JIRANKU 03

Liem Hok Kiet, adalah pemilik toko meracang yang persis berhadapan dengan kediaman keluargaku. Isterinyalah yang sebenarnya aktif mengelola toko meracang ini. Dia adalah tipe etnis China yang sudah membaur dengan pribumi, setidaknya dalam cara berpakaian. Sehari-harinya dia menggunakan kain batik – biasanya berwarna biru – dan kebaya warna putih. Kemudian dia menghuni rumah besar yang berada di Jalan Besar, dan tetap membuka toko yang diberi nama Toko Suling. Disini dia tinggal bersama anak dan cucunya, dan juga mengelola penggergajian kayu yang terletak di bagian belakang rumah besar tersebut.

Kayu-kayu gelondongan, didatangkan dari daerah Bojonegoro dengan truk, dan diturunkan serta disimpan di tepi jalan [bahu jalan dari bagian belakang rumah tersebut yang ada di Jalan Keboengson / Nyai Gede Pinatih. Kayu gelondongan tersebut baru akan dibawa masuk bila sudah mau di gergaji.

Yang mengelola penggergajian kayu ini, adalah anaknya. Cucunya, dua perempuan kakak-beradik sekolahnya tidak di Gresik, pulang pergi ke Surabaya. Kami tidak begitu mengenalnya, walaupun sebaya.

Salah satu komoditi jualannya, yang jarang dijumpai adalah kwaci, yang konon dibuat oleh klannya yang tinggal di Bojonegoro. Kwaci yang diproduksi dan dijual keluarga ini, dibungkus dalam kertas coklat sampul buku dengan bentuk seperti bungkusan tepung hunkwee. Dari tulisan yang ada di bungkus itulah, dapat diketahui bahwa Liem Hok Kiet adalah agen untuk daerah Surabaya. Selain itu, juga merupakan oulet dari produk lemon Asia dan Gede [yang pabriknya ada di daerah Sumursongo], yang pemiliknya juga masih satu famili dengannya.

Banyak orang-orang yang baru turun dari perahu, langsung membeli ‘banyu londo’ alias ‘aeng belande’ dan diminum langsung di toko. ‘Air Belanda’ adalah istilah untuk carbonated water, atau air soda. Ya seperti 7up atau Sprite tetapi tanpa rasa apa-apa. Sangat disukai oleh orang Madura, karena konon dipercaya dapat menghilangkan masuk angin atau memperlancar datang bulan. Isteriku juga masih selalu meminumnya, tetapi sudah dalam bentuk Sprite atau 7up, bukan ‘air belanda’ lagi, belandanya sudah pulang.

Kemudian rumah di depan ini, ditinggali oleh salah satu keluarganya, yang kita hanya mengenal dengan panggilannya sebagai Yok Yan. Yang laki agak sedikit gagu, tetapi yang perempuan suka sekali berbicara. Yok Yan ini memiliki sifat yang khas, kalau memberikan uang pengembalian [susuk] maka uang kertas itu akan dipirit oleh ibu jari dan jari telunjuknya lama sekali [takut kalau dobel barangkali]. Mereka punya sepasang anak, yang paling tua adalah lelaki sedikit lebih muda dari saya biasa dipanggil Hwan dan adiknya perempuan. Kayaknya sekarang sudah pindah, mungkin mengikuti anak-anaknya.

î

Saya dulu tahu namanya, tetapi sekarang lupa. Agak beda dengan ungkapan semaca kecil di sekolah dulu “Biyen dak iso saiki lali”. Tetapi yang jelas, dia tinggal di Sememi dan setiap hari pulang pergi dengan menggunakan sepeda dengan satu tas yang ditempatkan di boncengan sepedanya. Beliau juga sangat setia pada profesinya. Entah dulu belajarnya dimana. Orangnya sangat pendiam, sedikit bicara, dan berwajah misterius dan serius. Beliau adalah ahli bikin betul arloji. Khusus arloji saja. Dan tentu saja arloji mekanik, bukan arloji digital.

Tempat kerjanya di samping Yok Oei. Gelap tanpa lampu, hanya ada penerangan sinar matahari yang dihalangi oleh dinding kaca yang menutupi meja kerjanya. Beliau selalu menggunakan teropong kecil yang ‘menempel’ di salah satu matanya, yang digunakan untuk memperbesar objek yang dikerjakan. Memang pekerjaan seperti ini, membutuhkan konsentrasi tinggi serta keterampilan motorik halus yang sangat presisi, dan didukung kemampuan menganalisis kerusakan. Suatu kombinasi yang agak sulit untuk berada pada satu diri seseorang. Sayang sekali sangat sedikit informasi yang diperoleh waktu itu, misalnya mengenai dimana beliau mendapatkan ilmu memperbaiki arloji itu, karena tentunya sesuatu ilmu dan keterampilan tidaklah datang begitu saja.

Dan juga, apakah profesi itu mampu menghidupi keluarganya, mengingat populasi orang yang memakai arloji tidaklah sebanyak yang memakai telepon seluler di abad 21 ini. Mungkin juga, beliau hanyalah sekedar menjalankan hobbi atau mengamalkan ilmunya demi kemudahan orang lain saja. Mengenai kebutuhan hidup, ada sumber lain mengingat beliau adalah orang Sememi, jadi sangat mungkin bila memiliki tambak ikan atau kemudian garam. Pernah saya perhatikan, ada orang membuka usaha seperti ini di depan setasiun, tetapi ya tidak lama umurnya.

î

Berdampingan dengan reparasi arloji, adalah bikin betul jam. Kalau ini agak gedean, karena ukuran jam dinding kan lebih jauh lebih besar dari pada arloji. Pengelolanya adalah Wak Doel [entah nama lengkapnya siapa, dan tinggalnya dimana]. Wak Doel jauh lebih tua dibanding yang si tukang arloji. Dan mungkin usahanya hanya sampai tahun 60-an saja. Dan bukanya juga jarang-jarang. Wak Doel ini selalu pakai sarung, dan kopyah kerinjing.

Wak Doel ini memiliki keahlian lain selain membetulkan jam. Dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan profesinya. Sering ada yang datang, untuk meminta jasa akan keahliannya yang lain ini. Boleh percaya boleh tidak. Wak Doel ini mampu menyembuhkan sakit gigi dari jarak jauh, dengan menggunakan medium bawang putih. Biasanya, yang sakit tidak ikut datang [tentu sedang menahan sakit di rumah], anak atau kerabatnya yang datang dengan membawa bawang putih. Wak Doel menanyakan nama pasien, serta lokasi gigi yang sakit. Kemudian dia berdoa [apa yang dibaca kita tidak tahu, karena hanya komat-kamit sebentar], lalu mengunyah bawang putih sesuai pada daerah gigi yang sakit, dan kemudian berkumur dengan air putih lalu menyemburkan air serta kunyahan bawang putih itu ke tanah. Selesai sudah. Kalau tidak manjur, tentu tidak banyak yang datang kan.

î

Di samping Liem Hok Kiet, ada profesi lain yang tergolong jarang di waktu itu, yaitu fotografi. Adalah foto studio Jin Ming yang menempati lantai atas bangunan itu. Jin Ming menutup usahanya beberapa waktu kemudian, entah karena apa. Mungkin kalah bersaing dengan foto studio yang baru muncul, atau juga karena usianya yang sudah tua. [lihat Photography].

Sedang lantai bawahnya, ditempati oleh Bang Amat yang gemuk, untuk berjualan rotan asalan dan kajang [anyaman daun rumbia untuk bahan atap]. Rotan dan kajang ini didatangkan dengan menggunakan perahu dari seberang, yaitu Kalimantan atau Banjar. Bang Amat ini sendiri memang keturunan Banjar. Yang mengelola disitu kemudian adalah keluarga dari Bang Amat, namanya ……. yang kemudian beristerikan bu En. Entah sampai kapan usaha jualan rotan ini berlangsung, tetapi kemudian digantikan warung makanan yang dikelola oleh sang isteri.

Nama warungnya, Hidayah. Karena adiknya mbak En ini bernama Nik Amunah, dan disiri oleh Mat Tembel, kemudian teman-temanku menyebutnya warung Nik-Mat. Ha… ha. Nik Amunah ini kemudian menikah dengan Najib, anaknya cak Ja’far, yang pernah ikut menjaga Toko PANTES. Usaha ini kelihatannya masih berlangsung hingga saat ini. Masakannya macam-macam, ada rawon, ada nasi campur, ada sop ayam. Sop ayamnya khas, karena pakai kayu manis, pala dan cengkeh [barangkali lho].

î

Toko PANTES merupakan toko milik pribumi yang cukup ramai di tahun 50-an. Walau sampai sekarang masih ada, tetapi pamornya sudaqh sangat menurun. Toko ini milik Oemarwan Zainuddin, [Wak Wang, bapaknya oom Nud daqn Rudi], dari keluarga Kemasan. Ada juga Toko PANTES di Surabaya, di perempatan Embong Malang – Blauran – Kedungdoro – Tidar yang dikelola oleh Tas’an [Cak An, bapaknya Satria, Gaguk, Mawan, Efen, Agus bersaudara], dan toko PANTES di Lamongan [entah dibawah manajemen siapa].

Jualannya macam-macam, mulai dari aneka cita [kain], alat-alat tulis, obat, bahkan minuman keraspun jual. Dan saat-saat terakhir menjadi lebih spesifik ke arah perlengkapan kantor dan alat-alat tulis saja. Kalau beli obat yang tergolong tidakboleh dijual bebas, ngomongnya harus pelan-pelan. Salah satunya adalah obat yang disebut MB, mungkin tergolong anti biotik. Mungkin MB itu kode nama pabrik farmasi pembuatnya, yang tercetak dalam pilnya. Yang lazim adalah berbagai jenis obat sulfa, boorwater, broklax, jodium tincture [sebelum ada obat merah mercuro-chroom yang tiadk perih] dan tentu saja ASPRO yang kemudian berganti nama menjadi NASPRO, cap Onta, PIM, Pil Kuat dan lain lain.

Yang menjaga toko, biasanya masih ada hubungan kekeluargaan. Dan ada yang sudah senior [kata lain dari tua] dan yang yunior [yang masih muda]. Beberapa nama yang bisa disebut antara lain Cak Muh [asal Makam Londoh] dan Samian [yang kemudian menjadi orang layaran, juga asal Makam Londoh]. Kemudian Wak Nan [Pekauman], Husni Thamrin [yang sebaya dan berteman dengan saya, anaknya pak Saleh Hasan, Keboengson], cak Jakfar [Pekelingan, bapaknya Najib] dan juga Najib-nya serta yang lain-lainnya lagi. Kemudian Oom Nud [anaknya wak Wang, begitu murid-muridnya di SMA Negeri Gresik menyapanya].

î

Di samping Toko PANTES diapit oleh tempat praktek dokter Oesman, adalah tokonya wak kaji Abu [perempuan, karena wak kaji Abu lelakinya sudah wafat] yang juga berjualan penjalin alias rotan serta agel yang digunakan sebagai tali pengikat [sebelum adanya rumput Jepang atau tali rafiah]. Agel ini digunakan sebagai pengikat benang dalam proses pencelupan warna dalam produksi sarung tenun iket kembang yang banyak dilakukan di daerah Pulopancikan dan Gapuro.

Dalam menjaga tokonya, wak kaji Abu didampingi anaknya yang perempuan [namanya lupa – yang kemudian diperisteri oleh Muslich [anaknya wak Darum, adiknya Ambari Kampung Rambu]. Atau dijaga oleh Opok, anaknya yang lebih tua [Yusuf, yang kemudian memperisteri Dewi, adiknya Nanu],. Setelah keduanya berkeluarga, yang menjaga toko adalah kakaknya, yaitu Cak Ali [yang beristerikan mbakyunya Rahmah, kampung Rogo], mungkin sampai sekarang. Opok sendiri kemudian membuka toko Manggis Biru [di jalan Niaga] yang menjual beraneka macam obat-obatan, sebagai penerapan ilmu yang diperoleh mereka berdua semasa aktif dalam ikut mengurusi Poliklinik HMI.

î

Yah di jalan Garling ini, memang tersedia beragam fasilitas yang didukung oleh berbagai keterampilan. Tukang patri dan pengerjaan logam pun ada. Yang satu ini menempati bangunan di sebelahnya Jin Ming, yang dikelola oleh wak Samad. Ada nama usahanya, tetapi saya lupa. Berbagai macam kegiatan patri mematri, dan juga pembuatan talang dilakukan disini. Saya lupa sampai kapan usaha ini berlangsung, dan kemudian dipakai untuk usaha apa. Mungkin usaha ini milik Haji Achjam [Toko Gumbira], karena terlihat sering dikunjungi oleh Haji Achjam atau Cak Nan-nya.

î

Tetangga di sampingnya, termasuk salah satu yang paling beken, karena berbagai hal. Hasil pekerjaannya diakui oleh banyak pihak, dan termasuk the best dalam kelasnya. Pembuatan perabot rumah atau furniture adalah keahliannya. Kekuatan sambungan dan mutu dari finishingnya diakui banyak pihak, hanya dalam model dia tidak begitu bersaing. Sehingga banyak perabot buatannya, terbatas pada perabotan yang tidak memerlukan model macam-macam, yaitu yang klasik saja, yang tak akan termakan oleh waktu. Misalnya, lemari toko, lemari-pakaian dan sebagainya.

Siapa lagi kalau bukan A Hong nama panggilannya. Mulai dari saya mengenalnya, sampai dia meninggal beberapa waktu yang lalu, saya belum pernah melihat dia berpakaian lain, selain kaos oblong dan celana pendek yang berwarna putih. Walaupun matanya sipit, dan sepertinya tidak memperhatikan sekeliling, tetapi kalau saya datang, selalu memanggilnya dan menanyakan kabar saya bagaimana. Di rumah Bedilan pun, kami bertetangga dengannya, setidaknya dengan bengkelnya yang berada di sebelah rumah.

Aku pernah memotretnya di ujung gang antara Toko Pantes dan Hotel Bahagia, secara close-up dan secara candid, yang kuberikan sebagai kenangan kepadanya. Kemudian dia meminta negatifnya, dan kuberikan duplikat dari negatif tersebut. Ternyata, foto yang kuberikan itu kemudian dipakai sebagai foto yang mengiringi jenazahnya ke alam yang baka, ya pakai kaos oblong itu. Dia dikaruniai beberapa anak, yang kukenal adalah A Gyang [lelaki] dan Mitang [perempuan].

A Hong ini sering menjadi obyek dan pelengkap penderita dari kegiatan anak-anak yang usil. Sebagaimana kebiasaan kakek moyangnya, diapun sering duduk di kursi di pintu rumah dengan kaki satu diangkat. Oleh anak-anak yang sedang bermain ‘turutan’ [lihat The Games and The Songs], tentu saja ini menjadi obyek yang sangat menantang. Mulailah yang satu njawil, dan diikuti oleh yang dibelakang-nya, sampai kemudian dia sadar sedang dipermainkan dan mulai mengomel-ngomel. Kalau njawil masih mending, kalau nuncek. Walau ngomongnya nggeremeng, tetapi kalau sedang bertengkar dan mabuk [dulu sering, tetapi akhir-akhir jarang], lalu dikancingi lawang oleh isterinya, ya hingar juga suaranya.

Sewaktu kerja di Kalianget, saya sempat berjumpa dengan saudara dan keponakannya A Hong [A Seng, seusia A Gyang] yang tinggal di Surabaya, ternyata mereka sudah lama menjadi rekanan PN Garam. Mereka juga ahli dalam pekerjaan kayu, khususnya dalam membuat pintu air [water sluis] yang diperlukan guna mengatur tercampurnya air laut dengan air tawar. Rupanya sekeluarga ahli dalam pengerjaan kayu. Katanya, sama-sama datang dari China, masing-masing punya keahlian menurut daerah asalnya. Ada yag dagang, tukang kayu, tukang gigi, sinshe dan lain-lain. Yang tukang cukur hanya Yok Oei [barangkali lho].

î

Tetangganya A Hong, adalah Jingkang [perempuan]. Entah nama sebenarnya siapa. Dia termasuk China yang berkaki kecil, berarti tergolong bangsawan. Karena yang berkaki kecil itu, tidak perlu ke sawah dan bekerja. Mungkin barangkali Jingkang ini tergolong imigran generasi pertama, kurang tahulah. Dia juga jualan meracang. Bangunan yang disitu rupanya hanya untuk berjualan saja. Tempat tinggalnya sendiri adalah di sebelah timur Toko Bata.

Meracangnya tidak sampai lama, dan kemudian menjelang 60-an dialih fungsikan menjadi Foto Studio Satelit. [lihat Photography], yang dikelola oleh suaminya cik Leh binti Jingkang. Penampilan cik Leh ini seperti bintang film Hong Kong saja, tinggi semampai berkulit kuning langsat, dan tidak begitu sipit. Kurang pantes kalau jadi anaknya Jingkang. Ditambah lagi, receh alias tidak pendiam. Jadi ya pantaslah kalau ada generasi diatas saya yang kepincut padanya. Karena tidak ada anak-anaknya yang sebaya, ya jadi hanya selintas saja. Sesudah itu, entah bagaimana ceritanya kurang begitu tahu.

î

Di depan Jingkang, ada rumah kosong yang besar. Rumah ini milik Haji Bakri Samad [bapaknya Saifudin Bakri], dan kemudian dijadikan penginapan Bahagia. Dan ini terus berlangsung hingga kini. Siapa yang mengelolanya, saya kurang tahu, karena Fudin kan ada di Jakarta, dan saudaranya mungkin tak ada lagi di Gresik.

î

10 Tanggapan to “JIRANKU 03”

  1. Yazid Fathoni Says:

    Toko Suling, saya hanya kenal dengan anak2nya, karena dulu terkenal paling jagoan main layangan. Kalo “sambitan” nggak pernah kalah karena benang pakai benang Cap Gajah begitu juga ramuan “gelasannya”.

    Kebiasaan anak2nya kalau hari lebaran, nyumet mercon ” rentengan ” besar dan panjang.

  2. yani santoso Says:

    Cik leh sampai sekarang masih hidup dan mempunyai dua orang putra, namanya cu sien (almarhum) dan cu cien .Cik leh sekarang tinggal di jalan Pahlawan bersama anaknya cu cien yang buka salon rambut tanpa nama depan kantor pelni dulu.
    Foto studio Satelit sekarang ditempati oleh Citro anaknya toko ria.Usaha citro jual alat rumah tangga dan diberi nama toko Ten.

    • Saifuddien Sjaaf Says:

      Terima kasih banyak atas tambahan cerita mengenai tetangga-2 ku di sekitar Garling, ya Cak. Saya sempat menanyakan ke keponakanku, siapakah anda ini [maaf ya, ini kebiasaanku bila ketemu dengan orang Gresik]. Setelah beberapa kali, dialog, barulah saya ketahui bahwa anda ini adalah anaknya Cak Prayit bin Noerpihan [ya benr tha].

      Ayahmu, dulu aktif dalam kegiatan sanggar seni, dan rumahmu dijadikan markas sanggar pembaca dari Berita Minggu [koran mingguan pada masa akhir 50-an sampai awal 60-an]. Anggota kelompok itu, antara lain

      – Cak Mas’ud [dulu tinggal di Keroman dan berjenggot – kami menyebutnya Mas’ud Jenggot untuk membedakan dengan Mas’ud yang lain], sekarang dia tinggal di Jakarta; – Cak Nurwahid [dulu tinggal di Telogobendung], entah kemudian kemana.

      Jika ayahmu masih ada [semoga], salam dari saya ya.

      Salam

  3. yani santoso Says:

    Akupun dulu juga sering nggoda ahong. Bahkan aku dan kawan-kawanku klo memberi julukan Ahong Riak{maaf) karena Ahong punya kebiasaan jelek seperti itu. dan yg kuingat trade marknya selalu menggunakan kaos putih dan berpiyama motif kain kasur atau celana pendek kain mirip belacu.

    • Saifuddien Sjaaf Says:

      Anda betul sekali. Semenjak saya kecil, A Hong pakaiannya yan seperti itu, baikpagi-siang-maupun malam. Saya tidak pernah melihat dia berpakaian lain, misalnya ketika mau ikut pengantin atau apa. He he Dan karena saya tertarik pada dandanannya itu, ketika saya sedang di Gresik, saya pernah memotretnya secara candid, ketika di asedang berdiri diujung gang. Dan kemudian saya berikan fotonya, kemudian dia meminta kepada keluargaku klise dari foto itu, lalu aku duplikasi, dan aku kirimkan. Ternyata foto hasil jepretanku itu, digunakan keluarganya untuk mengiringi jenazah A Hong ke tempat peristirahatannya yang terkahir.

      Salam

  4. yani santoso Says:

    betul saya anaknya pak Prajit tapi bapak sudah meninggal 5 th yang lalu kebetulan klo pak mas ud sering ke rumah tapi entah sekarang hanya yang saya tahu rumahnya yang di kroman dibongkar…..aku juga nggak sempat beri kabar pak mas ud karena nggak ada alamatnya.sejak tahun 90an bapak aktif jamaah di masjid jamik bersama pak akup smpn 1 dan kebetulan meninggalnya hanya selisih beberapa bulan dng pak akup dan nggak lama pak umayah kauman yg purnawirawan juga menyusul

    • Saifuddien Sjaaf Says:

      Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun. Semoga Allah swt menempatkan arwah mereka di sisi-Nya, Ya, saya mengenal semua mereka, kami memanggilnya Cak Akub [suaminya Yuk Mut kan], dan dengan Cak Chumayah – saya sangat dekat sekali, juga dengan isterinya.

      Kalau alamaynya Pak Moh. Mas’ud, Komplek Dep. Keuangan no. C-31, Kembangan Selatan, jakarta Barat, 11610, dengan no. telpon rumah 021 5801093. Saya sendiri sudah agak lama tidak bertemu dengannya.

      Salam

  5. yani santoso Says:

    terima kasih infonya ……

  6. sas Says:

    terima kasih..saya senang sekali membaca blog bapak..saya masih ingat ahong saat saya masih kecil.saya anak cak rudi toko pantes.pasti ayah saya senang membaca blog ini sambil mengingat masa mudanya dulu.he.he..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: