JIRANKU 02

Kami kemudian pindah ke rumah yang di Garling, yang kami tempati hingga tahun 1980-an. Tidak ingat sama sekali, bagaiamana perjalanan dari Lamongan ke Gresik dilakukan. Disini adik-adikku yang lain di lahirkan. Mulai dari Fitriyati [Mik] pada malam idul Fitri, Nailatul Izzah [Natul], Nur Muharromah [Noengmah pada malam 1 Muharram], dan Yazid Fathoni [Toni]. Kalau tidak salah, kesemuanya dengan bantuan bidan Oemboek [yang rumahnya di samping Gedung Nasional].

Mik adalah yang namanya yang paling pendek, hanya satu kata saja dan berkenaan dengan saat kelahirannya. Begitu juga Noengmah, tetapi masih dua kata. Dan kami semua memiliki nama yang terdiri dari dua kata. Pada waktu lagu Walang Kekek menjadi terkenal dinyanyikan oleh Waljinah [yang konon adalah singkatan dari saat kelahirannya, yaitu SyaWAL, tanggal siJI, anak ke sejiNAH], maka kita nggodain Miek, untung tidak diberi nama Waljipat [SyaWAL, tanggal siJI, anak kaping paPAT]. Yah keempat, karena ada kakakku perempuan yang lahir pada jaman Jepang, yang meninggal sewaktu saya belum lahir, dan konon dimakamkan di Sumursongo [atau Sumursingo]. Kalau Natul, pada waktu itu ada beberapa pilihan nama, entah apa saja, yang digulung seperti kertas nomer arisan, dan kita [saya, Ituk, Lipa] sut yang menang memilih, dan terpilihlah Nailatul Izzah. Banyak orang yang salah mengucap, menjadi Lailatul Izzah karena Nailatul mungkin agak kurang lazim di dengar.

Di rumah ini, di atas pintunya ada papan nama bertuliskan “Garling”, tanpa ada embel-embel lain [apakah toko atau apa], dan kata “Garling” ini menjadi pertanyaan tanpa jawaban pasti hingga kini. Di rumah inilah kami menjalani masa kecil dan masa remaja dengan berbagai aktifitas dan kenangan indah. Dari tulisan bapak, kuketahui bahwa penempatan bapak di rumah ini adalah semacam tukar pakai dengan rumah yang ditinggali di Lamongan, atas perintah pemimpin militer pada waktu itu [Pak Sunarjadi, yang kemudian menjadi PANGDAM BRAWIJAYA setelah pemberontakan G30S-PKI, dan terakhir menjabat Komandan Pusat Persenjataan Infanteri [PPI – PUSENIF]di Bandung].

î

Untuk memberikan gambaran fisik, tempat tinggalku berada di ujung paling kanan dari sederetan rumah toko [yang kemudian lazim disingkat ruko], yang terdiri atas lima dalam suatu kesatuan. Lalu setelah melewati gang, ada rumah besar yang kemudian dijadikan Hotel Bahagia. Mulai paling kiri ada toko PANTES yang kepunyaan wak Wang [Oemarwan Zaiduddin] jualan aneka macam barang, tokonya ibu Haji Abu [Kaji Abu] yang jualan rotan dan agel, tempat praktek dokter Oesman Asnar, toko kain, dan rumah yang kutinggali. Hanya tempat tinggalku dan toko Pantes yang memiliki pintu ke samping ke arah gang. Di seberangnya juga sederetan rumah toko yang serupa tetapi tak sama, yang berturut dari selatan, toko meracangnya Liem Hok Kiet, foto studio Jin Ming yang berbagi dengan Bang Amat yang jualan rotan, wak Samad tukang patri,
A Hong pembuat mebel, dan Jingkang yang meracang. Kesepuluh bangunan ini, semuanya bertingkat.

Sedinding dengan rumahku, yang menghadap ke gang ada sederetan enam kios, yang kalau diurut dari jalan Garling, adalah tukang potong [Yok Oei dan Yok Oe], tukang arloji [orang Sememi], tukang jam [wak Doel], man Dam, dan dua kios dipakai oleh cak Tipun. Di seberang kampung, berdiri kokoh bangunan kantor ANIEM yang sekaligus menjadi tempat tinggal Kepala Kantor-nya. Dan berbatasan dengan dinding tempat tinggalku sampai dinding belakang toko PANTES, adalah sebuah rumah besar milik Nya Besar, yang selain dihuni oleh pemiliknya juga yang dihuni oleh banyak keluarga.

Itu semua tetanggaku yang boleh dibilang berbatasan langsung atau tidak langsung, yang boleh dibilang [menurut istilah aparat keamanan saat ini] adalah pada ring satu.

î

Toko kain yang bersebelahan dengan tempat tinggalku ini dikelola oleh suami isteri China, yang biasa kami panggil Yok De [yang lelaki] dan Nya Ireng [yang perempuan]. Sepertinya mereka tidak punya anak, dan entah pula mereka berdua itu suami isteri atau kakak beradik. Mereka hanya bisa bicara Indonesia atau Jawa mungkin hanya sedikit. Kapan dan dari mana mereka datang, kami tidak tahu. Mungkin juga masih tergolong generasi pertama yang datang ke Jawa, karena masih terlihat totok alias singkek sekali. Nya Ireng sering terdengar ‘ngomel’ sendiri dalam bahasa China yang kami tak mengerti artinya. Kata adik-adikku, lagi makani tikus got.

Walau begitu, nya Ireng ini juga punya rasa humor yang tinggi. Dia sering ngudang adikku yag kembar – Ituk dan Lipa – dengan kata-kata yang khas “Yang satu pupulan, yang satu nggak pupulan”, maksudnya “yang satu pupuran, yang satu nggak pupuran”, maklum sebagaimana lazimnya China lain, dia juga pelat nggak bisa melafalkan “r”. Mereka, seperti keluarga China lainnya waktu itu, pada setiap 1 Oktober ikut mengibarkan dua bendera, satu bendera Republik Rakyat Tjina [RRT], dan satu lagi bendera Merah Putih secara berdampingan. Begitu juga A Hong. Yok De dan Nya Ireng, adalah termasuk Hoakiau yang pulang kembali ke negeri leluhurnya di tahun 50-an. Setelah mereka pulang, rumah itu digunakan untuk gudang/toko nya keluarga H. Amat Tasridjan, yang juga mengelola toko Roso Oetomo.

Suasana di rumah sebelah ini agak lebih menunjukkan kehidupan ketika disewa oleh Cak Aman, pada awal 70-an untuk digunakan usaha foto kopi, foto studio dan penjualan kaset. Cukup berhasil juga pada awalnya, tetapi entah mengapa kemudian tutup juga.

î

Dokter Oesman Asnar adalah termasuk salah seorang dari hanya sedikit orang yang berpendidikan tinggi di Gresik di jaman itu. Dia dari kalangan keluarga Kemasan, tetapi waktu itu tinggalnya sudah di Surabaya. Beliau hanya datang untuk praktek saja, setiap sore. Sebagai penata administrasi, adalah Cak Musa, yang tinggal di Bedilan. Cak Musa ini aktif dalam kepanduan Hizbul Wathan. Dokter Oesman datang setiap sore dengan menggunakan mobil sedan Austin type A-40, berwarna abu-abu. Mungkin ini adalah tempat dokter praktek yang paling lega yang pernah kutemukan. Ruang tunggunya luas, dan begitu juga ruang prakteknya. Kalau kami sakit, tak usah menunggu di ruang tunggu, karena bila urutannya tiba, cak Musa akan memanggilnya ke rumah.

Entah sampai tahun berapa Dokter Oesman praktek di sini. Kemudian digantikan oleh dokter lain, antara lain seorang dokter yang berasal dari Bali, kalau tak salah Dokter Tjokorde Rai.

î

Begitu juga jika mau potong rambut ke Yok Oei, terutama pada waktu puasa tanggal tua. Antriannya cukup panjang, bahkan sampai malam yok Oei harus bekerja keras memangkas rambut para pelanggannya. Juga kami tak pernah antri, hanya bilang kalau mau potong, lalu nanti dipanggil. Begitulah enaknya bertetangga. Yok Oei ini dua bersaudara sama-sama menjadi tukang cukur. Tetapi, Yok Oe yang lebih tua, tidak sesetia Yok Oei dalam menjalani profesinya. Yok Oei ini punya hobbi macam-macam, dan dia memang menekuni hobbinya ini, walau mengikuti selera dan jamannya.

Pada awal-awal tahun 50-an, berburu celeng adalah salah satu hobbinya. Biasanya dia berburu bersama teman-temannya seetnis China. Yang suka berburu bersama dia, antara lain adalah yang tinggal disamping rumah Pak Siswomihadjo di Lodjie. Biasanya mereka berburu di malam hari, ketika celeng-celeng itu keluar untuk mencari makan atau minum. Mereka berburunya di daerah hutan-hutan jati di sekitar Gresik, seperti Panceng dan sekitarnya. Entah sekarang ini, apakah masih ada babi hutan atau celeng di daerah-daerah itu.

Ketika suatu saat musim orang memelihara burung perkutut, diapun banyak memiliki pengetahuan tentang bagaimana memilih burung atau burung muda yang punya potensi untuk menghasilkan suara baik di kemudian hari. Yang diperhatikan antara lain adalah banyaknya guratan sisik kaki sampai ke lutut, dan itu dihitung satu persatu. Banyak penjual burung dan penggemar burung perkutut yang berkumpul di ujung gang itu, sehingga menjadi tempat pertemuan antara penjual dan pembeli, semacam bursa kecil.

Begitu juga, ketika musim orang mengail atau mancing. Yok Oei ini memang suka memancing di laut sejak dulu. Mancingnya sesudah tutup toko. Bukan toko, potong rambutnya. Dia menyimpan banyak lonjoran bambu yang dipakai untuk memancing, yang disebut ‘joran’. Dan konon, ada yang membawa ‘suud’ dan ada yang ‘kurang suud’. Katanya itu ditentukan oleh bentuk dan jumlah ruas bambu yang digunakan untuk joran tersebut. Wa Allahu a’lam. Begitulah kepercayaan mereka. Mereka memancing di brug, atau dengan berperahu ke tengah, atau ke kapal mati [letak kapal yang karam, yang terlihat dari brug].

Yok Oei ini beristerikan seorang pribumi, dan tinggal di rumah di Jalan Pahlawan, dikaruniai beberapa anak ada yang perepuan dan ada yang laki. Anak-anaknya bersekolah di TNH [Taruna Nan Harapan, dulunya Tsin Nin Hui], huruf depannya sama, artinya mana gua tahu. Dan kalau habis sekolah tinggal di rumah pak de / oomnya yang di Lodjie, dan kadang-kadang bermain juga di tempat ayahnya bekerja. Kalau tak salah nama anaknya yang laki-laki Hok Gie dan Hok Pun.

Jika sedang tidak mencukur, biasanya antara jam 1500 1600, Yok Oei sangat rajin untuk mengasah pisau cukurnya, dengan menggunakan batu asah, juga membersihkan peralatan cukurnya, yang berupa beraneka jenis gunting dan penyukur yang kesemuanya masih digerakkan tangan. Dia juga menyediakan kristal tawas berukuran sekitar 5cm x 5cm x 8cm yang digunakan sebagai P3K bila ada yang tergores oleh pisau cukurnya yang selalu terasah. Hampir selalu, dia mengasah sementara pisau cukurnya dengan selembar pita kulit tebal berukuran sekitar 5 cm x 80 cm yang salah satu ujungnya tergantung di tempok.

Kalau sedang motong rambut, Yok Oei ini bukan saja tangannya yang aktif, tetapi juga mulutnya. Dia melakukannya sambil bercerita tentang berbagai hal, sesuai dengan profesi atau hobbi dari orang yang dipotongnya [rambutnya maksudku]. Yok Oei ini setia menjalani profesi sampai di usianya yang senja. Dan bapakku, sampai akhir hayatnya juga selalu setia potong rambut dengan Yok Oei ini. Ketika bapakku sudah kurang kuat bepergian, maka Yok Oei nya yang datang ke tempat tinggal kami di Bedilan [sudah pindah]. Sepeninggal Yok Oei, bangunan itu entah dipakai apa, saya kurang begitu faham. Memang termasuk langka seorang etnis China berprofesi sebagai tukang cukur. Yang paling lazim adalah pedagang, tukang kayu dan tukang gigi.

Satu Tanggapan to “JIRANKU 02”

  1. Yazid Fathoni Says:

    Saya punya kenangan tentang JIRAN sebelah rumah. Saat aku masih tinggal di situ, pengelola Toko sangat gila sekali dengan group musik THE BEATLES setiap hari dia nyetel lagu-lagunya dari pagi hingga sore, sehingga aku sampai hapal seluruh lagunya tapi waktu itu aku tidak bisa menyanyikan karena berbasa inggris ( maklum masih TK ), nama pengelola tokonya Cak Nawir dan Cak Broto.

    Setelah itu JIRAN sebelah ganti pengelola manjadi Toko Persahabatan, ini lebih gila lagi karena berubah jadi Toko Casette. Jadi setiap hari dengar lagi hampir seluruh aliran musik mulai POP sampai Dangdut. Gara-gara bersebelahan dengan toko casette ini, hampir lagu2 yang top saat itu aku bisa nyanyikan semua. Gak nyombong neh ! aku sering uji kemampuan di acara TV “Berpacu Dalam Melodi ” masih sering menang .. he .. he …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: