudah berkeluarga, yaitu Cak Tolan. Cak Tolan beserta isteri [Yuk Ti] dan keluarga meneruskan usaha cak Tipun dalam berjualan [kalau pabriknya sudah tutup duluan]. Ada beberapa anak cak Tolan, yang pertama lupa namanya [mungkin Tris], yang kedua Mat Sibli, dan kemudian ada Surti, dan ada adik-adiknya lagi. Usaha jualan rokoknya makin mengecil, dan akhirnya cak Tolan menjadi pengemudi becak. Beberapa tahun terakhir masih sempat ketemu, tetapi sudah pindah ke tempat lain. Konon anak-anaknya ada yang berhasil, dan bersuamikan sarjana lulusan IPB. [Mungkin nanti adik-adikku akan menambahkan cerita tentang mereka].

î

Rumah besar kepunyaan Nya Besar, mungkin akan menjadi bagian cerita yang panjang, karena banyaknya penghuni rumah besar ini, jadi ceritanya pasti akan banyak juga.

Saya tidak tahu persis siapa namanya dan dari etnis mana dia berasal. Mungkin campuran belanda dengan China, atau etnis apa lagi. Dia adalah seorang perempuan yang sudah tua, berpakaian dengan menggunakan jarik dan baju kebaya, seperti yang dipakai oleh nyonya Belanda atau China di jaman itu. [jadi tersenyum sendiri saya, dulu wong Londoh dan Cino menyesuaikan diri menggunakan pakaian kita – sewek dan kebaya – tetapi sekarang kita yang menggunakan pakaian mereka – sayak dan daster]. Walak wali’e jaman. Yang jelas, nya Besar ini masih punya hubungan kekerabatan dengan Cok [yang punya nama marga Hartman] yang mengelola bisokop Hartati, dan nya Min [isteri oom Hengky] dan Tin [adiknya nya Min], serta Pik. Nya Besar ini punya ‘anak asuh’ yang bernama Ami.

Ketika Cok masih hidup, dia sering datang dengan mengendarai sepeda motor Harley Davidson yang dilengkapi dengan zijspan [kereta yang disamping], dimana isterinya yang pribumi [yang biasa dipanggil Genduk] duduk. Cok ini perawakannya tambun, sehingga julukannya Cok Jemblung. Dia meninggal lebih dahulu dibanding nya Besar.

Nya Besar ini memelihara dua ekor anjing, yang satu berkulit hitam, dan diberi nama Blacky, dan yang satunya putih belang merah, lupa namanya. Kedua anjing ini sering mengganggu perjalanan saya untuk melintasi halaman depan rumah besar ini, baik ketika mau pergi sekolah, pergi bermain atau pulangnya. Oleh orangtuaku atau siapa diberitahu supaya saya mengucapkan salah satu ayat al-Quran agar anjingnya tidak mengganggu. Yah anda bisa menduga, tidak lain itu adalah salah satu ayat pada surat al-Baqarah. Namanya ayat al-Quran tentu bukan untuk menenangkan anjing, tetapi kan merupakan petunjuk bagi manusia, ya kadang-kadang anjingnya tetap saja menggonggong. Kalau sudah kubacakan sampai tiga kali tetapi tetap tidak mempan, terpaksa saya yang ngalah mengambil jalan memutar. Cukup jauh juga sih. Lewat gang satunya lagi, dan memutar di Makamlondoh.

Ketika nya Besar meninggal, jenazahnya dibawa dengan kereta jenazah dari Carrara, tetapi entah dibawah kemana. Apakah dikremasikan atau dikubur. Yang jelas tidak dikubur di Makamlondoh.

Karena cerita tentang rumah besar dan penghuninya ini mungkin akan panjang, karena itu ada baiknya saya menceritakan dulu yang lain, agar jangan terlupa.

î

Man Dam dan Yuk Sum, nama lengkapnya siapa, sayapun tidak mengetahuinya. Seingatku, dia sudah tinggal di kios tersebut sejak kami berdiam di rumah Garling. Man Dam ini asal Dukun, dan bekerja sebagai tukang pelitur di mebelnya A Gui yang dulu menempati dua buah rumah koppel no. 2 dan no. 4 di Jalan Pemuda sebagai tempat usahanya. Dimana yang no. 2 kemudian akan digunakan sebagai Foto Studio STAR [lihat Photography]. Man Dam tidak sendirian bekerja di situ, ada beberapa orang lainnya. Yuk Sum, membuka warung disamping gardu listrik, dimana diatasnya ada sirene [lihat Warung di sekitarku].

Yuk Sum dan Man Dam, hingga usianya yang lanjut belum dikaruniai seorang anakpun. Ada anak perempuan yang diasuhnya, tetapi saya tidak ingat lagi namanya. Mungkin adik-adikku yang sebaya dengannya, akan mengingatkannya nanti. Seingatku, man Dam dan yuk Sum tinggal disitu, hanya untuk tidur saja. Pagi-pagi keduanya sudah bekerja di tempatnya masing-masing [walau berdekatan] dan sore baru pulang. Untuk keperluan membuang hajat dan mandi, dilakukannya ditempat lain.

Saya sering sekali melihat bagaimana man Dam dan teman-temannya bekerja untuk menyelesaikan sebuah perabotan rumah tangga. Mulai dari menghaluskan permukaan dengan ampelas, kemudian mendempul bagian-bagian yang tidak rata, baik karena cacat di kayunya, atau bekas pantekan sambungan batang kayu, juga bagaimana menyiapkan dempul agar siap dipakai. Kemudian mereka menggosoknya dengan watu kambang [alias batu apung], yaitu sejenis batuan karang yang diperoleh dari laut. Untuk komoditi ini, biasanya sudah ada yang mengantarkannya. Barulah setelah dewasa, saya mengetahui apa fungsi menggosok dengan batu apung ini, yang tidak lain adalah selain memperlicin permukaan, juga menutup pori-pori kayu, agar tidak banyak memakan zat warna dan juga permukaannya menjadi semakin solid. Menggosokkannya dengan terlebih dahulu mencelupkan dalam air, atau bisa disebut proses basah barangkali. Saat ini fungsi batu apung, sudah digantikan oleh berbagai macam filler yang disediakan dalam bentuk cairan yang akan segera memadat, bahkan sudah diberi zat pewarna sesuai hasil akhir yang diinginkan.

Pewarna yang lazim digunakan, adalah coklat natural dan hitam. Dan ternyata ada juga warna-arna lain yang bisa diaplikasikan pada perabotan, selain kedua warna standar hitam dan coklat tersebut, misalnya hijau atau yang lainnya. Saya sempat mananti-nantikan aplikasi warna selain hitam dan coklat tersebut, dan sempat kecewa harus menunggu beberapa hari. Sebabnya tidak lain, karena cuaca di hari-hari itu mendung, dan barulah saya tahu bahwa untuk melitur itu diperlukan keadaan cuaca yang terang dan panas, dan karena itu pulalah hampir semua pekerjaan memolitur dilakukan di luar gedung, berangin tetapi tidak terkena sinar matahari secara langsung.

Konon setelah saudaranya pergi menunaikan ibadah haji, man Dam selalu menunaikan shalat lima waktu di masjid jamik. Saya tidak mengetahui bagaimana kelanjutan atau babak akhir dari keluarga ini di Gresik.

6 Tanggapan to “JIRANKU 04”

  1. yani santoso Says:

    Sampai akhir hayatnya Ami ikut keluarga pak Azis.Sepeninggal mami Istrinya Hengki ,Ami sempat stres dan tidur di pinggir jalan sampai akhirnya meninggal dan jenazahnya di rawat oleh keluarga pak Azis.Semasa hidupnya Ami paling suka makan keju dan pisang mas .Ami sempat pula pacaran dengan tukang becak namanya Umar yg biasa mangkal di depan gedung bioskop Hartati.

    • Saifuddien Sjaaf Says:

      Ketika saya naik becak dengan cucuku, saya sempat melihat Ami berada di ujung pohok Utara-Barat Aloon-Aloon, setelah sebelumnya diberitahu adik-adikku keadaan Ami saat itu. Tetapi saya tidakberhenti, “maaf ya Ami”. Dan kalau ketemu adik-adikku, dia masih ingat dengan teman-temannya waktu kecil, termasuk saya.

      Salam

  2. yani santoso Says:

    sekedar tambahan asal Ami berasal dari Indro gresik.

    • Saifuddien Sjaaf Says:

      Betul, memang Ami berasal dari Indro. Ami bukanlah pembantunya Nante [ibunya Greta], melainkan setahuku – adalah semacam anak asuh [tidak diadopsi secara hukum] dari Nya Besar. Dan posisi itu terus dihormati oleh keluarga Hengki-Nya Min [Nante] dan sampai pada Greeta dll. Beberapa tahun yang lalu, saya sempat dialog dengan Greta via telepon, ketika saya sedang di Gresik. Kalau adik-adikku [yang perempuan] masih sering berjumpa dengan Greata dalam acara-acara pengajian. Sampaikan salam saya kepada mereka Greeta, Aziz, dan Edwin. Aziz ini ternyata adalah keluarga dari rekanku di ADHI KARYA, pak Soedarsono yang asal Pamekasan.

      Salam

  3. yani santoso Says:

    insya Allah saya sampaikan saya baik dengan keluarga pak Azis .Dan sekedar informasi tiap rabu malam kami dan beberapa orang gresik yang peduli terhadap Gresik selalu kumpul kumpul dirumah Pak noot .Dan saya selalu nimbrung dengan kutipan tulisan bapak sebagai bahan rujukan untuk mencari yang terserak …….

    • Saifuddien Sjaaf Says:

      Alhamdulillah. Saya mendengar tentang kegiatan tersebut, pertama kali dari Cak Kris Adji. Dan keponakan saya juga aktif dalam kegiatan tersebut, Abidin Royyani bin Machfud [Abid]. Senang sekali ada kegiatan semacam itu. Toko nya Cak Noot bertetangga dengan tempat tinggalku dulu di Garling [pojok-pojokan]. Salam untuk mereka semua yang selalu berkumpul tersebut. Terima kasih juga untuk mnyampaikan salam ke Greeta dan Cak Aziz. Kalau sama cak Aziz nya sih hanya ketemu beberaka kali saja. Karena waktu itu mungkin saya sudah kost di Surabaya, dan terus ke Bandung.

      Salam ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: