WARUNG DI SEKITARKU

Warung di sekitarku

1950-1980

oleh

Saifuddien Sjaaf Maskoen

Syawwal 1426 H

Kebiasaan masyarakat setempat akan sangat menentukan
kehidupan berbagai sektor informal yang ada di sekitarnya.

Begitu juga warung-warung yang ada di Gresik.

Saya dibesarkan di suatu rumah [kalau sekarang disebut ru-ko, alias rumah toko] yang terletak di sudut suatu blok yang bersinggungan dengan area pemerintahan dan hunian penduduk. Tepatnya di suatu ruas jalan yang hingga saat itu tidak ada papan nama jalannya, tetapi masyarakat menyebutnya dengan jalan Garling. Apa mungkin di ambil dari papan nama yang bertuliskan “Garling”, yang terpasang di atas pintu masuk rumahku, walau saat itu tidak dipakai sebagai toko. Suatu identitas yang diberikan penghuni sebelumnya. Kami mulai tinggal disitu, sepulang dari pengungsian di Lamongan, kira-kira Maret 1950.

Kebutuhan biologis akan makanan dan minuman, tidaklah sepenuhnya dapat dipenuhi di rumah masing-masing keluarga. Sekali-sekali, atau bahkan secara rutin, seseorang membutuhkan jasa warung-warung yang tersebar di hampir seluruh wilayah kota. Masing-masing warung memiliki pelanggan tetap, entah karena pemenuhan kebutuhan rutinnya walau hanya sekedar minum, atau karena memiliki kekhususan dalam jenis makanan dan minumannya, atau karena kekhususan lokasi keberadaannya.

Yuk Sum

Warung yang kukenal sejak kecil, karena terlihat langsung dari pintu rumahku, adalah warungnya yuk Sum, isteri dari man Dam yang bekerja sebagai tukang di usaha mebelnya A Gui. Warung ini diapit oleh Gardu Listrik, Bak Sampah, dan dinding pintu garasinya Toko Suling. Jualannya hanyalah minuman teh, kopi dan es stroop. Kalau musim belewah, ya menunya tambah es blewa, tetapi kalau tidak musim ya hanya es cao [cincau]. Juga kue-kue yang dititipkan oleh pembuat kue di sekitarnya dan nasi campur bungkus yang diantar oleh yu’ Ani.

Tidak ada yang istimewa kecuali mereka yang sebagai pelanggan adalah para pegawai negeri dari instansi Landraat [Pengadilan Negeri], Kejaksaan Negeri, Kawedanan, ANIEM – yang sekarang PLN] dan Kantor Pos yang letaknya memang tak jauh dari situ, dan anak-anak SMP yang pulang sekolah. Rupanya, kala itu di kantor-kantor pemerintah belum disediakan air minum, walau sekedar air tawar. Barangkali, seandainya warung itu masih ada di jaman yang rusak seperti sekarang ini, akan sangat cocok untuk dijadikan tempat jual-beli perkara. Warung itu sendiri kemudian terkena penertiban, dan pindah ke Bedilan Gg VII, di depan tempat tinggalnya.

Es Cao, wak Min

Karena saya bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah Nahdhatul Ulama’ [MINU] Sukodono, sampai kelas 2, maka saya mengenal penjual minuman segar yang penuh dengan soluble fibre ini. Wak Min, berjualan disertai isterinya menjual cao dalam rombong pikulan, tetapi mereka memiliki tempat mangkal yang tetap, yaitu di pojok belakang dindingnya toko rokok Dor-Tar, di jalan samping pasar yang menuju ke Kalitutup. Entah apa istimewanya, cao yang dipadu dengan pemanis gula jawa dan diberi perisa asli nangka bila musimnya, terasa sangat menyegarkan sekali. Bahkan, adakalanya iringan pengantin baru yang sedang diantar ke rumah mempelai puteri, disinggahkan untuk minum caonya wak Min ini. Itu kalau pengantinnya tergolong mbetik, sebagai balasan dari teman-temannya.

Yang jelas, tergolong murah. Sehingga ada pameo, bila ada sesuatu barang atau makanan yang harganya mahal, anak-anak akan mengatakan “Embook, ditukokno caone wak Min, sedadalan” [Hoo, kalau dibelikan caonya wak Min, bisa berenang]. Sedadalan, adalah berenang yang dilakukan di tempat dangkal, sehingga separoh badan telungkuppun tak tenggelam.

Pelanggannya tidaklah tersegmentasi. Mulai dari anak sekolah yang kehausan, tukang becak yang baru narik, ibu-ibu yang habis belanja ke pasar dan sebagainya. Yang menarik, dalam mengisi gelas selalu luber, walau luberannya kembali ke tandon yang terbuat dari kemaron. Dan bongkahan es yang selalu ada dan besar, memastikan suhu air caonya akan menyejukkan kerongkongan kita. Maklum, dia jualan dekat stocker es batu, Wak Uwan – bapaknya ‘War jemblung’.

Wak Min dan isterinya menekuni profesinya dengan tekun, sehingga Allah swt memberikan kemampuan kepadanya sampai bisa melaksanakan ibadah haji dari usahanya yang hanya berjualan cao ini.

Yuk Tuk

Ini warung permanen yang terletak di ujung gang depan Madrasah ku. Saya kurang ingat, apakah ketika saya sekolah disana dulu warung ini sudah ada atau belum. Setelah saya besar, baru tahu keberadaan warung ini. Warung ini memiliki menu yang khas, yaitu terik ayam. Yang lain-lainnya ya biasa saja, ada aneka minuman dan aneka makanan. Pelanggannya adalah masyarakat sekitar, dan yang berkepentingan ke MINU, yang juga kemudian berkembang menjadi SMP-NU dan Muallimat NU dan menjadi pusat kegiatan kaum Nahdhiyyin.

Letaknya agak kurang strategis, karena untuk mencapainya kita harus melewati daerah yang sesak, yaitu bagian Kalitutup yang penuh dengan penjual kelapa dan becek karena buangan air kelapanya. Agak longgar, bila ditempuh dari arah utara, melalui depan Sekolah POEMOESGRI [POEtera MOESlimin GRIssee].

Sego dan Murtabak Tambi

Warung ini, sesuai sebutannya dikelola oleh keluarga asal Tambi [India], letaknya di Kemuteran gang V, dekat dengan pintu tembus dari langgar yang ada di Gang VII. Nenekku, semasa hidup sampai akhir hayatnya dulu tinggal di depan langgar tersebut, bersama dengan keluarga uwakku. Kalau saya pulang sekolah, kadang-kadang tinggal di sana sampai sore hari, menunggu jemputan. Tapi kadang-kadang pulang bersama temanku yang rumahnya di Bandaran, namanya Abdurrahman. Seringkali, saya dibelikan sego Tambi ini, sederhana, enak, sedap dan mestinya murah. Kalau sekarang, dapat disamakan dengan nasi sayurnya warteg [warung Tegal] yang banyak di Jakarta. Ketika saya sudah besar, dan sering nongkrong di Kemuteran Gg IX, tempat kumpulnya anak-anak PII era awal 60-an, nama sego Tambi masih terdengar, tetapi saya tak pernah kesana.

Keluarga ini, di sore hari secara turun temurun berjualan martabak [atau sebagian menyebutnya dengan murtabak] di perempatan depan toko rokoknya pak Chajan [orang tua pak Kamil Chajan –salah seorang ahli hisab di Gresik]. Yang hampir seusia denganku, badannya gemuk hitam – sayang saya lupa namanya. Mungkin Mat. Tetapi kemudian diteruskan oleh adiknya, kalau tak salah panggilannya Nar. Sehingga dikenal dengan martabak Nar. Katanya, yang agak gosong sedikit, itu yang lebih enak.

Ada guyonan, bagaimana keluarga ini sangat mencintai profesinya sebagai penjual martabak, yang dilukiskan dengan anekdot “waktu kapalnya karam, yang diselamatkan dulu adalah wajannya, dan bukannya anaknya”. Apa benar atau tidak, Allah lah yang mengetahui.

Godo tempe Cak Usi

Saya pindah ke Madrasah Ibtidaiyah Nahdhatul Ulama [MINU] Teratee ketika kelas 2, dengan berbagai alasan dan sebab yang saya tak ketahui. Ini merupakan SD-ku yang keempat. Karena itu saya mengenal warung yang terletak di ujung Kampung Bor, yang dibelah oleh saluran air kotor dan merupakan salah satu gang dengan ciri seperti itu di Gresik [yang lainnya ada di Lumpur]. [ternyata setelah aku ingat-ingat lagi, enggak satu satunya. Ada di beberap agang lagi]. Kampung Bor merupakan jalan utamaku pergi dan pulang sekolah, walau banyak jalan pilihan melalui cabang-cabang jalannya, tetapi tetap harus lewat kampung Bor. Cak Usi berjualan mulai siang hari hingga malam. Yang enak dan menjadi sasaran anak-anak sepulang sekolah adalah godo tempe anget dan es campurnya.

Anaknya cak Usi, yang agak pendek tetapi gempal adalah adik kelasku. Setidaknya warung ini masih bertahan hingga saya beranjak dewasa, karena jika saya ke rumah uwakku yang tinggal di Teratee setelah lama dirantau orang, sering disuguhi godo tempe nya cak Usi ini.

Gado-gado nduk Atun

Masyarakat Gresik, terkenal sebagai masyarakat yang kurang memakan sayuran dalam menu makanan pokoknya. Hanya sedikit sayuran yang dikenal dan menjadi menu masakan sehari-harinya. Sumber sayuran, kadangkala diperoleh dari gado-gado dan rujak cingur. Di Gresik, semua gado-gado adalah gado-gado siram, tidak gado-gado ulek seperti yang di Jakarta.

Salah satu warung gado-gado yang sudah ada sejak lama adalah warungnya nduk Atun, yang terletak diperbatasan Kauman dan Bedilan, tetapi berada di wilayah Bedilan. Kalau tidak salah di apit oleh Gedung KODIM yang kemudian jadi Rumah Bupati, dengan rumahnya Mas Mujab [penghulu di Gresik]. Warung ini hanya kukenal selagi saya masih kanak-kanak, sewaktu belum bisa pergi ke warung sendiri atau bersama teman. Yang saya tahu, banyak saudara atau anaknya, yang menjadi pemain utama kesebelasan Jaya [kesebelasannya anak Kauman – walau domisilinya di Bedilan].

Gado-gado wak nDuk

Wak nDuk ini, rumahnya bertetangga dengan uwakku yang di Kauman, persisnya Kaliboto. Suami dan anaknya adalah pelaut, konon pada bagian dapurnya kapal. Salah satu anaknya, cak Rohim, kemudian terkenal sebagai peracik kopi yang handal, yang menjadi andalan para pelembur atau yang sedang mau ujian. Wak nDuk, konon dahulu membuka warung di depan masjid, tetapi kemudian dipindahkan ke bekas Paseban di sisi selatan Aloon-Aloon, dengan pepohonan kersen atau buah seri yang cukup memberikan kerindangan. Area ini sekarang menjadi Puskesmas, setelah rumah sakitnya dipindah ke Bunder.

Kekhasan gado-gado wak nDuk ini, adalah gado-gadonya memakai petis, yang diletakkan dibagian dasar piring atau takir. Baru kemudian ditutupi dengan sayur-sayuran, dan disiram dengan bumbu siramnya. Keunikan lainnya, adalah cara memotong blungko alias kerai [tidak pakai timun], yang dilakukannya secara estetis. Blungko diiris sehingga membentuk spiral, dan langsung membuang bagian yang ada bijinya. Kemudian dipotong melintang, sehingga membentuk spiral-spiral lepas, seperti roll-tart.

Terakhir warungnya pindah ke sisi barat Aloon-aloon, di rumah di ujung jalan masuk ke Kaliboto. Tapi saya sudah tak pernah andok lagi.

Warung Kaji Basuni

Warung ini terletak di sisi kiri jalan masuk ke Bioskop Hartati, biskop terbesar dan mungkin tertua di Gresik. Sebelum ada Bioskop Kencana di perempatan wak Truno, ada juga Biskop Orion, di Jalan Pahlawan. Target pembelinya adalah orang-orang yang akan nonton bioskop barangkali. Dimiliki oleh keluarga Haji Basuni, yang memiliki putra-putri antara lain mBak Mamah [istrinya cak Muhaimin], mBak Dewi, dan Saleh [kipernya SIDOLIG – kesebelasannya arek Makamlondo yang berkostum hitam-hitam]. Seingatku jualannya aneka nasi, diantaranya nasi campur.

Disisi yang menghadap jalan Bedilan, dikelola seperti rumah makan dengan tatanan meja dan kursi, dan disisi jalan masuk ke bioskop ditata seperti warung dengan bangku panjang. Di pojokannya, bila siang hari ‘bojone wak Bawon’ – penjaga bioskop Hartati yang kiyep – berjualan rujak. Kalau beli rujaknya ‘bojone wak Bawon’ saya sering, tetapi andok ke warung ini rasanya tidak pernah. Kayaknya warung ini sudah tidak aktif lagi di tahun 60-an.

Warung 9 [Sembilan]

Kalau saja warung itu masih ada akhir-akhir ini, pasti akan diasosiasikan dengn bintang sembilan, bintangnya PKB dan NU. Jualannya sate kambing, dan tentu saja gule kambing. Letaknya di ujung gang – kali tutup juga, tetapi di depan pintu gerbang Pasar Gresik. Sudah ada di awal 50-an, tetapi kemudian tidak sampai tahun 60-an sudah beralih fungsi. Entah pemilik dan pengelolanya siapa. Tetapi, gang itu masih sering dikenali sebagai gangnya warung sembilan.

Warung Asih

Warung ini berjualan sate kambing dan gule, sejaman atau setelah memudarnya Warung Sembilan. Letaknya, di kuadran ke-empat perapatan wak Truno, yang juga merupakan tepian stanplat bus pada saat itu. Bis yang berhenti disini, adalah bis-bis jurusan Surabaya-Lamongan dan Surabaya – Sembayat. Ada bis Moedah, ada bis TAN yang menjalani trayek pertama, sedangkan trayek ke dua hanya dijalani oleh Bis Moedah yang home-basenya ada di Belandongan, karena milik beberapa orang pengusaha Gresik, antara lain Haji Arifin, Haji Mochtar, dan haji Achwan [cak Wan].

Warung Asih ini masih bertahan hingga tahun 60-an, dan disampingnya juga ada warung/rumah makan masakan China. Saya tak tahu, apa jualannya, mungkin ya mie dan bihun serta cap cay atau yang sejenisnya. Yang kuingat hanyalah papan namanya yang berwarna apa lagi, kalau bukan tulisan kuning atas dasar merah.

Warung Sego Rawon + Bali Bandeng.

Tak tahu nama warungnya dan siapa pengelolanya. Yang pasti warung ini ramai sekali di pagi hari. Letaknya di kuadran kesatu dari perempatan wak Truno, berada disisi timur jalan, bersebelahan dengan pintu samping barat Pasar Gresik [lawang kulon]. Nasi rawon dengan kombinasi bali bandeng, dan sambel terasi merupakan perpaduan yang khas dan nikmat. Nasi rawon Gresik, tidaklah mengenal kecambah atau taoge pendek sebagai pelengkap. Kerupuk udang, adalah counterpart yang pasti. Bahkan kerupuk yang biasanya ukuran lebar, selebar piringan hitam 45rpm, yang kemudian dipecahkan di atas meja dan diambil satu persatu serpihannya, yang kadang difungsikan sebagai gantinya garpu.

Warung ini terlihat masih ada sampai tahun 60-an atau 70-an, tetapi memang diluar wilayah jangkauanku.

Warung Kopi di Pasar Gresik.

Lain halnya dengan eastern-wing dari pasar Gresik yang dipagari dengan kawat harmonika, dan menjadi brak-nya dokar; western-wing-nya tidaklah dipagari dan menjadi stanplat-nya taksi [kendaraan roda empat] jurusan Gresik – Surabaya, Gresik – Sembayat, dan Gresik – Cermee. Di western-wing, berjajar warung-warung kopi – yang tidak saja berjualan kopi tentunya. Salah satunya yang cukup beken, kalau tak salah adalah warung kopinya cak Akub [maaf kalau salah].

Yang kudengar, di warung-warung ini [dan juga berbagai warung yang lain] dijual jamu majun, ramuan berbasis timur-tengah yang konon sangat menyehatkan badan, yang dibungkus dengan kertas minyak berwarna merah, hijau, kuning dan putih. Konsumennya adalah para lelaki – baik yang masih perjaka, apalagi yang sudah berkeluarga – yang membutuhkan banyak tenaga dalam mencari nafkah, antara lain dalam menggenjot mesin jahit.

Mesin jahit sangatlah diperlukan dalam menjalankan berbagai kegiatan produksi di Gresik, antara lain bos-bosan [bukan dari kosa kata boss], dan ngerakit. Saat itu mesin jahit masih harus digenjot dengan kaki, karena penggunaan dinamo [motor listrik] masih belum populer karena berbagai keterbatasan. Selain itu, mesin jahit juga digunakan untuk membordir dan menjahit pakaian konpeksi, tetapi umumnya adalah para gadis dan ibu-ibu – sehingga tidak menjadi pelanggan warung-warung dan tidak memerlukan jamu majun.

Warung-warung ini, sudah mulai buka di pagi hari sekali, ketika orang-orang baru turun dari masjid atau langgar seusai menunaikan shalat shubuh, dan baru tutup ketika orang-orang selesai lembur [karena masih ada yang mau minum. atau makan kue setelah lembur]. Konsumen lainnya adalah para musafir yang bepergian antar kota, dan memerlukan pengisian bahan bakar non BBM bagi dirinya.

Warung malam hari

Jika matahari sudah menjelang kembali keperaduannya, eastern wing sudah mulai sepi dari kuda-kuda, maka bermunculanlah warung-warung kaki lima, yang berjualan minuman dan makanan. Kita bisa menemukan penjual es, teh, kopi dan lain serta aneka jajanan; dan juga makanan yang bisa mengenyangkan seperti nasi goreng, mie goreng dan rebus, bihun goreng dan rebus dalam satu angkringan, tahu campur yang pakai kuah, dan tahu petis atau tahu gunting.

Mereka punya pelangganan sendiri-sendiri, tidak saling berebut. Pelanggannya sangat beragam, terutama mereka yang akan mempersiapkan diri untuk lembur. Ramainya warung-warung ini, bisa dijadikan sebagai indikator tingkat ramai dan sepinya kegiatan industri rumah dan perdagangan di Gresik. Kebiasaan untuk jalan-jalan setelah shalat maghrib di langgar [bukan dilanggar], sekali gus makan malam, lalu kembali shalat isya’ dan melembur, sangat mendukung kelangsungan warung-warung ini.

Warung-warung ini ‘terang benderang’, dengan pelanggan yang datang dari Kauman, Bedilan, Pekelingan, Belandongan, dan tentu saja Karangpoh, Teratee dan Sukodono serta Kroman yang jaraknya lebih dekat.

Wak Majid dan cak Nan

Hampir saja lupa, padahal tempatnya tidak jauh dari rumah saya. Kedua warung ini berjaya di tahun 50-an, dan kemudian tutup di akhir 50-an. Kecuali wak Majid, yang mencoba buka lagi diawal 60-an, tetapi kemudian tutup lagi. Kedua warung ini, tidaklah berjauhan letaknya. Berada di kelurahan Kebungson, pada sisi timur jalan Pekelingan, dekat dan berhadapan dengan pesarean Yai Ageng Arem-Arem [yang konon adalah sang nakhoda kapal milik juragan Nyai Ageng Pinatih] yang menemukan bayi – yang kemudian diberi nama Raden Paku, alias Ainul Jaqien, yang kemudian lebih termasyhur sebagai Sunan Giri.

Sebenarnya pengelola warung wak Majid, adalah isterinya [kalau tak salah nDuk Odah], sedangkan wak Majid nya adalah pelaut. Ketika membuka kembali warungnya, wak Majid sudah turun ke darat, tidak lagi layar [sebutan pekerjaan bagi pelaut]. Ada pula orang layaran yang kemudian tidak pulang-pulang, sehingga ada guyonan “kalau dapat suami orang layaran, hati-hati ‘la yarji’uun’, yang artinya tidak kembali”.

Ketika bekas kantor Masjumi dan GPII menjadi kosong [karena keduanya membubarkan diri atas tekanan pemerintahan Soekarno, dan bukannya dibubarkan sebagaimana yang sering diberitakan media massa] lalu dipakai oleh anak-anak PII – Pelajar Islam Indonesia – untuk berkantor dan berkumpul, maka saya dan banyak teman-temanku jadi sering ke warungnya wak Majid periode kedua, karena letaknya berhadapan.

Cak Nan ini punya anak yang namanya Sja’roni. Konon dialah yang menjadi penyebab kejadian perusakan rumah – yang sekaligus gudang beras dan palawija – milik Poo Joo Tjauw atau PJT sebagaimana tulisan yang ada di prahoto [vracht-auto alias truk] miliknya. Penyebabnya, konon Joni ini melempar mercon ke arah keluarga tersebut, dan keluarga PJT marah. Tetapi kemarahan ini malah menyulut kemarahan warga sekitar. Kejadian ini merupakan ‘kerusuhan’ pertama di Gresik yang cukup spektakuler. Sehingga didatangkan pasukan Mobile Brigade [sekarang Brigade Mobil – Brimob] dari Surabaya. Dan semenjak itu, di Gresik ditempatkan polisi Perintis – walau hanya beberapa orang – sebagai kelengkapan aparat kepolisian. Untungnya jaman itu belum ada provokator, sehingga perusakan tidak dilanjutkan dengan pembakaran atau dirembetkan ke kediaman warga etnis Tionghoa yang lain.

Sekitar Perempatan Bata

Perempatan dimana ada toko sepatu Bata, yang sering juga disebut Garling – merupakan titik temu dari berbagai komunitas yang umumnya tinggal di Pekelingan dan Kebungson, baik sesudah matahari terbit atau menjelang matahari terbenam atau sesudahnya. Walau juga berbatasan dengan Bedilan, boleh dikata jarang orang Bedilan yang bertandang kesana. Dimana ada orang berkumpul, disitu akan ada warung atau sebaliknya. Dan toko sepatu Bata, yang dikelola oleh keluarga Haji Jalali, karena yang jaga anak muda sebaya dengan kita [Machsun dan Sapari], maka jadi tempat rendevous yang favorit.

Yang menempati ongkek ini, selalu silih berganti, tergantung jam berapa kita berada disitu. Bagi orang Kabungson, bila memerlukan tanda tangan petingginya [wak Kadri – orangtua cak Mang Kadri yang pintar bahasa Inggris dan mahir memainkan berbagai alat musik sekali gus] cukup hanya menunggu di ongkek ini, dengan membawa surat yang perlu di stempel dan di tandatangani. Karena wak Kadri selalu bisa ditemui disitu pagi hari, dan sudah membawa stempel kelurahan dalam sakunya. Tetapi, tanpa bantalan [stempelkussen]. Cukup diababi saja.

Di sekitarnya tentu saja banyak warung yang silih berganti berjualan. Salah satu yang bertahan hingga kini, walau sempat pindah-pindah, adalah warungnya yuk Yam, yang jualan sate kambing, gule, dan gorengan jerohan serta krawu [yang sering disalah tafsirkan oleh orang non-Gresik]. Pernah bergeser ke arah timur, di depan Penginapan Bawean [pak Samri] dan sekarang di jalan H. Samanhudi.

Adalagi, warungnya cak Toha, yang berupa kaki lima di ujung kampung Debekso [Sidopekso]. Makanan khasnya, adalah ketan dengan lauk goreng babad-usus atau bali welut, serta minum wedang jahe anget. Yang teman-teman tidak lupa, adalah bila kita makan dan minum secara standard, maka habisnya adalah Rp. 24,– [patlikur]. Dan untuk mempermudah pengembalian yang serupiah ini, pelanggannya yang bernama Nashief – yang waktu itu sudah bekerja di GKBI Surabaya – menyediakan satu gebok lembaran uang satu rupiahan baru, dan selalu memasoknya lagi jika sudah habis. Hubungan timbal balik antara penyedia jasa dan pelanggan.

Warung Hidayah

Warung ini menempati ruko dua tingkat yang dibagian atasnya dulu digunakan oleh Jin Ming [ejaan lama, membacanya Yin Ming] mengelola studio fotonya. Waktu itu, bagian bawahnya dipakai oleh Bang Amat untuk berjulan penjalin [rotan], seperti halnya wak Kaji Abu [ibu Haji Abu] yang tokonya hampir berhadapan dengannya. Pengelolanya masih keluarga bang Amat, yang kalau tidak salah keturunan Banjar. Yang aktif adalah isterinya, yang bernama Mbak En. Warung ini menyediakan aneka nasi, ada nasi rawon, nasi sop, nasi gule, dan tentunya nasi campur. Yang saya rasakan khas, adalah nasi sopnya, yang terasa aroma pala dan kayu manisnya.

Warung ini mulai ada di akhir 60-an atau awal 70-an mungkin, dan masih terus buka hingga sekarang. Dengan semakin tingginya mobilitas orang, dan semakin banyaknya kantor di sekitar Aloon-aloon, maka pelanggannya tidak saja orang kantoran yang di Lojie tapi juga yang di Aloon-aloon, atau orang yang bekerja di Pelabuhan.

Warung-warung di Pelabuhan.

Sebagai suatu pusat ekonomi, yang mengalami pasang surut dan juga terpangrauh oleh musim barat atau timur, kita banyak menemukan warung-warung di sekitar pelabuhan atau orang Gresik menyebutnya brugg [yang berasal dari kosa kata bahasa Belanda yang artinya jembatan atau dermaga]. Ada warung nasinya pak Sumo [orang tuanya Tajab dan Tawi] di Bandaran, ada pula kemudian warung nasi ayam di pagi hari yang dikenal sebagai ‘sego brug’. Sego brug ini yang jual buk, nasinya banyak, bumbunya sedep semacam gule / kare dengan sambel terasi yang pedas.

Warung minum yang jual kue dan es sirop, teh dan kopi juga banyak terdapat disini. Ada yang agak besar dan bersih, yang dikelola oleh remaja asal Dukun, letaknya di bangunan permanen yang berada di sisi utara menuju pelabuhan. Sederetan dengan toko miliknya Kho Ping Hoo [ayahnya Kho Giok Ien, yang kalau tak salah kemudian jadi isterinya Amien anaknya Haji Adnan, yang aanemer bangunan]

Di perempatan menuju pelabuhan ini – berseberangan dengan pompa bensin – ada penjual nasi goreng dkk dan tahu gunting yang cukup enak. Penjual tahu guntingnya namanya wak Di. Tetapi penjual nasi gorengnya saya tidak tahu. Dia baru ada disitu ketika malam hari. Karena menjelang maghrib, wak Di masih dalam perjalanan di depan rumahku. Kalau perlu minum, disuplai oleh warung minum yang dikelola oleh orang tuanya Rekan [teman sekolahku di MINU Sukodono, dan bermain di Lojie].

Warung di sekitar Aloon-aloon.

Kita tadi sudah menceritakan warung gado-gadonya wak nDuk. Hampir saja lupa, kalau disebelahnya ada warung sangat khas dan terkenal. Warung ubus-nya cak Mansur. Usaha ini sudah dikelola semenjak ayahnya, [sayang lupa namanya] dan diteruskan oleh cak Mansur ini. Warung ini adalah warung spesialis, sehingga pelanggannya juga ya khas. Dia hanya menjual ubus yang disiram dengan gule daging sapi, dan minuman es temulawak [kuning]. Bagi pembaca yang bukan asli Gresik, dan belum mengetahui apa itu ubus atau obos, sila membayangkan.

Bayangkan selembar kertas berukuran A-4, yang kira-kira sedikit lebih tebal dari kertas ukuran 80 gram, tetapi masih lebih tipis dari ukuran 120 gram. Warnanya kuning keemasan, sebagai hasil pembakaran [atau pengopenan]. Ubus berbahan baku tepung terigu, dengan tambahan bumbu seperti garam, dan lainnya, yang kemudian digilas hingga mencapai ketebalan tertentu lalu dibakar. Dia kemudian diremukkan [tetapi tidak sampai remuk redam], dituangkan ke piring atau mangkok, lalu disiram dengan gule daging. Perlu agak banyak kuahnya dan anget lagi, karena ubusnya akan menyerap air, menjadi lembek baru dimakan.

Bisa diperkirakan ini adalah adaptasi dari masakan India atau Arab, tetapi konon hanya tersisa di Gresik saja. Bagi perantau, bisa membeli ubus [tanpa lauk] di Toko Putih [tokonya cak Muan AS / mBak Sande] dan membuat gulenya sendiri di tempat perantauannya.

Warung cak Mansur ini, juga ikut pindah ketika warungnya wak nDuk pindah. Cak Mansur memilih pindah ke sebuah rumah di Telogobendung [jalan MH Thamrin]. Dalam rangkaian kepindahan ini, juga ikut pindah warung yang disebelahnya, yaitu coto kikil cak Pakeh.

Coto kikil, memang merupakan salah satu makanan favorit banyak orang di Gresik, yang selain cak Pakeh, juga ada cak War [yang ider] dan Manjung – yang baru belakangan berjualan di Karangturi. Cak Pakeh kemudian pindah ke jalan Raden Santri, di dekat Bedilan Gang V. Yang menggemaskan dari cak Pakeh ini adalah ulahnya membuat orang penasaran, karena tidak memiliki jadwal buka tutup yang jelas. Jika kita sudah berangan-angan untuk membeli sotonya sore nanti, ee ketika kita kesana ternyata tutup. Entah apa itu merupakan suatu taktik, atau ada urusan lain yang kita tidak mengetahuinya.

Seperti biasanya, suatu warung yang mengandalkan hanya pada satu resep yang istimewa, ketika pemegang resep meninggal dunia maka ketenarannya akan memudar. Begitu juga warungnya cak Pakeh ini, walau yang kemudian menggantikan adalah istri dan anaknya sendiri.

Sesudah warung-warung yang di sisi selatan ini hijrah, pemerintah kota menyediakan lahan untuk beberapa warung di sisi timur, sederetan dengan sumur bor, tetapi saya tak begitu tahu, siapa yang jual dan apa yang dijual. Sepertinya biasa-biasa saja.

Gado-gado Malik Ibrahim

Di depan mushollahnya Yek Husen [ustadz di Kampung Arab, orang tuanya Nawal dan Salwa] ada warung gado-gado yang lumayan, kalau tidak salah sayurnya didominasi oleh taoge. Walau letaknya di Kampung Arab, tetapi yang jualan orang jawa. Tidak terlalu ngetop, tetapi bisa dijadikan alternatif pilihan untuk memperoleh sumber sayuran bagi asupan makanan kita. Ada lagi gado-gado di Tubanan, di sisi lain dari perumahan semen. Ini hanya sempat ramai di sekitar pertengahan 70-an saja. Mungkin karena orang Gresik kurang suka sayur. Sukanya, hanya daging dan ikan saja. Ada ungkapan, yang dijadikan landasan pemikiran mereka yang kurang suka sayur, yaitu “biarkan kambing makan sayurnya, kita makan kambingnya saja”.

Di akhir 70-an, di depan makam Syeh Maulana Malik Ibrahim, ada yang buka warung, khusus untuk menu a’la timur tengah, sesuai dengan lokasinya. Ada nasi kebuli, nasi tomat, nasi beriyani dan tentunya krengsengan dan gule. Bagi yang masih yakin bahwa dirinya kadar kholesterol dan tekanan darahnya masih dibawah normal, atau terlalu rendah dan perlu ditingkatkan, disinilah tempatnya. Dan sampai sekarang masih buka. Gule untuk ubusnya, agak beda dengan cak Mansur, karena agak kental.

Warung Kopi Cak Wan [?] dan Cak Tar

Di ujung kampung Karangpoh yang menuju ke Sumur Bor [mungkin Karangpoh Gg I] ada warung yang stabil [tidak berkembang dan tidak menyusut], kalau tak salah pengelolanya cak Wan. Saya sih hanya melihatnya saja setiap lewat. Kalau di kampung seberangnya [Kampung Pasar Sore, di tepi sumur] ada warungnya cak Tar [yang punya anak bernama Badjuri, teman sekolahku di SD dulu]. Di warung cak Tar ini, yang enak adalah ketan godo tempe nya, dan teman-temanku suka menggoda cak Tar agar memberikan komentar mengenai sesuatu hal. Yang kuingat, dia mengucapkan ‘diprotes’ dengan ‘diportes’, sehingga membuat anak-anak bersemangat untuk melanjutkan pembicaraan dengannya.

Hampir saja lupa, sebelum warungnya cak Tar, dulu ada tukang potong rambut yang berdampingan dengan penjual rujak cingur yang ngetop, bukan saja karena rasa rujaknya melainkan juga karena postur tubuh penjualnya. Namanya bek Tengen. Mungkin lebih besar dari Tika-nya Extravagnza, atau dari Huges.

Bandeng bakar

Semenjak 70-an warung pak Elan ini sudah ada, dalam bentuknya yang masih sederhana. Selain bandeng bakar dan bandeng goreng, tentu saja teman minumnya yang khas, yaitu legen wadah bethek [bonjor cilik]. Warung ini, kemudian berkembang pesat dalam menarik para pembeli dari luar kota.

Disampingnya, juga ada warung taman, dimana kita makannya di meja kursi dibawah kerindangan pohon. Jualannya es dan gado-gado.

Warung Kopi cak Rohim.

Boleh percaya boleh tidak, konon kopi racikan cak Rohim ini sangat ampuh untuk menahan kantuk, sehingga banyak dikonsumsi oleh mereka yang mau mulai kerja di pagi hari, atau malam hari menjelang kerja lembur. Murid-murid sekolah dan mahasiswa yang belajar mau ujian, terutama yang menganut asas SKS – sistem kebut semalam – banyak yang menggunakan produk cak Rohim ini. Konon, racikannya diperoleh sebagai pengalamannya dalam bertugas di dapur kapal, selama masih menjadi pelayar. Bapaknya [wak Kayat], kakaknya [Kasiyo ?] juga pelayar.

Kalau mau merasakan kopinya cak Rohim, harus rela menunggu giliran tempat duduk yang selalu penuh. Bahkan banyak penikmat kopinya yang duduk di baduk-baduk tetangganya. Dan tentu ada tetangganya yang kurang suka, kemudian melarang pelanggan cak Rohim untuk duduk di baduk-nya. Karena ada yang tidak menurut maka yang empunya menggunakan taktik membasahi lantainya dengan selalu menyiramkan air. Termasuk bagian dari upaya menghindari konflik.

Kopi cak Rohim ini, digoreng sendiri, dan dideplok sendiri. Deplokan-nya agak kasar, sehingga akan banyak menimbulkan lethek. Justru lethek-nya ini memiliki daya tarik sendiri. Banyak perokok, yang meyakini dengan mengoleskan lethek-nya kopi ini, akan meningkatkan kenikmatan dalam merokok.

Tidak semua orang boleh membelinya dalam keadaan belum diseduh. Saya pernah memperoleh bubuk kopinya cak Rohim, atas jasa baik sepupuku yang juga adik iparku yang semula bertetangga dengan cak Rohim. Saya waktu itu sedang bertugas keliling untuk presentasi ke seluruh cabang tempat saya bekerja, dan banyak presentasinya yang dilakukan siang dan malam. Yah lumayan juga, tapi juga tidurku tetap pulas. Mungkin kalau tidak pakai doping kopinya cak Rohim, sudah teler sebelum maghrib.

Pasang surut warung.

Ibarat sebuah roda yang berputar, begitu pula warung-warung yang ada akan mengalami pasang surutnya. Hanya ada yang cepat, ada pula yang agak lama, naik maupun turunnya. Budaya masyarakat Gresik, cukup mendukung keberadaan warung-warung [dan juga penjaja makanan lainnya] tersebut, selama struktur kependudukannya masih tetap berbasis pengrajin, dan lebih efisien untuk membeli makanan dari pada harus memasak sendiri.

Bisa saja berubah, dan perubahan itu sepertinya sedang berlangsung. Warung lama menghilang, dan muncul warung baru.

Tidak semua warung dapat disebutkan, tentunya hanya sebatas yang disekitarku.

î

Tambahan dari Yazid Fathoni , 12 November 2005

WARUNG

Cak Kan dan Cak Put

Kalau menyebut warung Cak kan harus menyebut Cak Put juga karena dua orang ini bersinergi secara “simbiosis mutualisma”, Cak kan hanya jualan makanan saja sedang Cak put menyediakan minumannya. Dahulu lokasinya di depan tokonya Yok Beng dekat Toko Bata, lalu pindah ke GKB dan terakhir menetap hingga kini di BP Kulon.Warung Cak Kan ini menyediakan Nasi Goreng, Mie Kuah/Goreng dan Bihun Kuah/Goreng, Krengsengan Ayam dan Soto Ayam, adapun kelebihannya adalah semua bumbu betu-betul “Asli” memakai pewarna alami ( back to nature ) serta ayamnya adalah asli ayam kampung.

Sedang Cak Put, menyediakan minuman khasnya yaitu Temulawak ” Cap Garuda ” yang sangat kesohor itu, minuman Teh dan Kopi, juga ada Godo Gedang, Godo Tape. Kalau Cap Put tidak buka, jangan coba-coba ” andok ” di warungnya Cak Kan, jawabannya tahu sendiri dijamin pasti ” kesereten ” karena tidak disediakan minuman, jadi harus dibungkus dan makan di rumah.

Wak Di

Lokasinya berseberangan dengan pintu gerbang makam Tlogopojok, jadi dapat dipastikan kalao orang Gresik usai melayat, pulangnya hampir pasti ” Andok ” dulu di warung Wak Di ini. Warung ini sangat terkenal dengan Nasi Campur dan Nasi Rawonnya serta menu pengiringnya yaitu Tempe Goreng ( tebal sekali ) dan Kerupuk Mie yang berwarna kuning mencolok. Warung ini hingga sekarang masih ramai dikunjungi orang, jadi jangan coba-coba sarapan pagi hari jam berangkat kerja karyawan Petrokimia karena bisa antri sampai lama. Sampai-sampai disamping kiri-kanannya ada warung jualan Soto dan Pecel untuk menyediakan orang yang nggak sabar antri di warungnya Wak Di.

Sebelum pindah ke tempatnya yang sekarang, wak Di ini jualannya di bawah pohon ase, di daerah Lojie sana.

î

Satu Tanggapan to “WARUNG DI SEKITARKU”

  1. andra Says:

    saya sgt suka sekali dg warung wak di, dari dulu sampai skrg rasanya tidak berubah meskipun sekarang banyak warung berdiri tapi rawon pak di tetap ramai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: