JIRANKU 01

Manusia diciptakan oleh Allah swt

untuk hidup bersosial, saling mengenal

dan saling tolong menolong.

Hampir tidak ada manusia

yang dapat memenuhi kebutuhan kehidupannya

sendiri, secara individual.

Rasulullah memerintahkan kita untuk

bukan saja mengenal tetangga kita,

tetapi mencintainya pula.

Aku mulai mengenal tetanggaku ketika sudah berada di Lamongan, persisnya di Dapur [bacanya ndapur], atau Lamongrejo, Lamongan. Yaitu ketika bersama keluargaku mengungsi di sana.

Menurut cerita yang kudengar, saya dilahirkan di Kepatihan [mestinya tempat tinggalnya para Patih], di satu rumah berhadapan dengan sekolah Asmaiyah. Rumah ini kemudian, sewaktu saya besar, pernah ditinggali oleh Pak Sunaryo [Kepala Sektor Kepolisian Gresik], setelah beliau tidak lagi menjabat Kapolsek dan bertugas di Surabaya, tetapi tetap tinggal di Gresik.

Setelah Gresik jatuh ketangan Belanda [NICA] sesudah proklamasi kemerdekaan, banyak keluarga pejuang yang mengungsi ke luar kota. Kemudian keluargaku mengungsi ke Bungah [ditepi Bengawan Solo], dan dari sana kemudian ke Lamongan. Konon perjalanan mengungsi itu, dilakukan lewat air, karena hampir semua jalan darat sudah dikuasai Belanda. Sebelum di Dapur, keluarga kami pernah tinggal di Telogoanyar, dan juga menumpang di rumah keluarga Bapak Sanusi yang terletak di pojok selatan-barat Aloon-Aloon Lamongan.

Ibuku, semasa masih belum berkeluarga pernah bertugas untuk mengajar di Lamongan, yaitu sebelum masa pendudukan Jepang. Sehingga ketika mengungsi di sana, sudah tidak asing lagi dan sudah banyak memiliki kenalan atau mantan murid. Orang Lamongan, walaupun yang lebih tua dari ibuku, masih memanggil ibuku dengan sebutan ustadzah, tanpa menyebut namanya. Ingatanku, mulai merekam kejadian-kejadian yang kualami semenjak di Dapur ini, walaupun masih rok-rok asem atau ada yang ingat dan ada yang tidak. Ada yang kemudian menjadi ingat, karena diceritakan kembali oleh nenekku, yang kupanggil ‘mak nduk’ dan kemudian disingkat menjadi ‘mak’ saja, yang diikuti oleh adik-adikku semua.

Tepatnya rumah yang kutinggali adalah milik salah seorang keluarga yang tinggal disitu-situ juga, mungkin kepunyaan haji Syukur, yang bermenantu pak Syukur juga. Ada dua anak lelakinya, yang satu dipanggil dengan Cak Mat dan Cak Yin. Saya lupa mana yang lebih tua dari keduanya. Pernah ketika bermain di sungai kecil yang ada di belakang rumah [inilah yang disebut sebagai Kali Otik] saya tersenggol oleh salah seorang [yang adik] dan terjatuh ke sungai kemudian ditolong oleh yang tua [sang kakak]. Kalau seandainya waktu itu saya kintir, ya anda tidak akan membaca tulisan ini.

Rumah itu berjajar dalam satu halaman besar, kalau tidak salah ada empat rumah. Rumah yang ditinggali haji Syukur, rumah yang ditinggali keluargaku, satu rumah lagi, dan rumahnya haji Salim. Rumah tersebut berseberangan dengan tangsi Polisi, dan di belakangnya, sesudah kali, adalah pabrik penggilingan padi yang pintu gerbangnya ada di sebelah selatan rumah.

Suatu ketika, 30-an tahun berselang, saya bertemu dengan salah seorang cucu dari pak Haji Syukur ini, ketika si anak mendaftar ke PT Rekayasa Industri, dimana saya bertugas untuk menseleksi mereka yang mendaftar. Ketika melihat di dokumen lamaran, bahwa dia dilahirkan dan sekolah di Lamongan, naluriku berupaya untuk menelusuri lebih lanjut dengan pertanyaan tertutup [yang cukup dijawab dengan “ya” atau “tidak” saja]. Dan ternyata secara berturutan, beberapa pertanyaanku langsung dijawab dengan “Ya” olehnya, si pelamar jadi bingung. Tentunya dia berpikir, orang ini siapa dan dapat informasi dari mana tentang dirinya. Saya sering menebak-nebak seperti itu, dan biasanya memang ketemu “ya”. Waktu itu, kutanya apa tinggal di Lamongan kotanya, di Dapur, depan tangsi, keluarga haji Syukur. Dan “ya” semua. Tetapi walau begitu, dia tidak diterima di Rekayasa Industri.

Lamongan pernah mendapat serangan udara dari pihak Belanda, tetapi entah itu kapan. Yang kuingat hanyalah, kami semuanya [ibu-ibu dan anak-anak] bersembunyi dalam suatu ruangan bersama tetangga-tetangga lainnya, dan bila ada suara kapal terbang yang diikuti dengan bunyi tembakan, saya didekap oleh mak. Saya tidak ingat betul [walau dari cerita sesudahnya] apakah Ituk dan Lipa sudah lahir pada waktu itu. Dari cerita mak, yang diceritakan kemudian, saya konon menghabiskan satu toples noga kacang yang baru sehari sebelumnya dibuat oleh mak. Dan setelah serangan reda dan tidak terdengar lagi suara raungan kapal terbang, kami semua keluar dan melihat-lihat. Ditunjukkan oleh seseorang yang tua, bahwa salah satu peluru yang ditembakkan ada di pinggir kali, dekat lumbung padi.

Bapak sendiri lebih sering berada di luar kota, di daerah pedesaan sekitar, bersama para pemuda dan pejuang lainnya, dan hanya sesekali pulang menjenguk keluarga. Di rumah, ada keluarga lelaki yang ikut tinggal, yaitu cak War [Anwar Hudayah, yang kemudian menjadi Kepala Sekolah SD Muhammadiyah di awal 1950-an]. Karena keadaan sangat genting, dan keamanan di Lamongan tidak kondusif, bapak berpura-pura jadi penjual ikan yang menjajakan jualannya untuk sekedar menjenguk dan bertemu dengan keluarga. Sepertinya itu, sudah di tahun 1949, artinya Ituk dan Lipa sudah lahir. Kendaraannya adalah sepeda, yang sampai saat ini kiranya masih tersimpan di rumah Bedilan.

Kelahiran Ituk dan Lipa, diwaktu malam. Saat itu, di kota Lamongan listrik tidak menyala selama 24 jam. Pada jam 00:00 listrik dimatikan. Konon, dari cerita yang kudapat, yang seorang sudah lahir lalu listrik mati dan lahirlah kemudian seorang lagi. Jadi mestinya, dalam KTP tanggalnya harus beda, karena sudah melewati batas tanggal pada jam 00:00 tersebut. Kalau tidak salah ingat, ada keluarga Gresik yang juga ngungsi, yang menemani saat kelahiran Ituk dan Lipa, mungkin bu Zulichah Ghazali [isteri cak Munir, waktu itu]. Bidannya atau dukunnya siapa, tidak pernah diceritakan. Dua bayi mungil yang kembar ini, sering membuat tentara Belanda yang melakukan pemeriksaan [istilah sekarangnya sweeping] konon melupakan tugasnya. Mereka mungkin teringat juga akan anak-anak mereka yang ditinggal di negerinya, lalu ngudang kedua bayi, dan ngeloyor pergi.

Yang paling kuingat dan berkesan, adalah ketika seluruh rumah harus ditutup pintu dan jendelanya, yaitu ketika tentara Belanda yang ada di Lamongan [markasnya ada di dekat pasar Lamongan di rumah besar yang menghadap ke Utara] meninggalkan kota dengan menggunakan truk-truk. Setelah iring-iringan mereka habis, kemudian pintu dan jendela rumah boleh dibuka, dan berbarislah dengan tegap [pakaian seragamnya coklat] dari arah sebelah kiri [arah setasiun] menuju ke arah kanan, ke arah Aloon-Aloon Lamongan. Kami menyambutnya dengan mengibarkan bendera merah putih yang ada. Mungkin itu sudah di awal 1950-an, tentunya setelah perjanjian KMB ditanda-tangani di Den Haag.

Mesin jahit yang ada dirumah waktu itu [dan sampai sekarang mungkin masih berfungsi] pernah ada ular yang melingkar di dalamnya. Katanya, karena ada kain yang bercorak gringsing, yaitu ada kombinasi empat warna yang terdiri atas warna hitam, kuning, merah dan putih. [dan ini pernah terjadi lagi sewaktu di Garling, yaitu di gulungan tikar Bawean]. Wa Allahu a’lam.

Mungkin ketika keadaan sudah aman, kami sekeluarga pernah berkunjung ke Gresik, dengan naik dokar dan bapak mengiringi dengan naik sepeda. Kalau tidak salah ke rumah wak Kan [Marlichan, kakaknya bapak] dimana mbah Janah [Ibunya bapak] tinggal, di Kemuteran. Juga ke yaik Aji – Haji Chasan “pentol”, saudaranya nenekku. Kalau tidak salah disempatkan untuk menjenguk “bayi merah putih”. Sebelum kami kembali ke Gresik, keluarga yang akan menempati rumah di Dapur itu sudah tiba [dari pihak militer] yang memelihara anjing gede, tetapi anjingnya anteng.

î

Satu Tanggapan to “JIRANKU 01”

  1. Yazid Fathoni Says:

    Karena cerita JIRAN di Lamongan, aku gak banyak tahu. Polahe gak ” menangi “.
    Diawal artikel ini ada Pak Sunaryo, dulu sempat tahu orangnya karena aku sering ke Sekolah Asmaiyah. Kalo nggak salah Bu Sunaryo-nya sangat aktif di kegiatan kesenian, dulu sangat terkenal Group Kasidah-nya, bahkan sampai sekarang dia masih aktif sebagai MC di berbagai acara pernikahan dan laris, khususnya apabila temen segenerasinya punya gawe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: